JawaPos Radar

Terangkan Maksud 'Kitab Suci Fiksi', Al Chaidar Bela Rocky Gerung

16/04/2018, 14:03 WIB | Editor: Imam Solehudin
Rocky Gerung
Eks Pengajar Filsafat UI, Rocky Gerung (Ist/Youtube)
Share this image

JawaPos.com - Pasca komentar kontroversialnya di sebuah acara diskusi televisi, Rocky Gerung menjadi bulan-bulanan publik. Pernyataannya bahwa kita suci itu fiksi menuai reaksi keras dari berbagai kalangan.

Sekalipun demikian, tak sedikit yang membela Dosen Filsafat Universitas Indonesia (UI) itu. Salah satunya Pakar Terorisme yang juga alumnus UI, Al Chaidar.

"Kalangan awam merespons pernyataan Rocky Gerung secara emosional dan memaksakan pemahamannya atas terminologi fiksi dalam kapasitasnya yang terbatas," ujarnya di Jakarta, Senin (16/4).

Bagi kalangan tersebut, lanjut Al Chaidar, fiksi adalah cerita rekaan penuh kebohongan belaka.

Padahal, fiksi setidaknya dalam konteks pernyataan Rocky Gerung adalah sebuah terminologi teknikal ilmiah. Yang dilihat, dirujuk, dan ditimbang dalam konsep, teori, atau paradigma suatu bidang ilmu tertentu.

Menurut Al Chaidar, Ilmu Filsafat, Antropologi, maupun Linguistik menilik dan memandang fiksi sebagai metode atau teori, setidaknya sebagai konsep dalam perspektif keilmuan masing-masing.

"Fiksi adalah literatur tentang visi masa depan yang mendorong imajinasi untuk mewujudkan ide atau mimpi masa lalu. Hal tersebut yang terus hidup dalam kultur manusia yang mengandung kebenaran dan juga kemungkinan kesalahan," jelasnya.

Sedangkan sebagai literatur, fiksi adalah ciptaan manusia yang visioner atau karya yang Maha Melihat atau karya yang Maha Visi, Maha Merencanakan. Atau setidaknya manusia menjadi penafsir atas kebenaran-kebenaran yang belum terverifikasi yang terkandung dalam berbagai literatur.

"Adalah wajar jika secara ilmiah, kitab suci agama mana pun dapat dilihat sebagai fiksi dalam makna kebenaran yang belum terwujud sebagai realita," tutur Pengamat Teroris kondang itu.

Kitab Suci sebagai Kumpulkan Kisah

Sementara soal kitab suci, Al Chaidar memandangnya sebagai kumpulan kisah dan wacana yang sebagian besarnya karena belum terbukti.

Kemudian menjadi imajinasi bagi kaum yang percaya untuk melihat dunia dalam cara delusion of grandeur, untuk mengubah tata dunia yang dirasakan tidak adil.

Sayangnya, kata Al Chaidar, banyak kaum agamawan yang tidak memiliki kapabilitas cerna linguistik yang memadai.

Mereka akan langsung menuduh kafir, fasik, zalim, atau munafik atau mungkin bahkan murtad, "Kepada ilmuwan yang mencoba menilik atau menimbang fenomena dan realitas keagamaan dalam proses ilmiah," jelas dia.

Bahkan untuk kalangan agamawan yang sensitif dengan terminologi, makna juga mengalami segregasi (perbedaan kelas) dalam memahami suatu istilah.

Dia mencontohkan bahwa kalangan teroris dan kaum fundamentalis memaknai istilah daulah berbeda dengan khilafah. Hijrah berbeda dengan migrasi biasa, jihad berbeda dengan bunuh diri biasa, baiat berbeda dengan janji biasa.

"Kalangan awam menurutnya hanya dapat menyerap pemahaman keagamaan secara instan dan berlebihan," ungkapnya.

Begitu pula para politisi yang miskin pemahaman semiotika ilmiah. Mereka senantiasa menggunakan instrumen hukum pasal karet ‘penistaan agama’ yang menargetkan para ilmuwan.

"Jadi pernyataan-pernyataan yang sifatnya thought provoking (menggugah pikiran) dinilai sebagai pernyataan negatif bernada provokatif," beber dia.

Dia berpendapat, para politisi yang mayoritas tak berpendidikan biasanya sangat 'tajam'. Maksudnya insting untuk menuduh lawan politiknya secara brutal cukup tinggi, demi menjatuhkan orang lain.

"Karena bagi politisi untuk dapat naik adalah dengan satu-satunya cara menjatuhkan pihak lain. Bagi politisi, semua orang yang berbeda dengannya adalah lawan politik," ungkapnya.

"Padahal, ilmuwan adalah lawan tanding (sparing partner) dalam diskusi yang justru seharusnya bisa mencerdaskan politisi dan bukan membuatnya menjadi terlapor ke polisi," pungkasnya.

Sekadar informasi, aktivis media sosial Abu Janda alias Permadi Arya melaporkan dosen Universitas Indonesia Rocky Gerung ke Polda Metro Jaya. Rocky dipolisikan soal pernyataannya di salah satu acara stasiun televisi swasta yang berbunyi 'kitab suci itu fiksi'.

(dna/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up