alexametrics

Ratna Sarumpaet: Kalau Hakim Mempertimbangkan Baik-baik, Harusnya Saya Bebas

9 Mei 2019, 17:16:22 WIB

JawaPos.com – Terdakwa kasus penyebaran berita bohong atau hoaks, Ratna Sarumpaet senang dengan keterangan saksi dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (9/5). Sehingga, dia masih berharap Majelis Hakim akan membebaskannya dari kurungan penjara.

“Bagus ya, kalau menurut saya sih kalau semua kesaksian yang kita dengar hari ini. Dipertimbangkan baik-baik oleh hakim harusnya saya hebas,” kata Ratna usai sidang.

Dia masih bersikukuh tidak bersalah dan tidak membuat keonaran atas foto muka babak belur yang sudah menyebar luas. “Bagus, kalau dipertimbangkan benar oleh hakim harusnya saya bebas,” singkatnya.

Depresi Terkontrol

Dahnil Anzar Berikan Kesaksian di Sidang Ratna Sarumpaet – Salman Toyibi/ Jawa Pos

Sementara itu, psikiater Ratna Sarumpaet, Fidiansyah, menyatakan jika kliennya berada dalam tahap depresi terkontrol. Ratna, kata Fidi, termasuk orang yang aktif mengkonsumsi obat anti depresan. Dengan kontrol konsumsi obat anti depresan yang teratur itulah, Ratna memiliki sifat depresi terkontrol.

“Saat datang ke saya, saat itu obat yang didapat dari RS Angkatan Darat perlu berkesinambungan, artinya RSAD tidak memberikan kelanjutan sehingga yang bersangkutan mengantar anaknya sekaligus meminta obat. (Ratna) Hanya bawa resep dokter yang diberikan,” ujarnya.

Pembuat Berita Bohong

Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais memberikan kesaksian dalam sidang kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks dengan terdakwa Ratna Sarumpaet di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Kamis (4/4/2019). Sidang tersebut beragendakan mendengarkan keterangan dari empat orang saksi salah satunya yaitu Amien Rais.
Foto : Issak Ramdhani / Jawapos.com

Sedangkan Ahli hukum pidana dari Universitas Indonesia, Mudzakir, menyampaikan, pembuat berita bohong belum tentu bersalah secara pidana. Dia menilai, yang harus dipidanakan adalah orang yang menerima berita bohong lalu menyebarkannya ke media sosial.

“Kalau itu (berita bohong) diberi tujuan kepada orang lain dan orang lain memposting kepada sehingga publik bisa membaca dan seterusnya itu sebenarnya tanggung jawabnya adalah yang memposting itu sendiri,” kata Mudzakir.

Menyebarluaskan Mudzakir menjadi saksi meringankan yang dihadirkan tim kuasa hukum Ratna. Menurut dia, pihak yang membuat berita bohong biasanya punya niat tertentu. Ada yang berniat untuk menyebarkan ke publik dengan tujuan membuat keonaran, ada juga untuk kepentingan sendiri dan orang orang sekitarnya.

Dia kembali mengambil contoh jika sebuah berita bohong disampaikan kepada orang lain dengan catatan tidak untuk disebarluaskan, tetapi berita tersebut sudah terlanjur meluas. Jika begitu, pihak yang patut bertangung jawab yakni orang yang mempublikasi kebohongan itu.

Editor : Bintang Pradewo



Close Ads