JawaPos Radar | Iklan Jitu

Jangan Lengah Terhadap Terorisme

Dapat Amanah Jokowi, Begini Langkah Polri Amankan Asian Games 2018

11 Juli 2018, 17:15:16 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Dapat Amanah Jokowi, Begini Langkah Polri Amankan Asian Games 2018
Wakapolri Komjen Syafruddin. (Desyinta Nuraini/ JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Jelang Asian Games, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tampak memburu para terduga teroris. Bahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah memberikan amanat kepada Polri untuk tidak lengah terhadap teroris. Padahal, sebelumnya, polisi sedikit mengeluarkan penyataan terkait teroris.

Wakapolri Komjen Pol Syafruddin yang akhirnya memberikan statemen soal penangkapan teroris. Namun, dia juga lebih banyak bicara mengenai harapan Polri di HUT Bhayangkara dan Asian Games. Ketika ditanya kejelasan mengenai penangkapan terduga teroris oleh Densus 88 Antiteror di Depok kemarin, Syafruddin berbicara tak sesuai harapan.

Dia meminta masyarakat tidak selalu beropini bahwa Densus lah pihak hanya menangkap teroris. Masyarakat menurutnya juga bisa melakukan berdasarkan pengembagan dan dasar yang kuat.

"Terorisme jangan dijadikan polemik. Indonesia sudah masuk nomor sembila negara paling aman di dunia, di sana karena kita penanganannya yang soft approach diakui," tutur Syafruddin di lokasi yang sama.

Namun ditegaskan kembali soal teroris di Depok berasal jaringan mana, dia menjawab singkat. "Pengembagan. jaringan sama. Sudah," tukasnya seraya berlalu meninggalkan lokasi.

Namun sebelum itu dia menjelaskan bahwa dalam pengamanan Asian Games, 200 personel gabungan bakal dikerahkan. Simulasi pengamanannya pun sudah berjalan satu tahun. 

"Personel kemanan Polri seratus ribu. TNI dan yang lain seratus ribu, itu di empat provinsi, Sumsel, Banten, DKI, Jawa Barat," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane berpendapat bahwa jaminan keamanan harus benar-benar diberikan Polri, terutama kepada atlet dan official asing.

"Polri jelas tidak boleh lengah dan ceroboh serta kecolongan. Ruang gerak para teroris harus dikunci rapat," tegasnya melalui keterangan tertulis, Rabu (11/7).

Jika Polri lengah dan terjadi aksi teror, dipastikan para peserta Asian Games akan ketakutan dan pulang ke negaranya masing-masing. "Asian Games akan ditinggal pesertanya," kata Neta.

Dari informasi yang diperoleh IPW pasca meledaknya bom di Pasuruan Jatim pada 5 Juli 2018, ada pergerakan jaringan teroris ke wilayah Jabodetabek dan Sumatera bagian selatan. Saat ini jajaran kepolisian sudah berhasil mengantisipasinya, dengan cara melakukan pembersihan.

Terbukti sepanjang 9 Juli 2018 dari pukul 09.30 hingga 21.00, kepolisian berhasil melakukan penggerebekan di lima lokasi, di Bekasi, Jakarta, dan Depok. Sebanyak 21 terduga teroris ditangkap. Bahkan di Kemayoran Jakpus, polisi menyita sejumlah amunisi, mortir, anak panah dan lainnya.

Sementara di Depok, polisi menangkap lima orang berasal dari Sukabumi dan Jateng. Dari kelompok Lukman ini polisi menyita sejumlah dokumen. Dari dokumen inilah polisi kemudian mencurigai bahwa kelompok Lukman  hendak menebar sejumlah aksi teror di Jakarta.

Namun, polisi harus tetap melakukan pagar betis. Pasalnya, pelaku bom Pasuruan belum juga tertangkap. Abdullah berhasil melarikan diri dengan membawa ransel yang diduga berisi bahan peledak. Pelaku bom Pasuruan tersebut diduga memiliki jaringan teror di Aceh, Banten, dan Jatim.

Selain itu, pergerakan kelompok tertentu di Sumatera bagian selatan perlu juga diantisipasi Kepolisian. Sebab hingga kini belum ada penggerebekan dan penangkapan di wilayah tersebut.

Padahal, lanjut Neta, pelaksanaan Asian Games dari 18 Agustus hingga 2 September berlangsung di Jakarta dan Palembang. "Untuk itu polisi perlu melakukan pagar betis di wilayah Sumbagsel, sehingga pelaksanaan Asian Games di Jakarta dan Palembang benar-benar aman," punkasnya.

(dna/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up