Bina Napiter, Ditjen PAS Datangkan Ustad Mantan Teroris

11/05/2018, 20:00 WIB | Editor: Estu Suryowati
BERJAGA. Polisi mengamankan situasi dan kondisi pasca bentrokan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Rabu (9/5) dini hari. (Issak Ramadhan/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Direktorat Jenderal Lembaga Pemasyarakatan (Ditjen PAS), Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mendatangkan ulama atau ustad mantan teroris untuk membina para terpidana terorisme (napiter) yang masih memiliki paham atau pola pikir radikal. Hal itu bertujuan untuk menghindari penyebaran paham radikal.

"Menghindari penyebaraan paham radikal dan pengendalian aksi terorisme di dalam lapas, Kemenkum HAM telah membangun lapas high risk khusus napiter di Nusakambangan," kata Kabag Humas Ditjen PAS Ade Kusmanto saat dikonfirmasi, Jumat (11/5).

Menurutnya, sebelum adanya lapas high risk di Nusakambangan, para napiter ditempatkan dalam satu rumah tahanan. Sehingga, mereka yang merupakan tokoh dapat menyebarluaskan paham yang dianutnya.

Blok narapidana kasus terorisme dan lokasi sekitar Mako Brimob sudah steril, pada Kamis (10/5) pagi. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

"Mereka selalu mempengaruhi beberapa narapidana umum untuk bergabung dengan kelompoknya atau mengendalikan, membuat permufakatan sesama napiter tanpa sepengetahuan petugas. Hal ini berbahaya, karena bisa menyebarkan paham radikal," tutur Ade.

Tak hanya itu, Ade menyebut mayoritas napiter masih kuat menganut paham radikal. Sehingga, mereka lebih senang hidup menyendiri. Bahkan dalam hal beribadah sekalipun tak mau bergabung dengan napi lainnya.

"Mereka menganggap orang lain thogut (penyembah berhala). Sehingga memberikan pembinaan kepada kelompok radikal tidak mudah. Butuh waktu untuk melunakkannya," katanya.

"Tidak sehari atau sebulan bahkan setahun. (Karena) Hati dan pikiran mereka tertutup untuk kelompok lain," jelas Ade.

Lebih jauh, Ade menyebut napiter tidak hanya ada di Mako Brimob. Tetapi tersebar di 108 lapas dan satu rutan.

"Total semua 270 orang, data itu dari Direktorat Binapilatkerpro Ditjen PAS," urainya.

Sebelumnya, Dirjen PAS Sri Puguh Budi Utami menyatakan, sebanyak 145 napiter di rutan Mako Brimob telah dipindahkan ke Lapas Nusakambangan. Mereka akan ditempatkan di tiga lapas, yakni Lapas Batu, Lapas Pasir Putih dan Lapas Besi.

Guna mengantisipasi terjadinya kericuhan seperti di rumah tahanan (rutan) cabang Salemba, Mako Brimob, para napi ditempatkan menyendiri. "Mereka akan ditempatkan di hunian kamar one man one cell, dengan pengamanan maksimal," katanya.

"Sistem, perlakuan, pembinaan dan pengamanan akan diterapkan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku," pungkasnya.

(rdw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi