JawaPos Radar

Begini Sosok Japra Tukang Ojek yang Ditembak Oknum TNI

Asli Suketi, Sebelum Meninggal Sempat Sungkem Ibunya

05/11/2015, 07:30 WIB | Editor: andi
Begini Sosok Japra Tukang Ojek yang Ditembak Oknum TNI
Keluarga Japra saat memperlihatkan foto japra semasa hidup dari foto yang tersimpan di hanphone. (Kiri atas) Foto Japra semasa hidup bersama istrinya (Dok Banten Pos)
Share this image

JawaPos.com SAKETI, BANPOS - Peristiwa tewasnya Marsim alias Japra (40), tukang ojek yang ditembak kepalanya oleh YH, oknum Anggota TNI di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Selasa (3/11) menyisakan pilu mendalam bagi keluarga besar almarhum. Ternyata Japra, asli kelahiran Saketi, Pandeglang.

Sebelum ajal menjemput, Japra sempat sungkem menemui ibunya, Jarsiti (86), di tanah kelahirannya, tepatnya di Kampung Kadusirung Girang, Desa Sukalangu, Kecamatan Saketi, Pandeglang. 

Adanya peristiwa itu membuat keluarga besar Japra seolah tak percaya. Karena Japra dikenal sangat baik. 

"Kami juga sempat kaget, karena tiga pekan lalu korban dari sini menemui ibu. Saat dapat kabar keluarga dari sini (kampong, red), langsung berangkat ke Cibinong," ujar Sutiah, kerabat korban yang berhasil dijumpai BANPOS di Kampung Kadusirung Girang, Rabu (4/11).

Korban merupakan bungsu dari tujuh bersaudara, buah hati Jarsiti dan Sarmani. Namun telah berumahtangga di Cibinong, dan dikaruniai dua anak, yakni Mela (15) dan Irgi (5). Pihak keluarga mengenal korban sebagai orang baik. Bahkan tak pernah lupa kampong halaman. Setiap hari Raya Idul Fitri korban selalu pulang kampong. 

Jarsiti tampak lebih banyak termangu, ketika ditanya soal anak bungsunya tersebut. Bahkan menurut Sutiah, Jarsiti tak henti-hentinya meluapkan kesedihan atas peristiwa itu. 

"Mungkin ini sudah menjadi suratan takdir keluarga kami, dan kami juga menerima dengan hati yang lapang atas kematian saudara kami. Namun kami meminta pelaku harus bertanggung jawab atas semuanya. ibu dari kemarin selalu nangis, karena yang namanya juga ditinggalkan salah satu anaknya untuk selamanya, tentunya merasa sangat sedih," kata Sutiah lagi. 

Murtapiah (40), tetangga korban mengaku jika korban merupakan anak yang paling dibanggakan oleh orang tuanya. Karena dianggap sangat berbakti terhadap orang tuanya, meskipun tempat tinggalnya sangat berjauhan. 

"Dia iti baik dan tidak sombong terhadap sesame. Kalau pulang kampong selalu mendatangi teman-temannya. Jadi sangat wajar jika keluarga dan warga yang lain merasa sedih dan kehilangan," ujar Murtapiah. 

Dilain pihak, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta maaf terhadap keluarga korban penembakan yang dilakukan Serda YH pada Japra. 

"Kejadian penembakan ini saya selaku panglima TNI mohon maaf,atas kejadian yang dilakukan anggota saya. Dan itu tidak boleh terjadi," ujar Gatot di kompleks Istana Negara, Jakarta, Rabu (4/11).

Peristiwa penembakan tersebut terjadi di Jalan Mayor Oking, tepatnya di depan SPBU Ciriung, Cibinong, Kabupaten Bogor. Awalnya, korban mengendarai motor Supra B-6108-PGX menyerempet pelaku yang memakai mobil CRV F-1239-DZ sebelum di lokasi kejadian.

YH yang tak terima diserempet kemudian mengejar Japra hingga di depan SPBU Ciriung. Tak lama kemudian, YH mengeluarkan senjata api jenis FN dan menembak bagian kepala korban. Korban langsung meninggal di tempat.

"Saya akan membuatkan ST bahwa sekarang kejadian masyarakat yang berkaitan dengan TNI sidang militernya terbuka, dengan demikian masyarakat bisa mengetahui. Kalau tidak seolah-olah TNI membuat persidangan nanti memberi keringanan," tandas Gatot. 

Panglima juga memastikan jika karier Serda YH di TNI bakal tamat. Pasalnya, Panglima memastikan YH bakal mendapatkan sanksi berat, yakni pemecatan. "Saya selalu tidak pernah menyampaikan sanksi, tapi saya pastikan ada hukuman tambahan pemecatan," ujar Gatot. 

Namun, Gatot enggan membicarakan sanksi hukum karena tergantung penyidikan dan persidangan di militer yang akan dijalani Serda YH. Tapi, Gatot sudah menjamin masyarakat akan diberi akses sehingga bisa mengetahui hasil sidang militer kasus penembakan tersebut.

"Menghilangkan nyawa orang lain, sengaja atau tidak sengaja yang dilakukan aparat, yang dilakukan dengan senjata sanksinya pemecatan," tegas Gatot. (CR03/FLO/JPNN/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up