alexametrics

Pablo Benua, Rey Utami, dan Galih Ginanjar Didakwa Pasal Berlapis

Asusila, Penghinaan, dan Pencemaran Nama Baik
9 Desember 2019, 21:54:50 WIB

JawaPos.com – Kasus dugaan pencemaran nama baik yang dilaporkan Fairuz A. Rafiq ke Polda Metro Jaya beberapa bulan lalu kini memasuki babak baru. Kasus tersebut sudah masuk ke meja pengadilan dan sidang perdana digelar di PN Jakarta Selatan pada hari ini, Senin (9/12).

Ketiga terdakwa yaitu Pablo Benua, Rey Utami, dan Galih Ginanjar, kompak hadir dalam sidang tersebut. Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa ketiganya dengan pasal tentang asusila, penghinaan, dan pencemaran nama baik.

“Tindakan terdakwa masuk ke dalam perbuatan asusila melalui media elektronik, terancam dengan Pasal 51 Ayat (2) juncto Pasal 36 juncto Pasal 27 Ayat (3) juncto Pasal 45 Ayat (1) juncto Pasal 27 Ayat (1) UU ITE,” ucap Jaksa Penuntut di PN Jakarta Selatan.

Jaksa juga mendakwa Galih Ginanjar, Rey Utami, dan Pablo Benua tentang penghinaan melalui media elektronik. Ketiganya dinilai telah melakukan tindakan pidana dengan menghina kehormatan Fairuz A. Rafiq saat melakukan sesi wawancara dengan menyinggung organ intim yang kemudian di-posting di situs berbagi video Youtube.

Mereka dijerat Pasal 51 Ayat (2) juncto Pasal 36 juncto Pasal 27 Ayat (3), subsider Pasal 45 ayat (3) juncto Pasal 27 Ayat (3). “Dalam sesi wawancara tersebut terdakwa (Galih) melakukan penghinaan terhadap saksi Fairuz,” tutur Jaksa.

Selain itu, Jaksa juga mendakwa ketiganya dengan pasal pencemaran nama baik melalui media elektronik. Setelah mendengar dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut, tim kuasa hukum Rey Utami, Pablo Benua, dan Galih Ginanjar mengaku keberatan atas dakwaan tersebut.

“Mohon maaf kami keberatan atas dakwaan tersebut Yang Mulia,” ucap Rihat Hutabarat selaku kuasa hukum di hadapan majelis hakim PN Jakarta Selatan.

Mendegar keberatan dinyatakan pihak terdakwa, hakim memberi kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan poin-poin keberatan dalam sidang eksepsi yang rencananya digelar awal 2020. Rihat Hutabarat mengatakan, pihaknya akan menyampaikan sejumlah keberatan, salah satunya terkait masalah domisili.

Menurut Rihat, kasus ini seharusnya ditangani oleh pengadilan di Jawa Barat, bukan PN Jakarta Selatan. “Karena kan peristiwanya berada di wilayah Bogor, Jawa Barat,” tuturnya kepada wartawan, ditemui usai persidangan.

Sementara itu, ketiga terdakwa tidak banyak berkomentar tentang dakwaan yang dibacakan Jaksa, ketika diberondong awak media dengan sejumlah pertanyaan. Mereka cuma mengatakan akan mengikuti proses hukum atas kasus ini.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Abdul Rahman


Close Ads