alexametrics

Kata si Markus Siapin Rp 1 Miliar, Nanti Saya Bilang Pak Kasatreskrim

15 Januari 2020, 09:14:22 WIB

JawaPos.com – Mantan Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Andi Sinjaya Ghalib dipastikan tidak melakukan pemerasaan Rp 1 miliar seperti isu yang beredar belakangan. Hal itu ditegaskan langsung oleh Budianto, pelapor kasus pengerusakan tanah yang disebutkan oleh Indonesia Police Watch (IPW).

Menurut Budianto telah terjadi kesalahan informasi, hingga akhirnya tudingan mengarah ke Andi Sinjaya. Padahal oknum yang memeras dirinya Rp 1 miliar bukan anggota polisi. Namun orang di luar institusi Polri yang menjanjikan bantuan agar kasus tersebut bisa tuntas.

“Perkara ini sudah cukup lama, itu ada beberapa makelar kasus, markus (makelar kasus) yang menawarkan saya bahwa mereka dapat membantu dari atas sampai ke bawah dan membuat saya percaya,” kata Budianto kepada wartawan, Rabu (15/1).

Budi menuturkan, kasus pengerusakan tanah yang dilaporkannya yakni terkait lahan parkir yang dikelolanya di wilayah Kuningan. Kasus tersebut oleh kepolisian dinyatakan lengkap atau P21, dengan 2 tersangka.

“Tahun 2018 lah (kenal A). Saat itu sudah ada tersangka dan saya kenal markus ini 1 Desember 2018 dan saat itu markus ini menjanjikan bisa menyelesaikan, kalau kamu bisa sediakan Rp 1 miliar nanti saya bilang Pak Kasat,” ucap Budi.

A mengklaim uang Rp 1 miliar itu merupakan permintaan Kasatreskrim. Hal ini pula yang kemudian diperkirakan menyeret nama Andi Sinjaya sebagai pelaku pemerasaan. Padahal tidak ada bukti bahwa A memang orang suruhan Andi. Budianto bahkan menyakini A bukanlah anggota polisi maupun pengacara.

Akan tetapi, tawaran itu pun disikapi positif oleh Budianto. Dia percaya memang rekannya itu bisa membantu. Dia berfikir A memiliki kedekatan dengan jajaran Polres Metro Jakarta Selatan. Bahkan foto profil di media sosialnya juga bersama mantan Kapolres Metro Jakarta Selatan Indra Jafar.

Tawaran itu semakin menyakinkan, ketika A mengajak Budianto ke Polres Metro Jakarta Selatan. Di situ, Budianto menyaksikan sendiri, banyak anggota polisi yang tampak menghormati A. Dari situ tidak ada keraguan sama sekali terhadap tawaran A untuk menyelesaikan kasus.

Namun, dia memastikan tidak pernah mengeluarkan dana sepeserpun kepada A. Pasalnya permintaan Rp 1 miliar sangat besar baginya. Dia tidak menyanggupi menyediakan uang tersebut.

Karena kesal kasusnya sudah lama mangkrak, Budianto akhirnya menghubungi Ketua Presidium IPW Neta S Pane melalui sambungan telepon. Dia menceritakan secara utuh kronologi kasus hukum yang dilaporkannya.

“Saya sama Neta nggak ngomong detail karena di telepon. ‘Bang saya dimintai penyidik Rp 1 M’ saya bilang begitu tapi memang bukti si markusnya kan ada yang dia meyakinkan ada foto dia dengan beliau lah (Kapolres lama),” kata Budianto.

Budianto juga tak memungkiri, dirinya kurang utuh dalam memyampaikan informasi kepada Neta, karena saat berbicara lewat sambungan telepon dia sudah terbawa emosi. Kesal karena kasusnya tak kunjung rampung.

Oleh karena itu Budianto menyatakan siap memberikan klarifikasi kepasa Propam Polda Metro Jaya untuk meluruskan tudingan kepada Andi Sinjaya. Baginya Andi Sinjaya justru yang membantu menyelesaikan perkara yang dilaporkannya.

Budianto mengaku pernah bertemu dengan Andi di Kejaksaan. Dia sempat berbincang-bincang membahas kasus tersebut.  Setelah melalui proses penyidik, Andi akhirnya menerbitkan surat DPO bagi 2 tersangka.

“Jadi saya atas pribadi saya minta maaf karena saya enggak menyangka bahwa secara emosional dampak si markus ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, IPW mengapresiasi langkah Polri yang memutasi Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, AKBP Andi Sinjaya Ghalib. IPW menduga, Andi meminta uang Rp 1 Miliar kepada pelapor Budianto.

“Tindakan tegas ini perlu dilakukan Polri kepada anggotanya yang brengsek, agar citra Polri terjaga dan kepercayaan publik kepada jajaran kepolisian tetap terbangun,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dalam keterangannya, Sabtu (11/1).

Pencopotan Andi Sinjaya ini tertuang dalam Surat Telegram (ST) Nomor ST/13/I/KEP/.2020 tertanggal 8 Januari 2020. Surat itu ditandatangani oleh Karo SDM Polda Metro Jaya Kombes Mardiyono.

Dalam telegram tersebut, tercantum nama pengganti AKBP Andi Sinjaya adalah AKBP Mochammad Irwan Susanto. AKBP Mochammad Irwan Susanto sebelumnya menjabat Kasubbid Provos Bidpropam Polda Metro Jaya.

IPW mensinyalir, pada pertengahan November 2019, pelapor yang diminta uang Rp 1 miliar oleh penyidik Polres Jakarta Selatan itu bersama IPW mengadukan kasus ke Kapolda Metro Jaya. Laporan resmi itu diterima Koorsespri Kapolda Metro Jaya.

Saat diminta uang Rp 1 Miliar, pelapor tidak memberikan dan merasa diperas penyidik. Akibat pelapor tidak memenuhi permintaan penyidik, tersangka dalam kasus Nomor Sp.Sidik/592/IV/2018/Reskrim Jaksel tgl 16 April 2018 atas nama tersangka MY dan Sul tidak kunjung diserahkan Polres Jaksel ke Kejaksaan.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Sabik Aji Taufan


Close Ads