alexametrics

Buntut Kasus Brigadir Yosua, Kapolri Copot Tiga Jenderal

5 Agustus 2022, 10:00:43 WIB

25 Personel Terindikasi Rusak TKP dan Hilangkan Bukti

JawaPos.com – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengambil langkah tegas untuk mempercepat pengusutan kasus penembakan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat.

Sebanyak 25 anggota Polri yang diduga menghambat proses penyidikan telah diperiksa. Beberapa dari mereka bahkan dicopot dari jabatannya dan dipindah ke Divisi Pelayanan Markas (Yanma) Polri. Mereka bahkan terancam pidana jika terbukti terlibat dalam kasus Yosua.

Kapolri menegaskan, Inspektorat Khusus (Irsus) yang dikoordinasi Irwasum tengah memeriksa 25 personel yang diduga terlibat dalam upaya obstruction of justice atau menghalang-halangi penyidikan kasus penembakan Brigadir Yosua.

”Sedang kita kembangkan, apakah ada yang menyuruh (Bharada E, Red) atau inisiatif sendiri. Yang jelas, siapapun yang terlibat tentu akan kita tindak tegas,” katanya.

Sigit menuturkan, dalam kasus tersebut, banyak sekali pertanyaan yang harus dijelaskan. Salah satunya soal CCTV yang rusak. ”Proses masih berjalan,” terangnya.

Pemeriksaan 25 personel itu dilakukan terkait ketidakprofesionalan mereka dalam penanganan tempat kejadian perkara (TKP). Mereka diduga membuat hambatan-hambatan dalam proses olah dan penanganan TKP. ”Saya ingin proses hukum berjalan dengan baik,” tegasnya.

Siapa saja 25 personel itu? Kapolri belum menyebutkan nama-nama mereka. Namun, tadi malam keluar satu telegram khusus dari Kapolri. Dalam surat telegram nomor 1628/VIII/KEP/2022/4 Agustus 2022 yang diterima Jawa Pos, ada 15 nama perwira Polri yang dimutasi. Lima belas nama itu terdiri atas para perwira yang dicopot serta nama penggantinya. Mayoritas berasal dari Divpropam Polri. Tiga jenderal yang dicopot adalah Irjen Ferdy Sambo, Brigjen Hendra Kurniawan, dan Brigjen Pol Benny Ali. Semuanya digeser menjadi pati Yanma Polri.

Di luar divpropam, ada juga perwira menengah dari Polrestro Jakarta Selatan. Yakni, Kasatreskrim AKBP Ridwan Rhekynellson Soplanit dan Kanit 1 Satreskrim AKP Rifaizal Samual. Dua orang itu juga dicopot dan dimasukkan bersama Ferdy Sambo cs sebagai pamen Yanma Polri (selengkapnya lihat grafis).

”Empat orang telah berada di tempat khusus,” ujar Kapolri. Dia tidak menjelaskan maksud tempat khusus tersebut. Namun, selama ini anggota Polri yang diduga melakukan pelanggaran etik ditahan di sel khusus. Kapolri menegaskan, bila ditemukan unsur pidana, Polri tidak akan segan memproses pidana 25 personel tersebut. ’’Saat ini kita periksa kode etik lebih dulu,” paparnya.

Sebelumnya, memang sempat muncul sorotan terhadap kinerja Polri. Sebab, hingga tiga minggu setelah penembakan Brigadir Yosua, polisi belum berhasil mengungkap dalang kasus tersebut. Padahal, kasus penembakan Yosua dinilai tidak sulit. Lambannya pengungkapan disebut-sebut karena melibatkan seorang jenderal.

Sementara itu, Kabareskrim Komjen Agus Andrianto menegaskan, hasil pemeriksaan Inspektorat Khusus akan menjadi dasar dan pertimbangan untuk menentukan sanksi kepada 25 personel Polri itu. ”Kami sudah memeriksa 43 saksi dan satu orang ditetapkan menjadi tersangka,” paparnya. Tersangka yang dimaksud Agus adalah Bharada E, ajudan Irjen Pol Ferdy Sambo, yang mengaku menembak mati Yosua.

Bharada E dijerat dengan menggunakan pasal 338 juncto pasal 55 dan pasal 56 KUHP. Konstruksi pasal tersebut akan bisa melihat siapa yang menyuruh, memberikan kuasa, dan termasuk memberikan kesempatan hingga kejahatan terjadi. ’’Nantinya rekomendasi Irsus itu akan melihat peran bagiannya,” tuturnya.

Tim khusus juga akan memberikan surat rekomendasi untuk evaluasi terhadap kasus yang berjalan di Polda Metro Jaya dan Polres Jaksel. ’’Semua yang terlibat pasti akan diketahui,” tegasnya di lobi gedung utama Mabes Polri kemarin.

Pemeriksaan Ferdy Sambo

Sementara itu, setelah Bharada E ditetapkan sebagai tersangka, kemarin giliran Ferdy Sambo yang diperiksa di Bareskrim. Namun, belum jelas apakah pemeriksaan tersebut terkait kasus dugaan pembunuhan berencana atau pelecehan seksual dan pengancaman.

