JawaPos Radar

Hati-hati, Perempuan Dijadikan 'Alat' Teror Lantaran Faktor Ini

18/05/2018, 04:31 WIB | Editor: Imam Solehudin
Bom Surabaya
Aksi pengeboman di Surabaya adalah kasus pertama dimana pelaku perempuan berhasil melakukan aksi bunuh diri. (Dok.JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Rentetan teror bom yang terjadi belakangan ini, merenggut puluhan korban. Rinciannya 18 orang tewas dan 40 orang luka.

Korbannya mencakup aparat keamanan/polisi, pelaku, dan warga sipil termasuk perempuan hingga anak-anak.

Bahkan, serangan bom bunuh diri dilakukan oleh setidaknya tiga keluarga, dimana perempuan terlibat menjadi pelaku dan melibatkan anak-anak.

Komisioner Komnas Perempuan, Adriana Venny mengatakan, aksi pengeboman di Surabaya adalah kasus pertama dimana pelaku perempuan berhasil melakukan aksi bunuh diri.

Meskipun tidak sendiri tapi bersama dengan keluarganya.

"Terlepas bahwa ada kerelaan karena dorongan keyakinan, namun keterlibatan mereka tidak bisa dilepaskan dari relasi dan hirarki gender yang timpang," kata dia lewat siaran persnya, Kamis (17/5).

Komnas Perempuan mengkhawatirkan tren perekrutan perempuan menjadi pelaku bom ini, karena asumsi perempuan berpotensi lebih militan.

"Mereka dipilih karena tidak mudah dicurigai. Kaum perempuan juga punya diyakini lebih bisa mentransmisikan ideologi radikal dan mempersiapkan anak-anak menjadi martir," jelas dia.

Dalam program tinjau ulang di wilayah-wilayah post konflik di Indonesia untuk konteks 20 tahun reformasi, konflik yang berkekerasan mewariskan dan mengajari budaya kekerasan pada bangsa kita.

"Penyelesaian konflik yang tidak tuntas, para pelaku yang impun, tidak adanya pemulihan bagi para korban konflik, ternyata menjadi ladang subur tumbuhnya paham-paham radikalisme," terang Adriana.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up