JawaPos Radar

Kasus Mangkrak, Pimpinan KPK Ini Sebut TGPF Novel Belum Perlu Dibentuk

06/04/2018, 19:39 WIB | Editor: Kuswandi
Saut Situmorang
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Saut Situmorang menyebut pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) belum perlu dilakukan untuk menemukan siapa pelaku yang menyerang penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Hal ini karena menurutnya, proses yang paling penting yakni menemukan fakta dan orang jahat yang melakukan perbuatan tersebut.

"Bikin tim banyak percuma kalau orang dan faktanya nggak ketemu ya nggak ada hasil. Yang paling penting ketemu fakta dan bawa orang jahat itu," tutur Saut Situmorang, usai acara pelantikan Deputi Penindakan dan Direktur Penuntutan KPK, di Gedung Penunjang KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (6/4).

Pembentukan TGPF menurutnya, ada kekurangan dan kelebihan yang perlu diperhatikan. Jika pembentukkan itu sudah dilakukan tapi tak membuahkan hasil, maka yang perlu dilakukan menurutnya, mengumpulkan bukti dan di share.

"Itu fikiran saya loh ya jadi mungkin saya bisa salah (pembentukan TGPF) fakta kita kejar dan info di share," tutupnya.

Menurut Saut, untuk mengungkap pelaku penyerang Novel, membutuhkan bantuan rakyat Indonesia untuk bekerja sama memberikan informasi saat kejadian penyiraman kepada Novel yang terjadi saat waktu Subuh itu.

"Sebenarnya, kalau saya mau seluruh rakyat Indonesia kerjasama saja, apa yang kalian dengar semua pada hari itu dikumpulin, potongan info saya lebih demen begitu," jelasnya.

Sementara terkait penanganan kasus Novel, sampai saat ini menurutnya, proses hukum masih berjalan. Bahkan katanya, ada beberapa pihak juga yang membantu untuk menuntaskan kasus ini.

"Hukum jalan dan rakyat bantu. Saya selalu katakan malam itu nggak ada yang lihat? pasti malam itu ada yang lihat. Karena nggak ada kejahatan yang sempurna," ungkapnya.

Untuk diketahui, sudah hampir setahun Novel Baswedan disiram air keras oleh dua orang seusai menunaikan salat subuh di masjid di dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Hingga saat ini polisi masih menyelidiki kasus tersebut.

Sementara Novel hingga kini masih menjalani pengobatan kedua matanya di rumah sakit di Singapura. Beberapa bulan lalu, kepolisian sempat merilis sketsa wajah terduga penyiram, tapi hal itu tak membuahkan hasil.

Sebelumnya, Novel Baswedan telah diperiksa untuk pertama kali oleh tim khusus pemantau penyelesaian kasus penyerangan air keras di Komnas HAM. Pemeriksaan tersebut berlangsung selama tujuh jam sejak pukul 13.50 WIB hingga 21.51 WIB pada Selasa (13/3).

Sesuai menjalani pemeriksaan, Novel berharap apa yang sudah disampaikannya bisa menjadi suatu yang baik untuk mendukung tugas dari Kepolisian terkait kasus teror air keras ini.

“Tentunya kami mengharapkan apa yang disampaikan akan menjadi sesuatu hal yang baik untuk mendukung tugas-tugas kepolisian dalam rangka mengungkap fakta yang ada,” ujar Novel.

Sementara itu, kuasa hukum Novel Baswedan, Alghiffari Aqsa menuturkan, Novel telah menjelaskan secara runut kronologi dan dan pasca kejadian penyiraman air keras terhadap dirinya. Hal itu dilakukan agar Komnas HAM dapat mengetahui secara runut kejadian penyiraman air keras yang menimpa penyidik senior KPK tersebut.

"Fakta-faktanya bisa diungkapkan kepada publik dan pelakunya bisa ditemukan penegak hukum, entah itu KPK atau pun kepolisian bisa memproses pelaku dan juga orang yang menyuruh si pelaku bisa hingga ke pengadilan," ucap Alghiffari.

Menurut Alghiffari, meskipun Novel meminta bantuan dari Komnas HAM, namun permintaan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kepada Presiden Joko Widodo harus terealisasi.

"Karena Komnas HAM punya mandat dan basis hukum sendiri, sebagai warga negara, aktivis antikorupsi dan sebagai penyidik KPK mempunyai hak atas rasa aman. Tapi TGPF, kami menginginkan ada fakta-fakta informasi yang lebig detail mengenai siapa pelaku, sehingga bisa dibawa ke ranah pengadilan," tegas Alghiffari.

(ipp/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up