JawaPos Radar

Saat Geledah Rumah Bupati HST, KPK Temukan Mobil Mewah

06/01/2018, 22:41 WIB | Editor: Ilham Safutra
Saat Geledah Rumah Bupati HST, KPK Temukan Mobil Mewah
Bupati Hulu Sungai Tengah Abdul Latief (baju putih) (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Usai melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bupati Hulu Sungai Tengah Abdul Latief, pada Kamis (4/1), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah empat tempat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Lokasi tersebut diduga terkait suap proyek pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Damanhuri.

Empat lokasi yang digeledah antara lain, kantor pribadi Bupati Abdul Latief, kantor Bupati Kabupaten Hulu Sungai Tengah, rumah dinas Bupati Abdul Latief dan RSUD Damanhuri.

"Sejak siang tadi tim langsung bergerak lakukan penggeledahan di empat lokasi di Kabupaten Hulu Sungai Tengah di kantor pribadi bupati, kantor bupati, rumdin bupati, dan RSUD Damanhuri," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah melalui pesan singkat, Sabtu (6/1).

Saat Geledah Rumah Bupati HST, KPK Temukan Mobil Mewah
Jubir KPK Febri Diansyah (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

Febri mengatakan, dari penggeledahan itu tim menyita sejumlah dokumen yang berkaitan dengan suap. "Sejauh ini telah disita dokumen-dokumen proyek dan pencairan dana serta dokumen perusahaan," tuturnya.

Tak hanya dokumen, tim KPK juga masih menelaah sejumlah mobil mewah yang ada di garasi rumah milik Bupati Abdul Latief. Kemungkinan mobil tersebut akan disita untuk ditindaklanjuti lebih jauh.

"Sedangkan sejumlah mobil mewah yang ditemukan di garasi rumah bupati, tim sedang mencermati di lapangan," pungkas Febri.

Sebagaimana diketahui dalam kasus ini KPK telah menetapkan empat orang tersangka. Mereka sebagai penerima suap Bupati Hulu Sungai Tengah Abdul Latief, Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Hulu Sungai Tengah Fauzan Rifani, dan Direktur Utama PT Sugriwa Agung Abdul Basit. Sedangkan pemberi suap adalah Direktur Utama PT Menara Agung Donny Winoto.

Atas perbuatannya, Abdul Latief, Fauzan Rifani, dan Abdul Basit selaku penerima suap dijerat Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Sedangkan Donny Winoto selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

(dna/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up