alexametrics

Eks Dirut PT INTI Sebut Proyek BHS Sinergi Antar BUMN

14 November 2019, 16:35:43 WIB

JawaPos.com – Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, mengetahui pengerjaan proyek pekerjaan pengadaan dan pemasangan Semi Baggage Handling System (BHS). Hal ini diungkap mantan Direktur Utama PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI), Dharman Mappangara saat bersaksi untuk staf PT INTI, Andi Taswin Nur.

“Jadi awal mula kami sering dikumpulkan oleh Bu Rini (Soemarno,-red). Direksi sekitar dua atau tiga bulan sekali kumpul dan diminta melakukan sinergi,” kata Dharman, saat memberikan kesaksian di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (14/11).

Setelah mendengarkan instruksi dari Rini untuk melakukan sinergi antara BUMN, kata dia, Muhammad Awaluddin, Direktur Utama (CEO) PT Angkasa Pura II (Persero), menindaklanjuti hal tersebut. “Pada tahun 2017, Pak Awaluddin (Dirut PT AP II,-red), beliau bilang ‘Man masa gue sebagai Dirut AP II, kita tidak ada sinergi? Bu Rini sudah minta sinergi’,” ucap Dharman, menirukan pernyataan Awaluddin kepada dirinya.

Namun, pada saat itu, Dharman meminta kepada Awaluddin agar jangan terburu-buru melakukan sinergi. Sebab, dia mau terlebih dahulu memperbaiki kondisi internal PT INTI. Akhirnya pada 2018, Rini Soemarno kembali mengumpulkan jajaran PT INTI dan PT Angkasa Pura II. Awaluddin kembali mengingatkan Dharman mengenai instruksi Rini Soemarno untuk melakukan sinergi.

Awaluddin meminta Dharman untuk bertemu dengan Direktur Keuangan PT Angkasa Pura II, Andra Y Agussalam. “Sekitar April 2018, saya ketemu Pak Andra. Kami banyak mengobrol-ngobrol,” tutur Dharman.

Dia menilai Andra tidak berkapasitas untuk mengatur proyek. Dia mengklaim, Andra hanya menjalankan perintah dari Awaluddin. “Jadi, di sini kami melihat Pak Andra tidak mempunyai kapasitas untuk mengatur-ngatur, kecuali ada arahan dari Pak Awal (Awaluddin). Beliau bertindak memaksakan sinergi BUMN,” jelasnya.

Dalam sidang tersebut, Darman bersaksi untuk terdakwa Andi Taswin Nur. Sebelumnya, Taswin didakwa telah menjadi perantara uang suap dari mantan Direktur Utama PT INTI Darman Mappangara kepada Direktur Keuangan PT Angkasa Pura II Andra Yastrialsyah Agussalam. Adapun uang yang diberikan sebesar 71 ribu dolar AS dan 96.700 dolar Singapura.

Pemberian uang ditujukan untuk mengupayakan PT INTI menjadi pelaksana pekerjaan dalam pengadaan dan pemasangan Semi Baggage Handling System (BHS) di Kantor Cabang PT Angkasa Pura II antara PT Angkasa Pura Propertindo dan PT INTI.

Atas perbuatannya, Taswin Nur didakwa meoanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Muhammad Ridwan



Close Ads