alexametrics

Bahan Bom yang Dilempar ke Rumah Pimpinan KPK Penuh Kejanggalan

Dua Pelempar Bom Terekam CCTV
10 Januari 2019, 10:45:28 WIB

JawaPos.com – Teror terhadap para pemberantas kasus korupsi, sebagaimana kasus Novel Baswedan, kembali terjadi. Kali ini teror menimpa dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Laode M. Syarief dan Agus Rahardjo. Dua teror melalui bom itu terjadi bersamaan kemarin (9/1).

Rumah Laode di Jalan Kalibata Selatan Nomor 42C, Jakarta Selatan, dilempari bom molotov pada Rabu dini hari (9/1).

Tidak ada korban dalam kejadian tersebut. Namun, dinding rumah wakil ketua KPK itu menghitam karena terbakar bom molotov. Hingga tadi malam belum diketahui pelakunya. Polisi masih mengidentifikasi pelaku.

Bahan Bom yang Dilempar ke Rumah Pimpinan KPK Penuh Kejanggalan
Seorang jurnalis mengambil gambar di depan rumah Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M Syarif di Kalibata Selatan, Jakarta, Rabu (9/1/2019). (Miftahulhayat/Jawa Pos)

Sejumlah saksi di lokasi menyebutkan, insiden pelemparan bom molotov itu terjadi pukul 00.15. Anita, 39, mengaku sempat mendengar suara pecahan kaca di depan rumah Laode. Namun, dia baru tahu bahwa suara pecahan kaca tersebut merupakan bom molotov ketika rumah tetangganya itu ramai dengan polisi. “Ada bunyi pecahan kaca yang disertai bunyi ‘buuuk’ di jalanan dekat rumahnya,” ungkap dia.

Anita juga sempat mendengar suara sepeda motor ngebut setelah bunyi kaca pecah. “Suara motornya sember, dia ngebut,” kata dia.

Saksi lainnya, Suwarni, 34, mengatakan bahwa sekitar pukul 05.00 dirinya membuka lapak dagangan kue di depan rumah Laode. Saat itu, menurut dia, jalanan sepi. Sekitar 15 menit kemudian atau tepatnya pukul 05.15, Suwarni melihat sopir Laode yang bernama Bambang datang dengan sepeda motor. Namun, kedatangan Bambang disambut teriakan histeris pembantu Laode. “Pembantu itu bilang ke sopir ada botol yang diduga bom,” kata Suwarni.

Mendengar teriakan itu, lanjut Suwarni, Bambang bergegas masuk ke halaman rumah. Dia mengamati sekeliling halaman rumah Laode. “Dia (pembantu) sebelumnya takut keluar rumah lantaran melihat bom. Habis itu, keduanya mengecek bom molotov dari dekat,” jelas dia.

Sementara itu, Sofan Abdul Bari, 71, yang juga tetangga Laode menyebutkan, setiap hari ada dua polisi yang menjaga rumah Laode. Biasanya, mereka berjaga selama 24 jam. Namun, ketika kejadian, dia tidak melihat dua petugas tersebut.

Selain itu, setiap dini hari, jalanan di depan rumah Laode hanya memiliki satu akses pintu masuk. Jadi, pelaku yang diduga melempar bom harus kembali ke pintu masuk jika ingin melarikan diri.

Dari pantauan Jawa Pos kemarin, rumah Laode yang baru saja diteror bom molotov terlihat sepi. Hanya terlihat beberapa polisi berseragam yang lalu lalang setiap beberapa menit sekali.

Teror bom juga terjadi di kediaman rumah Agus Rahardjo di kawasan Jatiasih, Bekasi, kemarin. Di depan rumah, ketua KPK itu mendapati tas berisi paralon serupa dengan bom pipa. Tas tersebut ditemukan beberapa jam setelah aksi pelemparan bom molotov di rumah Laode.

