alexametrics

Calon Ibu Kota Baru Mulai Dilirik Bandar, 100 Kg Narkoba Diamankan

5 Desember 2019, 21:00:16 WIB

JawaPos.com – Rencana pemindahan ibu kota negara dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur (Kaltim) masih menyisakan sejumlah catatan yang harus diselesaikan. Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat, ada peningkatan peredaran narkoba di wilayah Kaltim sejak 6 bulan terakhir. Fakta ini sebagai penanda adanya pergeseran peredaran narkoba dari wilayah barat ke tengah atau timur.

“Jadi baru beberapa bulan ini ada peningkatan penyelundupan narkoba ke Kaltim,” kata Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Arman Depari di Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (5/12).

Arman menyebut, selama 6 bulan ini, sekitar 100 kilogram narkoba berhasil diamankan petugas. Ganja masih mendominasi peredaran barang ilegal tersebut. Disusul sabu dan ektasi. Tiga jenis narkoba ini masih menjadi favorit pasar di Indonesia termasuk di Kalimantan Timur.

“Kami mencatat dari beberapa bulan lalu kurang lebih ada 100 kilogran yang bisa kita gagalkan dan itu salah satu angka yang cukup besar untuk daerah yang sementara ini masih kita lihat bukan merupakan daerah wisata atau industri,” imbuhnya.

Meski begitu, Arman belum mau menyimpulkan terlalu cepat apakah meningkatknya peredaran di narkoba di Kaltim karena adanya rencana pemindahan ibu kota. Menurut dia, bandar biasanya memilih wilayah operasinya dengan mempertimbangkan tingkat permintaan narkoba.

“Kami sedang mengevaluasi apakah ini ada kaitannya dengan rencana pemindahan ibu kota Indonesia ke sana, karena sesuai dengan pengalaman biasanya para bandar narkoba ini akan tetap melihat pasar atau market besar,” jelasnya.

Oleh karena itu, BNN masih akan terus melakukan pendalaman terhadap peredaran narkoba di Kaltim. Selain aspek pidana, BNN juga mengincar kemungkinan adanya Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam kasus tersebut.

Aspek ini dianggap Arman sangat penting. karena dengan melumpuhkan finansial bandar narkoba diharapkan operasi mereka bisa ditekan. Sebab, uang selama ini menjadi kekuatan utama para bandar dalam menjalankan bisnis haramnya.

“Mereka punya uang sehingga mereka dapatkan uang itu untuk mengoperasikan bahkan memengaruhi orang-orang tertentu untuk memuluskan bisnisnya,” tegasnya.

Arman menyebut, jaringan lokal yang memasok narkoba ke Kaltim didominasi oleh jaringan Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Jawa Timur hingga Jakarta. “Sindikan internasionalnya mulai dari (negara) sumber barang. Kita duga itu banyak dari Myanmar, Laos, dan Thailand, walaupun masuknya biasanya tetap transit Malaysia,” pungkasnya.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Sabik Aji Taufan


Close Ads