alexametrics

Eks Komdis PSSI Belum Putuskan Banding

Vonis Kasus Pengaturan Skor Terlalu Ringan
12 Juli 2019, 18:10:43 WIB

JawaPos.com – Enam terdakwa kasus mafia bola yang dilaporkan Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani harus tetap mendekam di bui. Kemarin (11/7) majelis hakim Pengadilan Negeri Banjarnegara menjatuhkan vonis.

Hakim memutuskan bahwa enam terdakwa terbukti bersalah. Hukuman untuk enam terdakwa tidak sama. Sebagian lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Vonis paling berat diterima Priyanto. Hakim menghukum mantan anggota komite wasit itu tiga tahun penjara. Sementara itu, Nurul Safarid (wasit) dan Mansyur Lestaluhu (mantan direktur penugasan wasit PSSI) divonis 1 tahun.

Tidak semua terdakwa puas dengan vonis yang diketok hakim. Priyanto dan Anik Yuni Kartika Sari (mantan asisten pribadi Lasmi), misalnya. Keduanya berencana mengajukan banding atas putusan yang mereka nilai terlalu berat dan tidak adil.

Handrianus Handyar Raditya, kuasa hukum Priyanto dan Tika, menilai majelis hakim tidak menunjukkan asas keadilan ketika memberikan hukuman kepada dua kliennya. ”Semoga di pengadilan tinggi nanti keputusannya lebih adil,” harapnya.

Bukan hanya itu. Handrianus bahkan bakal melaporkan balik Lasmi. Alasannya, Lasmi juga harus dihukum lantaran ikut dalam lingkaran suap yang dilakukannya sendiri. “Dalam minggu-minggu ini kami akan menyiapkan laporan balik,” tegasnya.

Sebelumnya, JPU menuntut Priyanto dan Tika tiga tahun penjara. Tika kemudian divonis 2 tahun 6 bulan penjara. Sedangkan hukuman untuk Priyanto sama dengan tuntutan jaksa.

Sikap berbeda ditunjukkan terdakwa lain, Johar Lin Eng (mantan anggota Exco PSSI) dan Dwi Irianto alias Mbah Putih (mantan anggota Komdis PSSI). Mereka masih pikir-pikir atas vonis hakim: banding atau tidak.

Amir Burhanuddin, salah seorang kuasa hukum terdakwa, menuturkan bahwa vonis untuk kliennya lebih rendah dari tuntutan JPU. Misalnya, Johar yang dituntut 2 tahun divonis oleh hakim dengan penjara selama 1 tahun 9 bulan. Sedangkan Mbah Putih yang dituntut 1 tahun 6 bulan dihukum 1 tahun 4 bulan.

Pihaknya akan memberikan sikap dalam waktu tujuh hari untuk vonis Johar dan Mbah Putih. “Kami merasakan nuansa psikologisnya berat atas putusan itu. Sehingga kami pun belum menyatakan menerima dan masih pikir-pikir untuk banding,” ungkapnya. Sementara itu, Nurul dan Mansyur memilih menerima putusan majelis hakim.

Dia menjelaskan, Johar dan Mbah Putih sama sekali tidak mengerti uang yang didapat dari Priyanto terkait pengaturan skor pertandingan Persibara. “Mas Dwi, misalnya, berpikir uang itu pengganti transpor dan penginapan di Banjarnegara. Sedangkan Mas Johar tidak tahu itu uang dari mana yang diberikan Priyanto,” paparnya.

Nurul dan Mansyur sebenarnya juga berpendapat sama dengan Johar dan Mbah Putih. “Mansyur tahunya uang itu untuk nyanyi-nyanyi, sedangkan Nurul untuk tambahan transpor. Itu semua diberikan sesudah pertandingan. Tapi, keduanya akhirnya menerima putusan,” katanya.

Di sisi lain, sebagai pelapor, Lasmi merasa putusan yang diberikan kepada para terdakwa tidak tepat. Dia kecewa atas vonis majelis yang dinilai ringan.

“Saya menyatakan masih belum memenuhi rasa keadilan. Terlalu ringan,” katanya.

Menurut dia, vonis tersebut hanya sebanding dengan kejahatan kecil seperti jambret atau copet. Karena itu, dia berharap JPU mengajukan banding ke pengadilan tinggi. “Hukumannya tidak sebanding dengan gegap gempita Satgas Antimafia Bola. Saya berharap, dengan divonisnya terdakwa, ada efek jera dan tidak terulang lagi kasus mafia bola,” paparnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (rid/c10/fal)



Close Ads