Sidang Kasus Satelit Monitoring di Bakamla

Fayakhun Gelontorkan Uang Suap Rp 1 M untuk Jadi Ketua DPD Golkar DKI

12/09/2018, 17:15 WIB | Editor: Kuswandi
Fayakhun Andriadi, saat menjalani pemeriksaan kasus yang melilitnya (Fedrik Tarigan/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Sekretaris DPD Golkar DKI Jakarta Basri Baco menegaskan, bahwa Fayakhun Andriadi selaku terdakwa penerima suap terkait pengadaan alat satelit monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla) memberikan uang suap sebesar Rp 1 miliar untuk jadi Ketua DPD Golkar DKI Jakarta. Hal ini dikatakan Basri, saat bersaksi dalam sidang lanjutan untuk terdakwa Fayakhun,

"Seingat saya terkait untuk kepentingan terdakwa menjadi Ketua DPD (Golkar DKI Jakarta)," kata Basri di ruang sidang, Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Rabu (12/9).

Menurut Basri uang suap tersebut diberikan oleh staf Fayakhun, Agus Gunawan saat musyawarah daerah (Musda) DPD Golkar DKI Jakarta. Uang itu bertujuan agar Fayakhun terpilih menjadi Ketua DPD Golkar DKI.

"Ada beberapa proses pemilihan, ketua lobi pemilik suara ada nilainya dan saya kebetulan diminta terdakwa melobi pemilik suara supaya bisa memilih beliau," papar Basri.

Kendati demikian, Basri mengaku tidak mengetahui tentang asal usul uang yang didapatnya dari Fayakhun. "Hanya sekitar Rp 1 miliar saja. Musda ini tidak satu-dua hari tapi setahun sebelumnya sudah dipersiapkan," jelas Basri.

Dalam perkara ini, Fayakhun Andriadi didakwa menerima suap USD 911.480,00 terkait pengadaan alat satelit monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla). Ia diduga mengupayakan agar ada penambahan alokasi anggaran untuk Bakamla pada APBN Perubahan tahun 2016.

Dari pengadaan proyek tersebut, Fayakhun mematok jatah untuknya sebesar tujuh persen dari nilai proyek sebesar Rp 850 miliar. Fayakhun kemudian meminta anak buah Fahmi Darmawansyah, pemilik PT Merial Esa atau Melati Technofo pemenang proyek pengadaan alat satmon, bernama M Adami Okta merealisasi satu persen terlebih dahulu.

Realisasi satu persen kemudian dilakukan Fahmi beberapa tahap dengan rincian tahap pertama sebesar USD 300 ribu yang ditransfer ke dua rekening bank luar negeri, sebesar USD 200 ribu ke rekening bank di China atas nama Hangzhou Hangzhong Plastic. Kemudian USD 100 ribu ditransfer ke rekening bank di China atas nama Guangzhou Ruiqi Oxford Cloth Co. Ltd.

Sedangkan di tahap kedua realisasi satu persen dari bagian komitmen fee dilakukan pada akhir bulan Mei 2016, yakni sebesar USD 110 ribu ditransfer ke rekening ABS AG Singapura atas nama Omega Capital Aviation Ltd. Kemudian, USD 501.480 ditransfer ke rekening OCBC Bank Singapura atas nama Abu Djaja Bunjamin.

Atas perbuatannya ia didakwa telah melanggar Pasal 12 a atau Pasal 11 undang-undang nomor 31 tahun 1990 sebagaimana telah diubah dengan undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

(rdw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi