alexametrics

Ini Perbedaan Kasus Pria Pengancam Penggal Jokowi dan Bocah Penghina Presiden

15 Mei 2019, 10:52:20 WIB

JawaPos.com – Ditangkapnya HS tersangka penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) menimbulkan kegaduhan. Publik yang tak puas kemudian membanding-bandingkan dengan kasus yang menjerat RJ, 16. Dia juga melakukan pidana serupa namun, dan ada yang menganggap kasusnya tak pernah terdengar lagi.

Kasipenkum Kejati DKI Jakarta, Nirwan Nawawi memastikan kasus RJ sudah dilakukan penyerahan tahap dua. Penyidik Polda Metro Jaya juga telah melampirkan sejumlah barang bukti. Penyerahan ini dilakukan pada 24 Juli 2018.

“Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta telah menerima penyerahan Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH) RJ berikut barang bukti dari pihdak penyidik Polda Metro Jaya,” kata Nirwan dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/5).

Adapun barang bukti yang diajukan dalam perkara ini antara lain 1  bendel capture instagram @jojo_is my name, 1 buah Flasdisk merek berisi capture instagram @jojo_is my name dan video yang terdapat di instagram dan youtube tersebut, serta beberapa unit handphone.

Nirwan menuturkan, penyerahan tahap 2 ini sebagai tindak lanjut dari pihak Penyidik Polda Metro Jaya atas diterbitkannya surat pemberitahuan hasil penyidikan atas nama RJ pada 7 Juni 2018.

ABH RJ diduga melakukan tindak pidana Pasal 45 ayat (4) Juncto Pasal 27 ayat (4) UU ITE atau Pasal 336 KUHP terkait dengan sangkaan Penghinaan  dan/atau pencemaran nama baik kepada Presiden.

“Bahwa setelah diterimanya ABH RJ oleh pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Barat, sebelum perkaranya dilimpahkan ke Pengadilan, Penuntut Umum akan melaksanakan proses diversi,” tambahnya.

Diversi sendiri merupakan sesuatu yang lumrah dalam mengadili anak-anak. Hal itu sesuai amanat ketentuan Pasal 42 undang-undang Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak.

Nirwan menjelaskan, Sistem peradilan pidana anak bertujuan untuk melindungi dan mendidik anak yang berhadapan atau berkonflik dengan hukum. Sehingga anak tetap terlindungi dan terpenuhi haknya sebagai anak dan mengupayakan pemidanaan sebagai alternatif terakhir untuk ABH.

Bocah penghina Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Istimewa)

Dijelaskannya, sistem peradilan pidana anak menjunjung tinggi konsep restorative justice yakni konsep keadilan yang di salamnya mengandung penyelesaian pelaku, korban, keluarga dan pihak terkait dengan berorientasi pada pemulihan keadaan. Hal iti dimaksudkan demi menghindari perampasan kemerdekaan dan masa depan anak.

Proses diversi sendiri dilakukan pada 9 Agustus 2018 di Kejaksaan Negeri Jakarta Barat. Di agenda ini dihadiri oleh RJ, orang tua atau walinya, pelapor,  pihak Balai Pemasyarakatan (Bapas), Penasihat Hukum dan pendamping.

“Dari hasil pelaksanaan diversi disepakati ABH RJ akan dikembalikan kepada orang tua untuk mendapatkan bimbingan yang lebih baik serta berkomitmen untuk melakukan pelayanan masyarakat,” tegas Nirwan.

Berita acara diversi tersebut telah ditetapkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat dengan mengeluarkan Penetapan nomor 4/Pen.Diversi/Pid.Sus-Anak/2018/PN.Jkt.Bar yang menetapkan para pihak untuk melaksanakan diversi dan memerintahkan Penuntut Umum untuk menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penuntutan setelah kesepakatan Diversi dilaksanakan seluruhnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono membenarkan pernyataan pihak Kejati DKI. Penyidik memang telah menyerahkan berkas RJ sesuai prosedur yang berlaku. Bahkan RJ waktu itu pernah ditangkap.

“Kami sudah lakukan semua, kita tangkap juga iya, karena anak di bawah umur ada tempat khusus. Sudah tahap satu, P21, tahap dua dan sudah kita kirim ke Kejaksaan berarti sudah (diproses),” ucap Kombes Pol Argo Yuwono di Markas Polda Metro Jaya Jakarta, Senin (13/5).

Diketahui, RJ sempat membuat heboh jagat dunia maya. Melalui video pendek dia dengan pongahnya mengancam akan menembak Presiden Jokowi. Dalam video itu dia juga terlihat memegang foto Jokowi sambil mengeluarkan ancaman.
Sementara itu, HS juga melakukan hal serupa. Saat aksi massa yang diduga dilakukan di depan kantor Bawaslu beberapa hari lalu. Melalui sebuah rekaman video dia mengancam akan memenggal kepala Jokowi.

Tak lama berselang setelah video itu viral, Tim Jokowi Mania mengambil langkah hukum terhadap peristiwa ini. Dia membuat laporan polisi ke Polda Metro Jaya Jakarta, Sabtu (11/5). Laporan teregister dalam LP/2912/V/2019/PMJ/Dit.Reskrimsus.

Polisi kemudian menangkap HS disebuah perumahan di Parung, Bogor. HS pun ditetapkan sebagai tersangka dan terancam hukuman sumur hidup. Dia dijerat Pasal 104 KUHP dan atau Pasal 110 KUHP, Pasal 336 dan Pasal 27 Ayat 4 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik karena yang bersangkutan diduga melakukan perbuatan dugaan makar dengan maksud membunuh dan melakukan pengancaman terhadap presiden.

Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi mengatakan, tersangka HS melarikan diri ke rumah kerabatnya di daerah Parung, Bogor setelah video terkait ancaman untuk memenggal kepala Presiden Jokowi viral di sosial media.

Saat ditangkap, HS sedang bersantai di rumah kerabatnya tersebut. Sementara itu, HS diketahui bertempat tinggal di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. “Saat ditangkap, HS sedang tidur-tiduran,” ungkap Ade di Polda Metro Jaya, Senin (13/5).

HS pun mengaku menyimpan barang bukti diantaranya jaket, tas, dan telepon genggam di rumahnya di kawasan Palmerah. “Saat kita mencari barang bukti, tersangka mengaku (menyimpan) di Palmerah. Akhirnya kita mendapatkan barang buktinya itu di Palmerah,” kata Ade.

Tersangka dijerat Pasal 104 KUHP dan atau Pasal 110 KUHP, Pasal 336 dan Pasal 27 Ayat 4 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik karena yang bersangkutan diduga melakukan perbuatan dugaan makar dengan maksud membunuh dan melakukan pengancaman terhadap presiden. “Tersangka masih dilakukan pendalaman untuk mengetahui motif dan latar belakang,” ujar Ade.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Sabik Aji Taufan



Close Ads