JawaPos Radar

11 Anak Jadi Korban Sodomi Selama 2 Tahun

14/03/2018, 19:52 WIB | Editor: Budi Warsito
11 Anak Jadi Korban Sodomi Selama 2 Tahun
Kepala Puskesmas Batugana Melva Arwita saat memberi trauma healing kepada para korban pencabulan di Desa Balakka, Kecamatan Padang Bolak Julu, Rabu (14/3). (Prayugo Utomo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kasus pencabulan terhadap anak kembali terjadi. Kali ini, 11 anak di Desa Balakka, Kecamatan Padang Bolak Julu, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) menjadi korban.

Ke 11 anak itu merupakan korban pencabulan yang dilakukan oleh S yang merupakan ayah tiga anak. Saat ini, S tengah diburu Polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, Rabu (14/3), Kasus itu terungkap saat salah satu korban mengaku disodomi oleh S kepada kepala sekolah. Kepala sekolah dan orang tua mereka lalu melaporkan kasus itu ke Puskesmas pada Senin (6/3).

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan, ke 11 korban H, 12; MA,9; UH, 12; SB,6; KAP,10; KS, 12; AP, 11; MRR, 10; MA, 13; ATB, 11 dan LA,11 mengalami trauma dan depresi mendalam.

"Dari pengakuan korban, pelaku melakukan sodomi selama dua tahun terakhir. Modus pelaku mengajak korban ke hutan dan ke sungai untuk mencari ikan," kata Kepala Puskesmas Desa Batugana Melva Arwita Lubis, Rabu (14/3).

Para korban juga sempat mendapat anacaman dari pelaku jika membocorkan perbuatan tidak senonoh itu. Untuk membujuk para korbannya agar mau meladeni nafsu bejatnya, pelaku memberikan uang jajan.

Sementara itu, Camat Padang Bolak Julu Ali Wardana Harahap mengaku kaget ketika mengetahui pelakunya adalah warganya. Informasi yang didapatnya, dalam keseharian pelaku tampak biasa saja. Sama sekali tidak menunjukkan ada kelainan pada pelaku.

"Dia sudah pergi dari desa. Bersama sama istri dan anaknya juga," kata Ali

Kasus yang kini tengah diproses Polisi mendapat perhatian dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI). LPAI pun mendampingi para korban. Ketua LPAI Paluta Dewi Sartika Siregar mengatakan, pihaknya mendorong aparat kepolisian untuk menuntaskan kasus itu. Karena kerap kali, kasus pencabulan tidak sampai ke meja pengadilan.

"Angka kasus pencabulan di Paluta ini cukup tinggi. Penyebabnya karena, faktor dari kurangnya sosialisasi pendidikan moral dan kecanggihan teknologi," pungkasnya.

Informasi yang dihimpun, beberapa korban sudah membuat laporan ke polisi. Bahkan sudah 9 korban yang divisum di RSUD Aek Haruaya Paluta.

(pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up