alexametrics

Rita Widyasari Disebut Suap Penyidik KPK Rp 5,1 Miliar

13 September 2021, 14:25:46 WIB

JawaPos.com – Mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) asal Polri Stepanus Robin Pattuju (SRP) didakwa menerima uang senilai Rp 5.197.800.000 dari mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari. Pemberian uang itu untuk mengurus pengembalian aset-aset yang disita KPK terkait perkara dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Stepanus Robin Pattuju didakwa bersama-sama dengan Maskur Husain dalam menjalankan praktik dugaan suap terkait penanganan perkara.

“Stepanus Robin Pattuju bersama Maskur Husain datang ke Lapas Kelas IIA Tangerang menemui Rita Widyasari dan menyampaikan dirinya merupakan penyidik KPK dengan memperlihatkan kartu Identitas penyidik KPK, serta memperkenalkan Maskur Husain sebagai pengacara,” kata Jaksa KPK Lie Putra Setiawan saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (13/9).

Dalam pertemuan itu, Robin dan Maskur meyakinkan Rita Widyasari bahwa mereka bisa mengurus pengembalian aset-aset yang disita KPK, terkait TPPU dan peninjauan kembali (PK) yang diajukan Rita, dengan imbalan sejumlah Rp 10.000.000.000 dan apabila pengembalian aset berhasil, Maskur Husain meminta bagian 50 persen dari total nilai aset.

Bahkan, Maskur Husain menyampaikan bahwa lawyer fee sejumlah Rp 10.000.000.000 tersebut, lebih murah daripada yang biasanya dia minta, dimana hal tersebut bisa karena ada terdakwa yang sebagai penyidik KPK bisa menekan para hakim PK. Akhirnya Rita Widyasari setuju memberikan kuasa kepada Maskur Husain.

“Bahwa setelah itu, Rita Widyasari menghubungi Azis Syamsuddin guna menginformasikan komunikasi dirinya dengan Robin dan Maskur,” papar Jaksa Lie.

Pada 20 November 2020, Rita Widyasari melalui Usman Effendi mentransfer uang sejumlah Rp 3.000.000.000 ke rekening atas nama Maskur Husain sebagai pembayaran lawyer fee oleh Rita Widyasari, menindaklanjuti perjanjian Usman Effendi dengan Rita Widyasari tanggal 16 November 2020 yang menyebutkan pinjaman uang akan diganti dua kali lipat oleh Rita Widyasari dengan jaminan satu sertifikat tanah atas nama Dayang Kartini seluas 140m persegi di Jalan Suryalaya III Nomor 42C Bandung.

“Selain itu, Rita Widyasari juga menyerahkan dokumen atas aset kepada Robin dan Maskur Husain,” ungkap Jaksa Lie.

Dokumen dan aset itu berupa satu unit Apartemen Sudirman Park Tower A Lt.43 Unit C di Jakarta Pusat dan sebidang tanah beserta rumah yang terletak di Jalan Batununggal elok I Nomor 34, Bandung.

Kemudian pada 27 November 2020, Rita Widyasari menandatangani surat kuasa kepada Maskur Husain terkait permohonan PK dan mencabut kuasa kepada penasihat hukum sebelumnya. Sejak Januari-April 2021, Rita Widyasari kemudian memberikan uang kepada Robin melalui transfer nama Adelia Safitri dengan jumlah keseluruhan Rp 60.500.000.

“Bahwa selain itu Maskur Husain juga menerima uang sejumlah SGD 200.000 atau senilai Rp 2.137.300.000,00 untuk mengurus perkara Rita Widyasari,” cetus Jaksa Lie.

Penerimaan tersebut bukan hanya dari Rita Widyasari, tetapi juga dari berbagai pihak yakni, Wali Kota nonaktif, Muhammad Syahrial sejumlah Rp 1.695.000.000. Kemudian, senilai Rp 3.099.887.000 dan USD 36.000 dari Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin dan Ketua PP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), Aliza Gunado.

Selain itu, Robin juga turut menerima uang dari Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna senilai Rp 507.390.000. Kemudian dari Direktur PT Tenjo Jaya Usman Effendi sebesar Rp 525.000.000. Total penenerimaan uang senilai Rp 11.025.077.000 dan USD 36.000.

Robin didakwa melanggar Pasal 11 jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 dan Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Muhammad Ridwan

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads