alexametrics

Polri Siap Bantu KPK Kejar Harun Masiku ke Luar Negeri

14 Januari 2020, 18:10:07 WIB

JawaPos.com – Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Harun Masiku sampai hari ini masih berstatus buron dalam kasus dugaan suap kepada Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan. Belakangan santer dikabarkan Harun pergi ke Singapura sejak 6 Januari 2020.

Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Argo Yuwono mengatakan, Polri siap membantu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam pengejaran Harun. Sumber daya di Polri dipastikan siap diturunkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Pada prinsipnya polisi akan maksimal membantu sesuai aturan. Ada permintaan dari KPK, yang bersangkutan sudah tersangka seperti apa, dan yang bersangkutan ada di mana kita maksimal membantu,” kata Argo di Kantor Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (14/1).

Argo menyampaikan, sampai saat ini Polri masih menunggu surat permohonan dari KPK ihwal permintaan bantuan penangkapan tersebut. Apabila surat sudah dikirim, maka Polri akan langsung melakukan analisis guna menentukan langkah selanjutnya.

“Kita masih menunggu permintaan KPK. Apa yang bersangkutan (Harun) sudah ditetapkan tersangka, apakah yang bersangkutan sudah ditetapkan DPO. Dan tentu Divhubinter (akan bekerja), misal yang bersangkutan ada di luar negeri,” jelasnya.

Sebelumnya, KPK mengultimatum Harun Masiku segera menyerahkan diri. Ini karena Harun telah ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap, terkait kasus Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPR RI periode 2019-2024.

Harun disebut memberikan suap kepada Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Kini, Wahyu juga telah ditetapkan sebagai tersangka penerima suap oleh KPK. “KPK masih terus mencari tersangka HAR (Harun Masiku). KPK meminta yang bersangkutan segera menyerahkan diri,” kata juru bicara KPK Ali Fikri dalam pesan singkatnya, Sabtu (11/1) malam WIB.

Dalam perkara ini, KPK menetapkan empat orang sebagai tersangka. Mereka yakni Komisioner KPU Wahyu Setiawan, Agustiani Tio Fridelina selaku mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Harun Masiku selaku caleg DPR RI fraksi PDIP dan Saeful.

KPK menduga Wahyu bersama Agustiani Tio Fridelina diduga menerima suap dari Harun dan Saeful. Suap dengan total Rp 900 juta itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR RI, menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia pada Maret 2019 lalu.

Atas perbuatannya, Wahyu dan Agustiani Tio yang ditetapkan sebagai tersangka penerima suap, disangkakan melanggar Pasal 12 Ayat (1) huruf a atau Pasal 12 Ayat (1) huruf b atau Pasal 11 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara itu, Harun dan Saeful yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap, disangkakan dengan Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Sabik Aji Taufan


Close Ads