alexametrics

Radikalisme Makin Masif, MCMI Kecam Aksi Anggota JAD

10 Oktober 2019, 19:41:07 WIB

JawaPos.com – Peristiwa penusukan Menko Polhukam Wiranto oleh Anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) menuai kecaman banyak kalangan. Salah satunya organisasi masyarakat Islam Masyarakat Cinta Masjid Indonesia (MCMI).

Ketua Umum MCMI Wishnu Dewanto menegaskan, pihaknya mengecam keras atas insiden penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto saat menghadiri acara di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10).

“Kami mendoakan Pak Wiranto yang juga sebagai Ketua Dewan Penasihat MCMI semoga dapat segera pulih dan dapat kembali menjalankan tugas,” kata Wishnu dalam keterangan tertulisnya, Kamis (10/10).

Menurut Wishnu, peristiwa tersebut membuktikan bahwa gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia makin masif dan berani. Karena itu perlu dibendung dan dilawan oleh semua pihak.

“Wajib hukumnya seluruh komponen bangsa untuk melawan radikalisme. Karena itu segenap rakyat Indonesia khususnya umat Islam untuk tetap memelihara Islam yang rahmatan lil alamin yang penuh cinta dan kasih sayang,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan memastikan, pelaku penusukan terhadap Wiranto merupakan anggota JAD di Bekasi. Dia menyebut, pihaknya pun terus memantau pergerakan Syahrial Alamsyah (SA) alias Abu Rara.

“Kita tahu bahwa saudara Abu Rara ini dulu adalah sel JAD Kediri, kemudian pindah. Sudah kita deteksi pindah ke Bogor, kemudian karena cerai dengan istri pertama pindah ke Menes, Pandeglang. Difasilitasi oleh Abu Syamsudin salah satu JAD dari Menes untuk tinggal di sana,” ungkap BG.

Kendati demikian, lanjut BG, JAD memiliki sistem sel yang masing-masing bergerak sendiri-sendiri. Sistem inilah yang menjadi kendala aparat memantau keseluruhan pergerakan mereka.

“Karena mereka pergerakannya sistem sel. Jadi sel itu kan titik kecil-kecil, orang per orang, agak susah terkendali,” ucap BG.

Oleh karenanya, BG meminta masyarakat berkontribusi untuk menjaga keamanan di wilayah tempat tinggalnya masing-masing. Hal ini dilakukan agar tidak lagi terulang adanya aktivitas teroris di tengah masyarakat.

“Kami mohon bantuan dari seluruh warga masyarakat untuk mengawasi bibit-bibit ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo mengatakan, pelaku penusukan Menko Polhukam diduga terpapar radikalisme ISIS.

Menurut Dedi, motif penusukannya, mereka yang terpapar radikalisme ISIS menjadikan pejabat publik dan polisi sebagai sasaran serangan.

“Ya kalau misalnya terpapar radikal ya pelaku pasti menyerang peabat publik, utamanya aparat kepolisian yang dianggap thaghut karena kita lakukan penegakkan hukum terhadap kelompok seperti itu,” kata Dedi dalam jumpa pers di Mabes Polri, Kamis (10/10).

Penusukan terhadap Wiranto terjadi saat melakukan kunjungan di Alun-alun Menes, Pandeglang. Wiranto sebelumnya telah meresmikan Gedung Kuliah Bersama di Universitas Mathla’ul Anwar.

Sejumlah pejabat negara berdatangan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Kamis (10/10). Mereka tidak lain untuk menjenguk kondisi Wiranto setelah insiden penusukan yang terjadi di Pandeglang, Banten.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Gunawan Wibisono



Close Ads