alexametrics

KPK Sita 18 Dokumen Terkait Rapat yang Dihadiri Politikus Golkar Bowo Sidik

16 Mei 2019, 16:58:59 WIB

JawaPos.com – Sekertaris Jenderal (Sekjen DPR) Indra Iskandar ditelisik soal kapasitas Bowo Sidik Pangarso ketika duduk di Komisi VI DPR RI. Indra mengaku, Bowo sempat memimpin rapat bersama dengan sejumlah BUMN.

“Beberapa risalah rapat yang dipimpin oleh pak Bowo dan dihadiri oleh pak Bowo, tidak sebagai pimpinan Komisi VI juga diminta,” kata Indra usai diperiksa penyidik KPK di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (16/5).

Selain ditelisik soal sejumlah rapat yang pernah dihadiri Bowo di gedung parlemen. Indra mengaku dirinya pun menyerahkan sejumlah dokumen hasil rapat yang pernah dipimpin politikus Partai Golkar tersebut.

“Disita oleh KPK, keseluruhannya ada 18 dokumen,” ucap Indra.

Indra mengaku, dokumen yang disita oleh penyidik antirasuah tersebut di antaranya sejak 2014. Dimana Bowo baru duduk sebagai anggota parlemen daerah pemilihan Jawa Tengah.

“Sepanjang 2014 sampai dengan saat ini, yang dihadiri beliau baik sebagai anggota di komisi maupun pimpinan di Komisi VI waktu itu,” jelas Indra.

Selain Bowo, KPK juga telah menetapkan dua tersangka lainnya, Indung (IND) dari unsur swasta dan Marketing Manager PT HTK Asty Winasti (AWI). Diduga sebagai penerima adalah Bowo Sidik Pangarso dan Indung. Sedangkan diduga sebagai pemberi, yaitu Asty Winasti.

Dalam perkara ini, pada awalnya perjanjian kerja sama penyewaan kapal PT HTK sudah dihentikan. Terdapat upaya agar kapal-kapal PT HTK dapat digunakan kembali untuk kepentingan distribusi pupuk PT Pupuk Indonesia. Untuk merealisasikan hal tersebut, pihak PT HTK meminta bantuan kepada Bowo Sidik Pangarso.

Kemudian, pada 26 Februari 2019 dllakukan nota kesapahaman (MoU) antara PT PILOG (Pupuk lndonesia Logistik) dengan PT HTK. Salah satu materi MoU tersebut adalah pengangkutan kapal milik PT HTK yang digunakan oleh PT Pupuk Indonesia.

Bowo diduga meminta fee kepada PT HTK atas biaya angkut yang diterima sejumlah 2 dolar AS per metric ton. Diduga sebelumnya telah terjadi enam kali penerimaan di berbagai tempat seperti rumah sakit, hotel, dan kantor PT HTK sejumlah Rp221 juta dan USD 85.130.

Uang yang diterima tersebut diduga telah diubah menjadi pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu sebagaimana ditemukan tim KPK dalam amplop-amplop di sebuah kantor di Jakarta. KPK pun mengamankan 84 kardus yang berisikan sekitar 400 ribu amplop berisi uang itu diduga dipersiapkan oleh Bowo Sidik Pangarso untuk ‘serangan fajar’ pada Pemilu 2019.

Uang tersebut diduga terkait pencalonan Bowo sebagai anggota DPR RI di Daerah Pemilihan Jawa Tengah II.

Editor : Kuswandi

Reporter : Muhammad Ridwan