Tas yang awalnya dicurigai berisi bom itu ternyata berisi paralon besar yang di dalamnya terdapat paku, kabel, baterai, serta serbuk.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombespol Argo Yuwono mengatakan, tim khusus bertugas untuk menyelidiki teror bom di rumah pimpinan KPK. “Pada prinsipnya, benar ada kejadian dini hari (Rabu, 9/1) di rumah ketua KPK di Bekasi dan di rumah wakil ketua di Kalibata. Jadi, di kediaman Pak Laode ada bom molotov. Ada dua bom molotov yang dilemparkan. Yang pertama tidak nyala dan tidak pecah. Yang kedua pecah,” ungkap dia.

Menurut Argo, polisi telah mendapatkan sejumlah petunjuk dalam insiden tersebut. Salah satunya rekaman CCTV di rumah Laode. Menurut Argo, ada dua terduga pelaku yang terekam kamera pengawas. “Berdasar rekaman CCTV di rumah korban, terlihat ada dua orang yang berboncengan menggunakan sepeda motor dan helm full face dari arah sebelah kiri rumah,” jelas dia.

Dalam rekaman itu, sebut Argo, dua orang tersebut terlihat berhenti dan melemparkan botol berisi cairan sebanyak dua kali.

“Pada lemparan pertama, tidak pecah terbakar karena terkena tembok dan jatuh di lantai 1. Namun, pada lemparan kedua, botol berisi cairan itu pecah dan terbakar,” ucap dia.

Sementara itu, teror bom di rumah Laode M. Syarief dan Agus Rahardjo terasa janggal. Bila memang bom ditujukan untuk melukai dua pimpinan KPK tersebut, pelaku seharusnya menyasar individu. Namun, dalam aksi tersebut, mereka hanya menyasar rumah pejabat tinggi.

Dengan begitu, target bom itu memang lain. Entah apakah hanya ingin memberikan peringatan kepada kedua pimpinan KPK atau justru ada tujuan lain.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, bom molotov yang dilemparkan ke rumah Laode sebenarnya mudah dibuat. “Hanya butuh botol, sumbu, dan bahan bakar,” tuturnya kemarin (9/1). Artinya, tidak perlu waktu lama untuk mempersiapkan bom seperti itu.

Untuk bom pipa di rumah Agus, dibutuhkan pengujian di Laboratorium Forensik (Labfor) Polri. Dengan demikian, bisa diketahui apakah itu memang bom pipa atau justru fake bomb. “Bila berkaca pada kejadian di Cilacap, itu ada fake bomb yang artinya tidak bisa meledak,” ungkapnya.

Menurut informasi dari sumber di kepolisian, sangat mungkin bom di rumah Agus merupakan fake bomb. Sebab, antara setiap bagian bom itu tidak terhubung. Misalnya, kabel tidak terhubung dengan detonator. Padahal, detonator merupakan pemicu ledakan.

Selain itu, bubuk putih di dalam pipa diduga hanya semen putih. Artinya, semen itu tidak bisa digunakan sebagai bahan peledak. Berbeda dengan bom yang biasanya dibuat kelompok teroris yang menggunakan black powder.

Sementara itu, pengamat terorisme Al Chaidar mengungkapkan, dari foto bom pipa yang tersebar, diketahui pipa tersebut hanya berbahan PVC. Tentu saja itu janggal. Sebab, pipa PVC tidak bisa digunakan untuk membuat ledakan besar. “Kelompok teroris atau yang paham membuat bom itu memiliki pipa besi,” ujarnya.

Dia juga menyatakan, ukuran pipa PVC tersebut terlalu kecil. Ukuran pipa penting untuk bisa muat bahan peledak yang lebih banyak sehingga bisa meningkatkan daya ledaknya. “Yang ini janggal ukurannya,” tuturnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (bry/idr/tyo/far/jun/c6/c5/agm)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Bahan Bom yang Dilempar ke Rumah Pimpinan KPK Penuh Kejanggalan