JawaPos Radar

Kata Liza, Hakim Cantik yang Kena OTT KPK Diduga Alami Gangguan Jiwa

14/03/2018, 16:18 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Hakim Wahyu Widya Nurfitri
Hakim PN Tangerang Wahyu Widya Putri saat memamerkan cincinya di aku facebook miliknya. (facebook Wahyu Widya Putri)
Share this image

JawaPos.com - Hakim Pengadilan Negeri Tangerang Wahyu Widya Nurfitri dan seorang panitera pengganti pada PN Tangerang Tuti Atika ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka kasus dugaan suap.

Kedua srikandi yang menyandang wakil Tuhan di Bumi itu berani melakukan tindakan melanggar hukum. Aksi terlaranganya yang dilakukan oleh Hakim Wahyu itu bisa saja disebabkan sejumlah faktor. Salah satunya masalah psikologis.

Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie menjelaskan, berbagai kemungkinan bisa melatarbelakangi tindakan kedua perempuan yang kini mendekam di rutan KPK itu. Salah satunya, kebutuhan untuk tetap tampil cantik sebagai wanita modern dan sukses dalam karir.

Hakim Wahyu Widya Nurfitri.
Hakim Wahyu Widya Nurfitri keluar dari lobi gedung KPK dan akan dimasukkan ke mobil tahanan, Selasa malam (23/3). (Fedrik Tarigan/Jawa Pos)

"Misalnya di akun media sosialnya selalu tampil cantik, artinya kan tersangka punya kebutuhan untuk mengekspos dirinya. Meski saya belum melakukan tes ya, tapi ada orang yang punya kepribadian narsistik personality behaviour, sehingga harus jadi spotlight agar dia selalu terlihat," jelas Liza kepada JawaPos.com, Rabu (14/3).

Ketika seseorang mempunyai gangguan itu, lanjutnya, maka bisa saja orang ini merasa tak bersalah. Karena apa yang sudah dilakukan oleh mereka berdua itu adalah sesuatu yang wajar, jadi dianggapnya tak masalah.

"Orang-orang narsistik itu begitu. Beda tipis dengan gangguan psikopatik. Sadar melakukan itu tapi tetap menganggap itu benar dan wajar. Misalnya berhak hidup enak, jadi selalu mempunyai justifikasi atau pembenaran sendiri," ungkap Liza.

Menurut Liza, bisa juga karena kebiasaan belanja barang-barang mewah seperti tas dan sepatu mahal yang menjadi kebutuhan di hadapan media sosial. Hal itu, lanjutnya, mendorong seseorang bertindak impulsif tanpa pikir panjang melakukan apapun.

"Misalnya gesek kartu kredit ah enggak masalah. Pakai uang ini, uang itu," jelasnya.

Karena itu, Liza menyarankan agar ada perubahan di institusi penegak hukum tersebut untuk melakukan uji tes psikologi secara berkala kepada para hakim. Sebab seiring berjalannya waktu, ketika karir semakin tinggi maka godaan akan terus kencang.

"Perlu juga tes piskologi berkala. Meskipun saat awal masuk sudah, tetapi kan perubahan posisi juga berubah. Godaan bisa lebih besar," tegas Liza. 

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up