alexametrics

Indikasi Jual Beli Jabatan Dalami, 3 Rektor UIN-IAIN Diperiksa KPK

18 Juni 2019, 17:26:20 WIB

JawaPos.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengembangkan pengusutan kasus dugaan jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag). Kali ini lembaga antirasuah itu mendalami indikasi praktik suap dalam pengisian jabatan rektor perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN).

Kemarin (17/6) sejumlah akademisi yang pernah masuk daftar calon rektor diperiksa untuk tersangka Romahurmuziy alias Romy. Total tujuh akademisi PTKIN yang dipanggil. Tiga di antaranya berasal dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Mereka adalah Masdar Hilmy (rektor) serta dua guru besar, yakni Ali Mudlofir dan Akh. Muzakki. Kemudian, dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, ada Syarif (rektor), Hermansyah (wakil rektor), dan Wajidi Sayadi (dosen), serta dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh ada Rektor Warul Walidin.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, para akademisi yang dipanggil tersebut sebelumnya pernah menjadi calon rektor di beberapa kampus di bawah naungan Kemenag. Dua di antaranya dinyatakan lolos dan dilantik Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada Juni 2018, yakni Masdar Hilmy dan Syarif.

Menurut Febri, KPK saat ini mendalami pengetahuan para saksi dalam proses seleksi pengisian jabatan rektor PTKIN yang dilakukan komisi seleksi (komsel) di bawah Kemenag. Mulai proses pendaftaran hingga tahapan-tahapan lain. “Kami mengklarifikasi seberapa jauh saksi mengetahui ada atau tidaknya peran tersangka RMY (Romy) dalam proses seleksi tersebut,” jelas dia.

KPK bakal kembali memeriksa para akademisi PTKIN yang mengikuti proses seleksi calon rektor. Mereka diperiksa pekan ini.

Sementara itu, setelah diperiksa KPK, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Masdar Hilmy mengaku tidak tahu-menahu soal peran Romy dalam pengisian jabatan rektor. Menurut dia, seleksi rektor yang diikutinya dilakukan sesuai prosedur. Tanpa campur tangan Romy yang kala itu menjabat ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). “Yang jelas, semua melalui komsel. Saya tidak tahu seberapa jauh peran Romy dalam pemilihan rektor,” ujarnya.

Masdar menegaskan tidak memberikan uang sepeser pun yang berkaitan dengan pemilihan rektor tersebut. “Tidak ada sama sekali,” ungkapnya.

Rektor IAIN Pontianak Syarif juga mengaku tidak pernah dimintai uang yang terkait dengan seleksi rektor. Namun, dia mengaku sempat mendapat SMS bodong saat proses seleksi bergulir pada 2018.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (tyo/c9/fal)