JawaPos Radar

Makanan Bukan Satu-satunya Pemicu Kerusuhan di Mako Brimob

Saat Berkunjung, Pakaian Keluarga Napi Dibuka

11/05/2018, 17:42 WIB | Editor: Ilham Safutra
Makanan Bukan Satu-satunya Pemicu Kerusuhan di Mako Brimob
Aparat Densus 88 dan Brimob ketika menghadapi serangan dari napiter dari dalam Rutan Mako Brimob (Miftahulhayat/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Tim Pengacara Muslim (TPM) membuka fakta-fakta baru yang diduga menjadi pemicu kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. Menurut koordinator TPM Achmad Michdan, makanan bukanlah satu-satunya yang menjadi ledakan kemarahan para narapidana tersebut.

Achmad Michdan menilai kerusuhan di Rutan Mako Brimob sebagai akumulasi kemarahan para napi. Selama ini banyak perlakuan petugas yang dianggap tidak manusiawi. "Biasanya setiap Ramadan mereka (keluarga napi, Red) boleh bawa makanan, sekarang tidak boleh, harus diperiksa segala macam. Mungkin sudah SOP-nya," kata Michdan kemarin (10/5).

Meski demikian, Michdan menyebut makanan bukan satu-satunya faktor. Banyak perlakuan petugas yang tidak disukai para napi. Mulai saat proses penangkapan, penahanan, sampai pengadilan. "Mestinya tangkap saja baik-baik," tuturnya.

Makanan Bukan Satu-satunya Pemicu Kerusuhan di Mako Brimob
Suasana Mako Brimob Kelapa Dua, usai napiter usia menyerahkan diri. (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

Belum lagi perlakuan yang diterima keluarga napi. Misalnya, untuk menjenguk suami, istri para napi tersebut harus membuka baju terlebih dahulu sebagai bagian dari pemeriksaan. Meskipun yang melakukan proses itu sesama perempuan (polwan), prosedur tersebut tetap saja menimbulkan kemarahan saat sang istri bercerita kepada suaminya.

Sebagaimana diketahui, Operasi pembebasan Rutan Mako Brimob melibatkan sekitar 850 personel. Mereka berhasil memaksa 155 napiter menyerah. Sejumlah amunisi dan senjata api yang dikuasai napiter berhasil diamankan. Senjata itu berasal dari senjata polisi yang mereka rebut, juga senjata sitaan yang disimpan di rutan dan mereka kuasai lagi.

Lima polisi yang menjadi korban tewas, menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, adalah anggota tim pemberkasan. Bukan tim pemukul. Mereka memang memiliki senjata, tapi tugasnya melakukan penyidikan. "Memeriksa terduga teroris."

Tito berjanji berbuat lebih kepada keluarga korban, selain memberikan kenaikan pangkat luar biasa. Tito bersama istrinya akan mendatangi satu per satu keluarga korban. "Mereka anak-anak saya," jelasnya.

Menurut dia, anak korban akan diperhatikan hingga besar. Pendidikan hingga semunya akan menjadi tanggung jawab Kapolri. "Saya yang tangani," janjinya.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dalam keterangannya menyebut, peristiwa itu bermula usai salat Magrib sekitar pukul 19.30. "Ada napi yang menanyakan titipan makanan napi dari keluarga," ujar Argo, Rabu (9/5).

Kemudian salah satu dari anggota tahanan dan barang bukti menyampaikan bahwa titipan makanan dipegang oleh anggota lain. Napi tersebut pun tidak terima dan mengajak rekan-rekan napi lainnya untuk melakukan kerusuhan dari Blok C dan B.

"Lalu napi membobol pintu dan dinding sel. Kemudian tidak terkontrol lagi napi menyebar keluar sel dan mengarah ke ruangan penyidik dan memukul beberapa anggota penyidik yang sedang BAP tersangka baru," tutur Argo.

Adapun anggota yang menjadi korban kerusuhan itu berjumlah empat orang. Yakni, Iptu Sulastri, Brigadir Haris, Briptu Hadi Nata, dan Bripda Ramadan. Saat ini, kasus tersebut masih ditangani Polres Metro Depok. 

(tau/far/idr/syn/c10/c9/ang)

Alur Cerita Berita

Keluarga Beny Syamsu Gelar Pengajian 11/05/2018, 17:42 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up