Sambo tiba di Bareskrim pukul 09.59. Dia didampingi sejumlah ajudannya. Kendati nonaktif, Sambo datang dengan mengenakan seragam lengkap.

Sambo menuturkan bahwa kehadirannya memenuhi panggilan penyidik Bareskrim Polri. Pemeriksaan kali ini merupakan pemeriksaan keempatnya. ”Sebelumnya, saya sudah memberikan keterangan ke penyidik Polres Jaksel, Polda Metro Jaya, dan kini Bareskrim,” ujarnya.

Suara Sambo terdengar setengah berteriak. Dia meminta maaf terhadap Polri terkait peristiwa di rumah dinasnya. ”Selaku ciptaan Tuhan, saya menyampaikan permohonan maaf kepada Polri,” ujarnya.

Dia juga memberikan ucapan belasungkawa atas meninggalnya Brigadir Yosua. Diharapkan keluarga mendapat kekuatan. ”Semua itu terlepas dari apa yang dilakukan Saudara Yosua terhadap istri dan keluarga saya,” jelasnya. Mantan Dirtipidum itu meminta semua pihak tidak membuat persepsi dan asumsi dalam peristiwa di rumah dinasnya. ”Saya juga minta doa agar istri pulih dari trauma dan anak-anak bisa melewati kondisi tersebut,” tuturnya, lalu masuk ke kantor Bareskrim.

Pemeriksaan terhadap Sambo berjalan cukup lama. Dia baru keluar dari Bareskrim pukul 17.10. Itu berarti Sambo diperiksa sekitar tujuh jam. Saat keluar, dia lebih irit bicara. ”Soal pemeriksaan tanya ke penyidik ya,” ujarnya sembari berjalan masuk ke mobilnya.

Selang satu menit kemudian, kuasa hukum Bharada E, Andreas Nahot Silitonga, mendatangi Bareskrim. Dia mengatakan, kliennya sudah ditetapkan sebagai tersangka saat masih diperiksa sebagai saksi. ”Penetapannya kan Rabu (4/8) malam,” ujarnya. Padahal, Bharada E baru selesai diperiksa Kamis (5/8) pukul 01.02 dini hari. Kondisi tersebut membuat kuasa hukum mempertanyakan. ”Apakah penetapan tersangka tersebut mempertimbangkan keterangan Bharada E,” tuturnya. Padahal, sudah sangat jelas bahwa Bharada E mengaku ditembak lebih dulu oleh Brigadir Yosua. Artinya, penembakan yang dilakukan Bharada E merupakan upaya membela diri. ”Kami menyayangkan penetapan tersangka ini,” terangnya.

Dia menuturkan bahwa Bharada E dijerat dengan pasal 55 dan pasal 56 KUHP. Dalam pasal tersebut diketahui adanya unsur penyertaan atau pelaku lainnya. Serta harus dengan niat yang sama. ’’Nah, padahal tembak-menembak ini satu lawan satu,” jelasnya. Dia mengaku bingung dengan konstruksi pasal yang menjerat kliennya. ”Siapa yang dimaksud. Ini murni satu lawan satu,” ulangnya.

Pakar hukum pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar menegaskan, pencantuman pasal 55 dan 56 KUHP dalam perkara Yosua menyiratkan bahwa pelaku pembunuhan tidak hanya melibatkan Bharada E. Itu mengingat bunyi pasal 55 yang mengisyaratkan adanya perbuatan bersama-sama dalam suatu perbuatan tindak pidana.

Sedangkan pasal 56 mengisyaratkan bahwa pelaku, yakni Bharada E, bertindak sebagai pembantu kejahatan. Berarti ada unsur kesengajaan dalam pemberian bantuan itu. Dan kesengajaan memberi kesempatan, sarana, atau keterangan untuk melakukan kejahatan. ”Artinya, ada orang lain yang seharusnya bertanggung jawab selain Bharada E,” kata Fickar kepada Jawa Pos.

Menurut Fickar, pencantuman pasal 55 dan 56 KUHP itu umumnya untuk membuat konstruksi dakwaan bahwa suatu perbuatan tindak pidana tidak ditanggung oleh satu orang. Ada orang lain yang bersama-sama, misalnya, berperan sebagai pihak yang menyuruh. ”Terkait siapa otak di antara pelaku nanti, itu yang akan digali JPU di pengadilan,” terangnya.

Fickar menambahkan, langkah Kapolri dan pernyataan tegas presiden yang akan mengungkap kasus meninggalnya Yosua secara terang benderang menjadi kesempatan tim penyidik untuk menindak oknum-oknum polisi yang terlibat. Tim khusus (timsus) bentukan Kapolri juga diharapkan bisa menembus semua hambatan yuridis maupun psikologis. ”Ini zaman transparansi yang umumnya bisa dikontrol. Jadi jika ada yang disembunyikan, pasti akan ketahuan karena akan terlihat tidak logis,” imbuhnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : idr/tyo/c6/oni

Saksikan video menarik berikut ini:

Alur Cerita Berita

Lihat Semua