alexametrics

HK Disuruh Kivlan Zen Bunuh 4 Pejabat, Pengacara: Ceritanya Berbeda

11 Juni 2019, 19:52:22 WIB

JawaPos.com – Mabes Polri telah membeberkan dalang dari kerusuhan aksi 21-22 Mei lalu. Nama Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen disebut-sebut sebagai orang yang menyuruh untuk membunuh empat pejabat negara. Namun, pengakuan para tersangka kasus kerusuhan itu langsung dibantah oleh Muhammad Yuntri, selaku pengacara dari Kivlan Zen.

Dalam video saat konferensi pers yang dilakukan di Kantor Menkopolhukam, HK alias Iwan mengatakan bertemu dengan Kivlan di Kelapa Gading, Jakarta Utara bersama seseorang bernama Udin yang merupakan sopir pribadi Kivlan. Dalam pertemuan itu, Kivlan memerintahkan dirinya untuk mencari senpi.

“Dalam pertemuan itu saya diberi uang Rp150 juta untuk pembelian alat, senjata api yaitu senjata api laras pendek dua pucuk, senjata api laras panjang dua pucuk,” kata HK dalam video yang disiarkan oleh Mabes Polri setelah melakukan penyelidikan.

Hadi Kurniawan alias Iwan menyebut mendapat perintah dari Kivlan untuk melakukan pembunuhan kepada empat tokoh nasional dan satu orang pimpinan lembaga survei. Mereka yakni, Menkopolhukam Wiranto, Kepala BIN Budi Gunawan, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, mantan Kadensus 88 Antiteror Gories Mere dan Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya.

Yuntri menyebut, cerita yang disampaikan Iwan kepada Polri berbanding terbalik dengan yang diceritakan kepada Kivlan. Menurutnya, justru kliennya yang akan dibunuh oleh empat tokoh nasional tersebut.

“Sampai saat ini kita mau ketemu Iwan enggak bisa, dikhawatirkan cerita Iwan dengan yang kami terima dari Pak Kivlan itu berbeda. Iwan justru datang ke Pak Kivlan mengatakan bahwa Pak Kivlan mau di bunuh oleh empat orang itu,” beber Yuntri saat dihubungi JawaPos.com, Selasa (11/6).

Terkait soal kepemilikan senjata, kata Yuntri, Iwan menawarkan senjata api untuk melakukan perburuan di rumah Kivlan yang terletak di Bogor, Jawa Barat. Dia mengklaim, rumah sekitar Kivlan masih banyak babi hutan.

“Jadi Iwan itu diperintah jadi sopirnya, karena rumah pak Kivlan di Gunung Picung di Bogor, maka itu kan masih ada hutan-hutannya banyak babi, Iwan bilang ini ada senjata pak. Pak Kivlan bilang itu bukan untuk bunuh babi tapi bunuh tikus,” klaim Yuntri.

Soal adanya penyerahan uang SGD 15 ribu, Yuntri menegaskan, bahwa uang itu memang diberikan untuk demo. Namun bukan untuk aksi 21-22 Mei 2019. Tapi unjuk rasa saat momentum Supersemar.

“Bebarengan itu kan ada peringatan Supersemar, dia diberikan uang untuk demo sekitar SGD 15 ribu atau Rp 150 juta. Enggak tahu melaksanakan atau tidak, tiba-tiba sekaranf ini muncul dan ceritanya malah dibalik yang dibikinnya pengakuan dari polisi,” tegas Yuntri.

Kendati demikian, Yuntri enggan terlalu jauh untuk berspekulasi. Dia meminta polisi untuk melakukan gelar perkara atas kasus kepemilikan senjata api maupun dugaan pembunuhan. “Untuk lebih pastinya kita tidak mau berspekulasi, kita mau minta polisi gelar perkara. Karena pak Kivlan ini dibidik dengan tiga kasus, kasus makar, kepemilikan senjata api dan perencanaan pembunuhan,” pungkas Yuntri.

Yuntri menegaskan, Polri yang mempunyai tagline profesional, modern dan terpercaya (Promoter) seharusnya dapat melakukan gelar perkara sebelum menetapkan kliennya sebagai tersangka. Sebab apa yang dituduhkan kepada kliennya merupakan tidak benar.

“Sampai saat ini tidak pernah dilakukan gelar perkara untuk menguji apakah polisi ini mempunyai barang bukti yang benar,” pungkasnya.

Sebelumnya, Polri menetapkan Kivlan Zen sebagai tersangka kasus kepemilikan senjata api. Hal ini diketahui setelah Polri memutar video rekaman pengakuan tersangka yang diputar di kantor Kemenkopolhukam, Jakarta. Wadir Krimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary menyampaikan perkembangan proses hukum yang tengah berjalan saat ini.

“Kami melakukan pengembangan penyidikan sebelum akhirnya menangkap dua tersangka,” kata Ade di Kemenkopolhukam, Jakarta Pusat, Selasa (11/6).

Ade menuturkan, selaku pimpinan lapangan HK alias I yang terlebih dahulu ditangkap, mengaku mendapat sejumlah uang dari Kivlan Zen untuk membeli sejumlah senjata api (senpi). Pengakuan ini diutarakan dalam video yang diputar oleh Polri.  “Saya diamankan polisi tanggal 21 Mei terkait ujaran kebencian, kepemilikan senjata api dan ada kaitannya dengan senior saya, jenderal saya yang saya hormati dan saya banggakan yaitu Bapak Mayor Jenderal Kivlan Zen,” ucap HK alias I.

HK menjelaskan, pada Maret 2019 ia bertemu dengan Kivlan di Kelapa Gading, Jakarta Utara bersama seseorang bernama Udin yang merupakan sopir pribadi Kivlan. Dalam pertemuan itu, Kivlan memerintahkan dirinya untuk mencari senpi. “Dalam pertemuan itu saya diberi uang Rp150 juta untuk pembelian alat, senjata api yaitu senjata api laras pendek dua pucuk, senjata api laras panjang dua pucuk,” jelasnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Muhammad Ridwan



Close Ads