alexametrics

Putusan Lepas Dibanderol Rp 500 Juta

KPK Tetapkan Hakim PN Balikpapan Tersangka
5 Mei 2019, 12:46:35 WIB

JawaPos.com – Status Kayat, hakim Pengadilan Negeri (PN) Balikpapan, naik menjadi tersangka setelah terjaring operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Jumat (3/5). Dia diduga menerima suap terkait jual beli putusan perkara.

Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif menjelaskan, saat OTT, Kayat tertangkap basah menerima Rp 100 juta. Duit yang dibungkus tas kresek hitam itu merupakan bagian dari komitmen fee antara Kayat dan Sudarman. Nama terakhir merupakan seorang pengembang di Balikpapan yang beperkara di PN. Sudarman didakwa memalsukan surat tanah. Namun, Kayat memutus lepas dari tuntutan hukum pada Desember tahun lalu.

Sebelum menjatuhkan putusan, Kayat bertemu pengacara Sudarman, Jhonson Siburian. Ironis, justru Kayat yang berinisiatif menemui Jhonson dan menawarkan putusan bebas dengan banderol Rp 500 juta. “Desember 2018, SDM (Sudarman) dituntut lima tahun penjara dan beberapa hari kemudian SDM diputus lepas dengan tuntutan (jaksa) tidak diterima,” beber Laode.

Sudarman pun bebas dari perkara pemalsuan surat tanah nomor 697/Pid.B/2018/PN Bpp yang penyidikannya ditangani Polda Kalimantan Timur (Kaltim). Pada Januari, Kayat menagih janji fee Rp 500 juta itu ke Sudarman melalui Jhonson. Namun, pihak Sudarman menjanjikan akan memberikan uang jika tanahnya di Balikpapan terjual.

Nah, Kamis lalu (2/5), Kayat kembali menagih janji tersebut. Kali ini, hakim yang kerap mengadili sidang perkara pidana umum (pidum) itu menanyakan fee kepada Jhonson dengan istilah “oleh-oleh”. “Karena KYT (Kayat) akan pindah tugas ke Sukoharjo, jadi bertanya, oleh-olehnya mana?” kata Laode di gedung KPK kemarin (4/5).

Kayat, hakim PN Balikpapan menyandang status tersangka setelah terjaring dalam OTT KPK pada Jumat (3/5). Dia di-OTT terkait menjual vonis bebas untuk terdakwanya berperkara. (Miftahulhayat/Jawa Pos)

Sehari berselang (Jumat, 3/5), Sudarman mengambil uang Rp 250 juta dari bank. Selanjutnya, Rp 200 juta diserahkan kepada Jhonson. Di hari yang sama, Jhonson memberikan Rp 100 juta kepada Kayat di PN Balikpapan. Proses penyerahan uang tidak secara langsung. Uang ditaruh di mobil Kayat yang dibuka dari kejauhan.

“Setelah RIS (Rosa Isabela, staf Jhonson, Red) dan JHS (Jhonson) pergi, KYT (Kayat) datang ke mobil silver tersebut,” terang Laode. Saat itulah KPK yang sudah mengendus rencana penyerahan uang menangkap Kayat dengan barang bukti berupa uang Rp 100 juta. “Serta ada uang lain Rp 28,5 juta di tas KYT yang diamankan,” imbuh Laode.

Setelah menangkap Kayat, tim KPK mengamankan Jhonson dan stafnya yang kebetulan masih berada di lingkungan PN Balikpapan. Mereka lantas dibawa ke Polda Kaltim bersama barang bukti uang ratusan juta rupiah. Tim kemudian menuju kantor Jhonson dan menyita uang Rp 99 juta. Uang itu diduga bagian dari fee untuk Kayat yang telah disunat Rp 1 juta untuk biaya makan Jhonson dan stafnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (tyo/c17/fal)



Close Ads