alexametrics

Peringatan 2 Tahun Novel, WP KPK Sebar 1.000 Undangan Stop Teror

4 April 2019, 14:30:24 WIB

JawaPos.com – Peringatan dua tahun teror penyiraman air keras yang dialami penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan akan digelar. Tepatnya, pekan depan pada 11 April 2019.

Ini merupakan semacam peringatan ‘ulang tahun’ kedua atas kebuntuan teror itu. Atas teror itu juga, hingga kini penglihatan Novel belum sempurna karena kedua matanya hampir buta.

“Minggu depan atau tepatnya tanggal 11 April 2019, KPK akan memperingati teror penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan yang menyebabkan matanya hampir buta namun pelakunya belum tertangkap,” ucap Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK Yudi Purnomo pada awak media, Kamis (4/4).

Peringatan pekan depan nanti, kata Yudi, akan digelar banyak aksi seperti Panggung Rakyat Antikorupsi sekaligus deklarasi Stop Teror terhadap Pimpinan maupun pegawai KPK. Demi melancarkan aksi ini WP menyebar 1.000 Undangan.

“Sebar 1.000 undangan kepada tokoh nasional, organisasi-organisasi yang pro-pemberantasan korupsi, serta kepada mantan pimpinan sejak periode awal KPK dibentuk yaitu tahun 2003 dan mantan pegawai KPK yang saat ini bekerja di BPK, BPKP, Kementerian Keuangan, Kepolisian, Kejaksaan, LPSK, OJK dan lainnya,” jelasnya.

Selain deklarasi Stop Teror, sambung Yudi kegiatan ini akan berisi sarasehan budaya oleh Cak Nun serta konser musik antikorupsi. Lebih daripada itu, dia masih terus menyerukan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang independen untuk mengusut teror pada Novel.

“Presiden bentuk TGPF. Sebab, kejahatan kemanusiaan kepada penegak hukum harus dituntaskan sekaligus aksi ini menjadi simbol bahwa rakyat indonesia bersatu melawan korupsi,” tuturnya.

Terpisah, penyidik senior KPK Novel Baswedan menanggapi sampai dua tahun teror yang menimpanya, hingga kini belum ada titik terang terkait pelaku sesungguhnya. Dia masih menyerukan hal yang sama yakni presiden mau membentuk TGPF yang independen dan tidak tersandera politik.

“Hampir dua tahun, tidak ada kejelasan pengungkapan pelaku penyerangan, sikap pemerintah seolah membiarkan atau tidak peduli. Tim gabungan bentukan Kapolri belum terlihat kinerjanya, seperti tidak ada kesungguhan mengungkap serangan,” tegas Novel.

Untuk diketahui, Novel yang merupakan penyidik KPK disiram air keras pada subuh 11 April 2017. Akibat peristiwa itu, Novel harus menjalani serangkaian operasi di bagian matanya. Hingga kini, pelaku dan motif penyiraman air keras terhadap Novel itu belum juga terungkap meski Kepolisian telah membentuk tim gabungan yang berisi pakar dan unsur lainnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Intan Piliang



Close Ads