alexametrics

Tutupi Kronologi Kebohongan, Ratna Sarumpaet Dicecar Hakim

14 Mei 2019, 15:55:14 WIB

JawaPos.com – Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong, Ratna ditegur oleh Hakim Ketua Joni. Hakim meminta agar terdakwa menyampaikan keterangan secara utuh terkait kebohongan operasi plastik yang dilakukannya.

Joni menilai Ratna menghindari pertanyaan yang diarahkan kepadanya. Terutama ketika pertanyaan diarahkan terkait alasannya berbohong soal operasi plastik. Bagi Joni tindakan media itu bukan perbuatan nista, maupun dilarang undang-undang.

“Kenapa enggak bilang saja operasi?” tanya Joni dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (14/5).

“Harusnya seperti itu,” jawab Ratna.

Saat Hakim Ketua mengulang pertanyaan alasan Ratna berbohong, ibu Atiqah Hasiholan itu pun terdiam sejenak. Kemudian dia menjawab jika alasan yang paling logis adalah penganiayaan.

“Karena yang paling mendekati oleh muka saya ya penganiayaan. Pada saat itu, itu yang terpikir dan itu yang masuk akal,” kata Ratna.

Setelah itu, Hakim Ketua kembali menanyakan kenapa Ratna berbohong. “Memang operasi diharamkan? Enggak kan,” tuturnya.

Teguran muncul saat Joni meminta Ratna menceritakan kronologi lengkap dari kebohongan penganiayaan ini. Tapi Ratna menjawan lupa. Joni pun menjawabnya jika cerita lengkap justru telah diberikan oleh saksi-saksi yang hadir di Pengadilan.

“Benar-benar lupa atau dilupa-lupakan?” Ucap Joni..

Ratna pun mengatakan jika dirinya lupa. Namun hakim masih meminta Ratna menceritakan kronologi kasus itu.

“Karena saya nilai, saudara menghindar dari cerita ini. Saudara sampaikan sepenggal-sepenggal. Seolah-olah berusaha mengalihkan, makanya sekarang ingin utuh kronologis yang saudara ceritakan ke orang lain,” kata Joni lagi.

Sidang pemeriksaan terdakwa Ratna Sarumpaet di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

Setelah mendengar kalimat tersebut, Ratna lantas menceritakan cerita kebohongan yang dibuatnya. Dia menyebut ketika di bandara Husen Sastranegara Bandung dipukuli orang tidak dikenal. Kemudian mencari taksi untuk mencari tempat berobat.

“Saya berada di airport bersama teman penulis, terus mereka turun, saya diseret oleh orang yang tak dikenal, lalu saya dianiaya, lalu saya ditinggalkan. Lalu saya cari kendaraan untuk berobat. Dari klinik di Bandung, dari klinik itu saya menuju rumah sakit di Jakarta, rumah sakit yang ngerti ngejahit,” pungkas Ratna.

Diketahui, kasus ini mulai muncul pada Oktober 2018. Saat itu foto lebam wajah Ratna Sarumpaet beredar luas di media sosial. Kepada beberapa pihak, Ratna mengaku jadi korban pemukulan orang tidak dikenal di Kota Bandung, Jawa Barat.

Kemudian pada 3 Oktober 2018 Ratna membuat pernyataan ke publik melalui konferensi pers media massa bahwa berita penganiayaan terhadap dirinya adalah bohong. Dia mengakui luka lebamnya di dapat dari operasi plastik di sebuah rumah sakit kecantikan di Jakarta.

Ratna lantas didakwa dengan Pasal 14 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana. Serta Pasal 28 Ayat (2) jo Pasal 45 A Ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Sabik Aji Taufan



Close Ads