alexametrics

Mahfud MD Sebut Laskar FPI Memprovokasi Polisi Lebih Dulu

14 Januari 2021, 15:48:55 WIB

JawaPos.com – Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebutkan, berdasarkan hasil investigasi Komnas HAM ihwal kematian enam laskar Front Pembela Islam (FPI), ditemukan bahwa anggota laskar FPI membawa senjata api dan senjata rakitan. Tak cuma itu, baku tembak yang terjadi dengan polisi juga disebabkan oleh provokasi dari FPI.

“Ada kelompok sipil yang membawa senjata api, senjata rakitan, dan senjata tajam yang dilarang undang-undang. Itu sudah ada gambarnya semua,” kata Mahfud saat konpers secara daring, di Jakarta, Kamis (14/1), dikutip dari Antara.

Isi laporan Komnas HAM selanjutnya menyebutkan, baku tembak terjadi karena adanya provokasi dari laskar. Provokasi tersebut berupa komando untuk menabrak mobil polisi.

“Laporan Komnas HAM, seumpama aparat tidak dipancing, tidak akan terjadi (baku tembak). Karena Habib Rizieq-nya jauh. Tapi ada komando ‘tunggu aja di situ’, ‘bawa putar putar’, ‘pepet’, ‘tabrak’, dan sebagainya. Komando (diketahui dari) suara rekamannya,” katanya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini juga memastikan semua laporan Komnas HAM tidak akan ditutup-tutupi dan akan dibuka dalam persidangan. “Nanti kita ungkap di pengadilan, kita tidak akan menutup-nutupi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik menyatakan bahwa peristiwa tewasnya 6 laskar Front Pembela Islam (FPI) di KM 50 tol Cikampek bukan pelanggaran HAM berat.

Dia mengatakan bahwa tidak terdapat indikasi pelanggaran HAM berat pada peristiwa tersebut.

“Kami menyampaikan sebagaimana sinyalemen di luar banyak beredar bahwa ini dikatakan, diasumsikan, sebagai pelanggaran HAM yang berat. Kami tidak menemukan indikasi ke arah itu,” kata Taufan.

Menurut dia, indikator pelanggaran HAM berat misalnya, satu perintah yang terstruktur, terkomando, termasuk juga indikator isi, ruangan, kejadian, dan lain-lain. Namun, kata dia, peristiwa tewasnya enam laskar FPI ini tetap merupakan sebuah pelanggaran HAM.

“Karena itu memang kami berkesimpulan ini merupakan satu pelanggaran HAM karena ada nyawa yang dihilangkan,” ujarnya.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Antara


Close Ads