alexametrics
Evakuasi Jenazah

Kapendam Cendrawasih Bantah Lancarkan Serangan Bom ke KKB Papua

9 Desember 2018, 19:15:30 WIB

JawaPos.com – Kapendam XVII/Cendrawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi membantah pihaknya melancarkan serangan bom saat mengevakuasi korban serangan KKSB di Bukit Kabo, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua. Tak ada senjata berkaliber besar dalam aksi pembalasan saat tim gabungan diserang. 

“TNI sama sekali tidak menggunakan sarana persenjataan bom atau berkaliber besar,” ujarnya saat dihubungi JawaPos.com, Minggu (9/12). 

Senjata yang digunakan sampai saat ini kata dia senjata Infanteri, bukan roket ataupun altileri. Sebab, jika menggunakan senjata jenis tersebut, membutuhkan waktu pergeseran.

Kata dia, masyarakat juga bisa melihat bahwa alutsista yang mereka gunakan hanya heli angkut L dan LNG. “Di Papua bisa dicek tidak ada satupun heli untuk menyerang, yang beroperasi di Papua heli pesawat angkut, tidak ada untuk perang,” tegas Aidi.

Di sisi lain dia mengakui tim gabungan sempat kontak senjata dengan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) saat melakukan evakuasi di Bukit Kabo. Akan tetapi, diyakini tidak ada warga sipil yang menjadi korban.

Kalaupun ada yang mengatakan ada warga sipil atau pejabat kampung yang tewas saat TNI melakukan evakuasi, dia malah balik bertanya. Bahkan Aidi curiga bahwa mereka warga sipil. 

Sebab logikanya, antara lokasi kontak senjata dan pemukiman warga cukup jauh. Setidaknya 4-5 kilometer dengan jarak tempuh dua jam perjalanan kali yang medannya cukup terjal.

“Kenapa ada warga sipil di daerah tempur, jauh dari kampung? Kalau ada warga sipil di daerah tersebut tidak bisa lagi dikatakan warga sipil. Karena kontak tembak bukan di kampung tapi di hutan,” bebernya.

Lagi pula, pihaknya tidak diberi kesempatan untuk melakukan identifikasi jikalau memang yang tewas adalah warga sipil. Sebab dari pengakuan Kepala Distrik Nirkuri, Yosekat K. Kamarigi, pejabat desa yang tewas tersebut pun sudah dimakamkan.

Kebiasaan orang Papua terutama di pedalaman, kata Aidi, biasanya bukan dimakamkan langsung dibakar sesuai adat. “Mau diinvestegasi, apanya diidentifikasi? Kalau murni sipil harus ada data dan fakta. Kita tidak bisa mengatakan katanya, diduga,” tuturnya. 

Aidi malah curiga, kepala distrik yang melaporkan adanya pejabat desa yang tewas juga bagian dari KKSB. “Pelapor yang mengatakan dirinya kepala kampung di sana kan laporan sepihak saja, apakah itu bagian dari pelaku? Saya tidak mau menuding,” pungkasnya. 

Sebelumnya, Kepala Distrik Nirkuri, Yosekat K. Kamarigi mengatakan, dalam evakuasi tim gabungan TNI-Polri dari arah selatan Nduga dan dari arah timur yang masuk wilayah Kabupaten Wamena, dikabarkan  aparat melakukan serangan bom sebanyak 12 kali. Di Distrik Mbua ledakan terdengar lima kali dan Distrik Yigi tujuh kali. 

Yosekat menggambarkan tembakan peluru dihamburkan seperti hujan yang tidak dapat dihitung. Dua aparat desa meninggal pada 5 Desember lalu. 

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : (dna/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Kapendam Cendrawasih Bantah Lancarkan Serangan Bom ke KKB Papua