alexametrics

Perpadi Desak Aparat Telusuri Peredaran Ratusan Ton Beras Vietnam

14 Januari 2021, 05:22:18 WIB

JawaPos.com – Pedagang beras Pasar Induk Cipinang mengeluhkan masuknya beras impor putih ke Indonesia. Kondisi ini jelas akan berimbas pada harga beras lokal.

Wakil Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Billy Haryanto mengatakan, sudah ada 300 ton beras dari Vietnam masuk ke Pasar Cipinang pada Rabu, (13/1).

“Beras masuk tiba-tiba, tentu ini berimbas pada beras lokal,” kata Billy di Kawasan Senayan, Jakatya, Rabu, (13/1).

Menurut Billy, dengan masuknya beras Vietnam tersebut jelas akan mematikan beras nasional. Karena harga beras impor itu dibanderol dengan harga Rp 9 ribu per kilo, hampir sama dengan harga beras di Cipinang.

Billy heran dengan masuknya beras impor Vietnam tersebut. Pasalnya pada tahun ini stok beras aman. Berdasarkan data BPS, beras Nasional Surplus 2020 diperkirakan Surplus 2,3 juta ton.

Selain itu, menurutnya impor beras putih biasa tidak dapat dilakukan sembarangan, karena harus melalui Bulog. Hal itu berdasarkan Perpres Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan Kepada Perum Bulog Dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional.

Dalam Perpres tersebut menyatakan, Bulog melaksanakan impor untuk menjaga ketersediaan pangan dan stabilisasi harga pangan pada tingkat konsumen dan produsen untuk jenis pangan pokok beras.

Karena itu, Billy menilai, masuknya beras Vietnam tersebut ke Indonesia merupakan akal-akalan saja. Berdasarkan temuan para pedagang beras di Cipinang, beras putih biasa tersebut dibalut atau dilabeli nama ‘beras khusus’. Di dalam karung tertera jenis beras dan nama importirnya. Namun saat dibuka, ternyata bukan beras khusus atau premium melainkan beras biasa.

Baca Juga: Surpres soal Kapolri, PKB: Sepertinya Rabu Keramat, Kita Tunggu Saja

Baca Juga: Luhut: Tragedi Sriwijaya Air Harus Jadi Evaluasi

Baca Juga: Sarah Beatrice Jadi ‘Korban’ Sriwijaya Air karena KTP Dipinjam Teman

“Ia menduga beras tersebut sengaja dilabeli beras khusus agar dapat diimpor oleh pengusaha tanpa melibatkan Bulog. Karena isinya beras putih biasa tapi di karung di tulis beras khusus (beras Jasmine). Padahal kalau beras khusus harganya minimal Rp 12 ribu bukan 9 ribu,” katanya.

Billy juga menuturkan, importir beras dalam hal ini Sarinah dan Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) harus menjelaskan masuknya beras putih vietnam tersebut ke Indonesia. Selain itu, dia juga meminta pihak berwenang harus berani menelusuri beredarnya beras tersebut, karena akan mematikan beras lokal.

“Pemerintah harus turun tangan, ini tidak bisa dibiarkan, karena ini menyangkut beras kebutuhan nasional dan menyangkut kehidupan para petani di Indoensia,” pungkasnya.

Editor : Dimas Ryandi


Close Ads