JawaPos Radar

Kunci Keberhasilan Polri Lumpuhkan Napi Terorisme

11/05/2018, 13:51 WIB | Editor: Ilham Safutra
Kunci Keberhasilan Polri Lumpuhkan Napi Terorisme
Pasukan Brimob saat mengamankan Mako Kelapa Dua, Depok. (Miftahulhayat/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Banyak publik menilai Polri berhasil melakukan serbuan terhadap narapidana terorisme (napiter). Sebab napiter itu sempat menguasai rumah tahanan (rutan) Mako Brimob Kepala Dua, Depok selama lebih dari 24 jam. Akan tetapi para napi menyerah dan tidak ada korban jiwa, meskipun ada lima anggota polisi jadi korban.

Namun demikian kunci keberhasilan Polri memadamkan pemberontakan di Rutan Mako Brimob adalah keberhasilan mereka membebaskan Brigadir Wawan yang menjadi sandera napiter.

Dia dapat dievakuasi Kamis dini hari, sekitar pukul 02.00. Setelah itu, aparat memiliki lebih banyak opsi untuk membekuk para perusuh.

Kunci Keberhasilan Polri Lumpuhkan Napi Terorisme
Menkopolhukam Wiranto didampingi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kepala BIN Budi Gunawan. (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

Menko Polhukam Wiranto menyatakan, operasi itu menyedot banyak energi karena menyita perhatian masyarakat luas. Baik di dalam maupun luar negeri. "Mereka (napi kasus terorisme) melakukan kekejaman dengan merampas senjata, menyandera, menyiksa, bahkan membunuh para petugas dengan cara-cara yang kejam," katanya kemarin.

Wiranto menceritakan, aparat menyiapkan sikap tegas, selain upaya soft approach. Menurut dia, keberhasilan itu diawali dengan ultimatum yang disampaikan petugas kepada para napi. "Bahwa kami akan melaksanakan serbuan. Menyerah atau mengambil risiko dari serbuan yang dilaksanakan aparat keamanan," kata dia mencontohkan ultimatum yang disampaikan kepada para napi.

Selain mengultimatum para napi, mantan panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) itu menyebutkan bahwa aparat kepolisian memberikan batas waktu. Yakni, sampai sebelum matahari terbit. Ultimatum itu cukup ampuh. Awalnya, 145 di antara 155 napi memilih keluar satu demi satu dari rutan yang sempat mereka kuasai. Sepuluh napi yang sempat bertahan akhirnya juga menyerahkan diri.

"Tidak ada tawar-menawar. Mereka menyerah tanpa syarat dan kami minta keluar satu per satu," tutur Wiranto.

Berdasar perhitungan Wakapolri Komjen Syafruddin, operasi yang dipimpinnya berlangsung sekitar 40 jam. Selama itu, sejumlah peristiwa memilukan terjadi, termasuk gugurnya lima aparat kepolisian.

Syafruddin mengungkapkan, selama operasi berlangsung, para napi sudah punya senjata api yang cukup berbahaya. Bahkan, ada yang bisa digunakan untuk menembak dari jarak jauh. "Ada senjata panjang yang jarak tembaknya 500 sampai 800 meter," imbuhnya.

Selama operasi, polisi mengutamakan soft approach. "Dan mengutamakan persuasif walaupun anggota (Polri) yang bertugas dibantai secara sadis oleh mereka," kata dia.

Soal suara ledakan dan tembakan, mantan Kapolda Kalimantan Selatan tersebut menyatakan, hal tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Itu merupakan bagian proses sterilisasi. Sterilisasi dipimpin langsung oleh Dankor Brimob dan Kapolda Metro Jaya.

Ketika ditanya tentang hal tersebut, Dankor Brimob Irjen Pol Rudy Sufahriadi menyampaikan bahwa dentuman bersumber dari tembok yang diledakkan petugas. "Karena patut diduga dan mereka (napi terorisme yang menyerahkan diri lebih dahulu, Red) juga sudah sampaikan bahwa mereka menyimpan bom-bom," paparnya.

Bom tersebut, sambung Rudy, diperoleh para napi dari barang sitaan petugas. "Itu belum sempat digudangkan oleh penyidik Densus di ruang pemeriksaan, itu yang mereka ambil," ujarnya. 

(tau/far/idr/syn/c10/c9/ang)

Alur Cerita Berita

Keluarga Beny Syamsu Gelar Pengajian 11/05/2018, 13:51 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up