alexametrics

Ada Insiden Penikaman, Kapolda Papua Sebut Pinggiran Wamena Rawan

14 Oktober 2019, 11:56:55 WIB

JawaPos.com – Kondisi di Wamena dipastikan sudah kondusif. Namun, berbeda dengan kondisi di pinggiran Wamena. Polri mengaku masih tergolong rawan gangguan keamanan.

Seperti dilansir Fajar.co.id (Jawa Pos Group), Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw dalam keterangannya meminta agar para pekerja untuk sementara waktu tak pergi bekerja ke luar kawasan Kota Wamena, Papua. Sebab situasi kamtibmas di beberapa daerah pinggiran belum benar-benar kondusif.

“Melalui Kapolres Jayawijaya saya sudah mengimbau agar saudara-saudara kita yang mau bekerja agar jangan dulu keluar dari Wamena. Kalau bisa mereka untuk sementara ini bekerja di sekitar Wamena itu saja. Kalau sudah di luar dan lepas dari pengawasan aparat kita di sana maka mungkin agak susah untuk dipantau mengingat wilayah Wamena itu agak luas,” kata Irjen Paulus di Timika, Minggu (13/10).

Hal tersebut disampaikan Paulus terkait aksi penikaman terhadap Deri Datu Padang, 30, di dekat Jembatan Wouma, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Sabtu (12/10). Diterangkan Paulus, Deri, warga asal Toraja, Sulawesi Selatan, merupakan seorang pekerja bangunan yang sedang mengerjakan fasilitas kamar mandi Gereja Katolik di Wouma, Wamena.

“Ada saudara-saudara kita yang baru mengerjakan kamar mandi Gereja Katolik di Wouma itu yang menjadi korban. Kampung Wouma itu terletak di seberang jembatan yang menjadi lokasi utama kerusuhan pada 23 September 2019,” terangnya.

Wouma dan sekitarnya, diakui Kapolda, memang cukup rawan. Lokasi itu, sebelumnya padat dengan ruko-ruko dan pusat usaha ekonomi. Namun, kini tinggal menyisakan puing lantaran dibakar habis oleh massa saat kerusuhan melanda Wamena, Senin (23/9).

“Saya sudah tiba di situ, memang di situ agak sedikit tertutup masyarakatnya dan tampaknya kemarin yang melakukan kekerasan terhadap ruko-ruko yang ada di sekitar Woma itu, ya, kelompoknya mereka (pelaku penikaman pekerja bangunan) itu,” kata Paulus.

Kapolda menduga pelaku pembakaran maupun penikaman terhadap pekerja bangunan di Wouma tersebut merupakan anak-anak muda yang tidak memiliki pekerjaan yang jelas. “Itu anak-anak yang free man yang hidupnya mau enak saja, tidak mau bekerja hanya mau mengganggu yang lain. Mau dapat hasil yang banyak dengan cara-cara yang tidak benar,” katanya.

Dia meyakini kasus tersebut masih berhubungan dengan kerusuhan pada 23 September lalu. Dia pun mengatakan akan melakukan evaluasi atas kasus penikaman yang memakan korban jiwa tersebut. “Kejadian itu pasti ada hubungan, dan tentu untuk membuktikan pelaku harus kita tangkap. Mengapa aparat ada di Jayawijaya dan di lokasi itu ada kekosongan. Itu koreksi kami,” ujarnya.

Kapolda berjanji memperkuat pengawasan, pendirian pos serta patroli skala besar. Oleh sebab itu, diimbau agar tidak ada lagi warga yang membawa senjata tajam masuk ke pusat kota Jayawijaya. “Kita akan lakukan untuk memastikan persoalan ini (yang berkaitan dengan kejadian 23/9) sudah selesai. Saya harap warga tidak membawa senjata tajam. Stop, daripada saudara kecewa,” ucapnya, menegaskan.

Selain itu, Paulus juga mengingatkan agar aparat Polres Mimika maupun personel Brimob dari berbagai polda tidak lengah. “Saya mengingatkan kembali bahwa mereka tidak boleh sedikit pun lengah karena ancaman-ancaman yang ada sekarang itu nyata,” katanya.

Kehadiran aparat Polri maupun TNI di Papua untuk melindungi dan melayani masyarakat. “Saya minta anggota untuk betul-betul menjaga keamanan di wilayah ini sampai kondusif sehingga masyarakat bisa melaksanakan kegiatannya. Puji Tuhan sampai hari ini untuk wilayah Timika masih kondusif, aman, dan terkendali,” katanya.

Kendati demikian, dia meminta tetap waspada dengan menjalankan tugas dengan baik. Selain itu, diharapkan pasukan di Papua beri keyakinan kepada masyarakat bahwa masyarakat di daerah ini tidak perlu khawatir. “Kalau ada permasalahan, sampaikan kepada kami. Maka, kami akan menangani secepat mungkin,” kata Kapolda.

Sementara Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab mengatakan kesepakatan TNI/Polri dan Pemkab Jayawijaya bahwa tidak akan ada lagi tindakan preventif bagi pengganggu kamtibmas. “Kalau ada kejadian yang akan kita hadapi, kita akan represif supaya situasi ini semakin kondusif ke depan,” tegasnya.

Herman mengatakan kasus penikaman yang terjadi di sekitar Wouma merupakan usaha dari beberapa orang untuk mengganggu kamtibmas yang sudah kondusif pascakerusuhan kemarin. “Oleh sebab itu tindakan kita yang pertama, kita sudah komitmen bahwa tegas,” katanya.

Untuk diketahui, Deri Datu Padang, tewas setelah ditikam oleh orang tak dikenal saat melintas di dekat Jembatan Wouwa, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Sabtu (12/10). Awalnya, Deri yang merupakan warga asal Toraja, Sulawesi Selatan bersama lima rekan lainnya berboncengan menggunakan empat unit sepeda motor saat kembali dari lokasi kerja mereka di depan Gereja Katolik Paroki Wouma menuju Kota Wamena.

Ketika sampai di depan Jembatan Wouma, korban yang tepat berada pada iring-iringan paling depan, tiba-tiba ditikam oleh OTK yang berjumlah dua orang. Pelaku berciri-ciri pria dewasa memakai baju merah dan satunya masih remaja. Keduanya melarikan diri ke arah kuburan lama.

Setelah ditikam, korban yang mengendarai motor terjatuh, kemudian berusaha bangkit kembali mengendarai motor dengan kondisi pisau masih tertancap di perut. Korban melapor di Pos Brimob, dekat Pasar Woma, kemudian dilarikan ke RSUD Wamena. Sesampainya di rumah sakit, kondisi korban makin kritis karena mengalami pendarahan hebat. Korban sempat menjalani penanganan medis namun nyawanya tak dapat diselamatkan.

Editor : Bintang Pradewo


Close Ads