alexametrics

Penyebab Anak Remaja Bikin Geng dan Ugal-ugalan di Jalan

14 Januari 2018, 05:30:58 WIB

JawaPos.com – Terbentuknya geng di Kota Sampit, disinyalir bulan bermotif ekonomi. Sejumlah anggotanya merupakan remaja dengan latar belakang ekonomi yang mencukupi, bahkan ada dari keluarga berduit alias kaya. Mereka membentuk geng agar diakui dan dihargai orang lain, serta jadi tempat eksistensi di kalangan remaja sebaya.

Kapolsek Baamang AKP Agoes Tri mengatakan, sejumlah remaja di Sampit membentuk kelompok meresahkan semata-semata untuk menaikkan status sosial mereka.

“Selain itu, mereka membentuk geng juga untuk menunjukkan eksistensi pribadinya dan ingin dihargai di mata orang lain, yang dalam lingkungan keluarga cenderung tak mendapatkan hal itu. Oleh karenanya, jiwa mereka berontak dan akhirnya terjebak dalam pergaulan yang salah,” ujar Agoes dikutip Radar Sampit (Jawa Pos Grup), Minggu (14/1).

Radar Sampit yang menelusuri lokasi di Jalan Walter Condrat, Baamang, yang kerap dijadikan ajang kumpul Jumat (12/1) malam lalu, menemukan beberapa anak yang usianya diperkirakan masih belasan tahun. Mereka terlihat bergerombol.

Ada sekitar tujuh orang yang terdiri dari dua anak yang lebih muda dan lima remaja yang lebih tua berjalan kaki dari arah utara menuju selatan. Lima remaja nampak memerintahkan dua anak tadi untuk membeli empat botol minuman dingin dari salah satu toko di pinggir jalan.

Mereka kemudian berjalan menuju salah satu lapangan di belakang STIE. Radar Sampit mencoba mendekati. Awalnya, mereka terlihat kebingungan dan hendak lari karena mengira petugas kepolisian.

Ketika koran ini menjelaskan panjang lebar dan memastikan keamanan identitas mereka, seorang remaja bertubuh jangkung, berkulit gelap, dan rambutnya disemir pirang, HA (16), mengatakan, mereka akan menuju ke belakang lapangan untuk membakar jagung dan singkong.

Tujuh remaja itu mengaku tak terlibat geng. Padahal, dari pengamatan Radar Sampit, di punggung kaus empat orang di antaranya, tertulis ‘BRS #221’ atau ‘Barisan Remaja Sampit’.

BRS merupakan salah satu geng dengan anggota terbanyak di Sampit, yaitu sekitar 90–120 orang. Ada pula anggota geng lainnya, yakni Sampit Underground (SU) sekitar 75 anggota dan Sekumpul Punya Cerita (SPC) sekitar 43 anggota.

Setelah didesak berkali-kali, mereka baru mengaku anggota geng. Radar Sampit sempat mewawancarai mereka secara singkat, soal latar belakang terbentuknya. HA mengatakan, para anggota bergabung bukan karena alasan ekonomi. Bahkan, banyak dari anggota BRS dari anak orang kaya.

“Bukan. Bukan karena ekonomi. Alasannya, karena ingin berkumpul saja. Ada juga yang dari anak orang kaya gabung. Kebanyakan cuman mau eksis saja,” katanya.

Radar Sampit tak bisa terlalu lama mewawancarai. Hal itu atas dasar permintaan mereka, karena alasan keamanan. Setelah mengobrol sejenak, koran ini meninggalkan lokasi.

Sekitar 30 remaja sebelumnya digelandang ke Polres Kotim, Selasa (9/1) lalu. Polisi menangkap mereka setelah mendapat laporan warga mengenai perilaku remaja yang meresahkan itu.

Tindakan remaja yang sebagian besar pelajar itu sudah mengarah ke pidana. Aparat juga mengamankan senjata tajam berupa pisau, mandau, dan gir besi. Puluhan pelajar itu sudah dikembalikan lagi ke orangtuanya.

Mereka juga diminta membubarkan geng yang telah terbentuk. Meski demikian, polisi tak bisa menjamin kemunculan geng bisa diredam sepenuhnya.

Selain mengarah ke pidana, geng di Sampit juga mengusung nama suku. Polisi mengungkap keberadaan geng bernama Kacong Jaya Madura (KJM) dan Comunity Anak Remaja Dayak (Cardak). Kelompok itu dilaporkan sudah berbuat onar dan sejumlah anggotanya pernah diamankan.

Psikolog asal Malang, Jawa Timur, Alfan Khanafi mengatakan, umumnya, anak-anak cenderung ingin diperhatikan orang lain. Mereka ingin keberadaannya diakui. Hal itu dimulai dari lingkungan keluarga.

Orang-orang terdekat menjadi tolok ukur apakah anak-anak itu dihargai, dihormati, dan diakui atau tidak. Biasanya, kata Khanafi, setelah dari keluarga tidak ada dukungan dan tidak menghargai apa pun pemikiran dan keinginan mereka, anak-anak itu baru mulai memiliki rasa berontak.

“Perasaan berontak ini biasanya tumbuh di kisaran usia 12 hingga 17 tahun. Namun, kebanyakan lebih parah hingga usia menginjak dewasa karena kurangnya perhatian lebih dari orangtuanya. Setelah fase perasaan berontak itu, mereka akan mengalami masa depresi. Biasanya di kisaran usia 18 hingga 21 tahun,” kata Alfan.

Setelah dua masa tersebut, Khanafi menuturkan, remaja akan memasuki fase, ketika masa puber dan sakit hati akibat terlalu menyimpan banyak kekecewaan, tak dapat dibedakan. Gejalanya, ketika anak mulai berani terhadap orangtua. Sikapnya berubah. Jam istirahat malamnya tak teratur dan memilih di luar rumah ketimbang dekat dengan orangtuanya.

“Anak memiliki rasa emosional yang tinggi. Hal itu terlihat ketika pada fase-fase awal masa berontaknya. Jika sudah begitu, mereka pada dasarnya kecewa karena keberadaannya tak dihargai,” katanya.

Khanafi mencontohkan, ketika si anak mengutarakan keinginannya, orangtua justru tak merespons dengan baik. Meskipun hal itu sah saja, tapi unsur penolakan dari orangtua juga harus disampaikan dengan baik.

“Beri pengertian terhadap mereka, mengapa keinginan itu ditolak. Dengan arah kebijakan yang benar dalam sebuah binaan, dapat dipastikan, anak-anak itu akan menerima. Setidaknya mereka merasa diperhatikan dan dihargai,” pungkasnya.

Editor : Saugi Riyandi

Reporter : (sab/JPC)

Saksikan video menarik berikut ini:

Penyebab Anak Remaja Bikin Geng dan Ugal-ugalan di Jalan