alexametrics

KPAI Ungkap Bahayanya Doktrin Radikalisme Pada Anak

16 Mei 2018, 06:55:12 WIB

JawaPos.com – Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti menegaskan anak yang terlibat dalam peristiwa bom di Surabaya adalah korban.

Menurut Retno, pelaku teror yang melibatkan anak-anak perlu mendapatkan penanganan yang berbeda.

“Nanti dilihat lagi usianya, di bawah usia 12 tahun korban, kalau 14 tahun bisa diproses,” ujar Retno di Kantor KPAI, Jakarta, Selasa (15/5).

Dirinya melihat anak yang terlibat dalam pengeboman bukanlah aktor murni yang bertujuan menjahati sesamanya.

Bahkan, prediksinya ada dorongan yang menguatkan anak melakukan aksi terorisme yaitu doktrin radikalisme.

“Pelaku anak terorisme di bawah umur ini sebenarnya bukan anak pelaku, tetapi anak adalah korban, tidak mungkin punya pikiran pasang martir di badannya,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati mengatakan, kasus terorisme yang melibatkan anak perlu didalami secara komprehensif, termasuk memastikan inisiator dan auktor utama harus dihukum seberat-beratnya.

“Terkait kasus (teror) Surabaya, otak dan inisiator utama segera ditangkap. Saya kira hormati proses hukum yang ada, aparat hukum mendalami jauh kemudian anak terlibat atau tidak,” jelas Rita.

Anak yang diajak dalam melakukan teror, kata Rita, mendapatkan dorongan dari orangtua. Menurutnya, anak-anak dalam konteks tindakan teror bom adalah korban.

“Kita bisa bayangkan anak seperti pasti ada rasa takut dan tidak nyaman (melakukan aksi teror),” ujarnya.

Terlebih dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak jelas dikatakan siapapun dilarang mengajak atau melibatkan anak dalam tindakan kekerasan.

Kalau terbukti tidak segan-segan, pelaku akan mendapatkan pemberatan hukuman.

Editor : Imam Solehudin

Reporter : (rgm/JPC)

Saksikan video menarik berikut ini:

KPAI Ungkap Bahayanya Doktrin Radikalisme Pada Anak