alexametrics

Dosen-Istri Tentara Terjerat Ujaran Kebencian

Insiden Penusukan terhadap Wiranto
15 Oktober 2019, 14:39:18 WIB

JawaPos.com – Kasus ujaran kebencian yang mengiringi insiden penusukan Menko Polhukam Wiranto bertambah. Di Magelang, Universitas Negeri Tidar (Untidar) memeriksa dosen fakultas ilmu sosial dan politik berinisial H karena memasang status provokatif di Facebook. Sementara itu, Kodim 0707/Wonosobo melaporkan salah seorang anggota Persatuan Istri Tentara (Persit) ke polres terkait kasus serupa.

Penelusuran Jawa Pos Radar Semarang di kampus Untidar, dosen tersebut memang sudah mendapat cap cukup provokatif di kalangan mahasiswa. Saat mengajar, dia selalu menyelingi dengan diskusi menentang pemerintah. Kepada mahasiswa di bawah bimbingan akademiknya, dia juga selalu berbicara menyudutkan pemerintah.

Kemarin (14/10) pihak kampus Untidar memberikan tanggapan atas kasus itu. Untidar siap mengambil tindakan tegas terhadap oknum dosen tersebut.

Kepala Biro Umum dan Keuangan Untidar Among Wiwoho mengatakan, H adalah dosen di Program Studi Administrasi Negara FISIP Untidar. Dia belum berstatus ASN, tetapi merupakan pegawai tetap. Saat ini masih dilakukan pemeriksaan awal di tingkat fakultas selaku atasan langsung H. ”Nanti dari fakultas kita masukkan ke tingkat universitas, di dewan kode etik, untuk melihat pelanggarannya seperti apa. Ini suatu pelanggaran disiplin bagi kami di sini,” lanjut Among di ruang multimedia Untidar.

Jawa Pos Radar Semarang yang berusaha mengonfirmasi H melalui sambungan telepon tidak mendapatkan respons. Pesan yang dikirimkan via aplikasi WhatsApp juga tak dijawab.

Sementara itu, Kodim 0707/Wonosobo melaporkan salah seorang anggota Persit ke Polres Wonosobo karena mengunggah status yang diduga menghina Wiranto. Status medsos anggota Persit berinisial WW itu sempat viral sejak Jumat (11/10).

”Per Sabtu (12/10) sudah kami tindak lanjuti dan kita ambil keterangan,” tutur Dandim 0707/Wonosobo Letkol Czi Wiwit Wahyu Hidayat. Lalu, Minggu sore (13/10) pihaknya membawa yang bersangkutan ke polres.

Suami WW yang berpangkat tamtama dengan inisial B juga harus menjalani proses disiplin secara militer. Tidak tertutup kemungkinan B akan mendapat sanksi berupa kurungan selama 14 hari. ”Karena ada peraturan bahwa anggota militer bertanggung jawab atas istrinya atau Persit,” terangnya.

Kanit I Satreskrim Wonosobo Iptu Samsyudin membenarkan adanya laporan dari Pasi Intel Kodim 0707/Wonosobo Kapten Arm Infanteri Supriyanto. WW dianggap telah melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sementara itu, Peltu YNS, anggota Pomau Lanud Muljono Surabaya, direncanakan menjalani sidang disiplin hari ini (15/10). ’’Status YNS masih sama, dicopot dan dibebastugaskan dari jabatan Bintara Sidik Pomau Lanud Muljono,’’ ungkap Komandan Lanud Muljono Surabaya Kolonel PnB Budi Ramelan kemarin.

Saat ini pihaknya masih menunggu berkas berita acara pemeriksaan dari pihak Pomau. ’’Akan kami tindak lanjuti dengan segera,’’ terangnya.

Istri YNS, FS, masih berstatus terlapor di Polresta Sidoarjo. ’’Handphone terlapor sudah kami sita untuk menelusuri jejak digital,’’ terang Kapolresta Sidoarjo Kombespol Zain Dwi Nugroho.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : had/git/ton/yog /c10/ c19 fal



Close Ads