alexametrics

Ratna Sarumpaet Sebut Figur Publik Boleh Berbohong

14 Mei 2019, 17:14:52 WIB

JawaPos.com – Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong, Ratna Sarumpaet memberikan kalimat penutup dalam sidang lanjutan dengan agenda pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (14/5). Dalam pernyataan terakhirnya di sidang kali ini, Ratna menyebut bahwa seorang figur publik boleh berbohong.

Awalnya, aktivis kemanusiaan ini menyampaikan bahwa ada perbedaan antara pejabat publik dengan figur publik. Atas dasar itu, menurut Ratna, cara menilai keduanya pun harus berbeda.

“Saya ingin catat, jangan disamakan pejabat publik sama public figure. Saya public figure yang dikenal karena sebagai aktivis karena pekerjaannya,” ujar Ratna.

Hakim Ketua Joni bahkan sempat menanyakan maksud Ratna, mengingat selama persidangan tidak ada yang menyamakan Ratna antara figur publik dengan pejabat publik. Namun, Ratna berdalih bahwa ini hanya sebatas menyampaikan.

Menurut ibunda Atiqah Hasiholan itu seorang figur publik boleh berbohong. Sedangkan pejabat publik harus selalu jujur dalam berkata di hadapan rakyat.

“Pejabat publik itu tidak boleh salah, tidak boleh bohong. Tapi public figure..,” kata Ratna.

“Publik figur boleh bohong?” hakim memotong kalimat Ratna.

“Boleh, makasih yang mulia,” jawab Ratna singkat.

Hakim kembali mencecar Ratna atas pernyataannya itu. Kali ini Joni menganalogikan seorang anak boleh berbohong. Dan Ratna menganggap boleh, setelahnya bisa ditegur agar tidak mengulanginya.

“Anak boleh bohong?” tanya Joni.

“Boleh, kita jewer,” jawab Ratna.

“Itu kan ada sanksi?” tanya Joni.

“Dijewer dengan sayang,” timpal Ratna.

“Tahu dia dijewer dengan sayang dari mana?” tanya Joni lagi.

“Tahu kan abis dijewer dicium,” kata Ratna.

Sebagai informasi, sidang sendiri ditunda sampai dengan Selasa (28/5). Agenda selanjutnya yaitu pembacaan tuntutan terhadap Ratna dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Diketahui, Ratna didakwa dengan Pasal 14 Ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana. Serta Pasal 28 Ayat (2) juncto Pasal 45 A Ayat (2) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Kasus ini mulai muncul pada Oktober 2018. Saat itu foto lebam wajah Ratna Sarumpaet beredar luas di media sosial. Kepada beberapa pihak, Ratna mengaku jadi korban pemukulan orang tidak dikenal di Kota Bandung, Jawa Barat.

Kemudian pada 3 Oktober 2018 Ratna membuat pernyataan ke publik melalui konferensi pers bahwa berita penganiayaan terhadap dirinya adalah bohong. Dia mengakui luka lebamnya di dapat dari operasi plastik di sebuah rumah sakit kecantikan di Jakarta.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Sabik Aji Taufan



Close Ads