JawaPos Radar

Yusril Klaim Jaksa KPK Gagal Ungkap Kesalahan Syafruddin

03/09/2018, 20:45 WIB | Editor: Kuswandi
Yusril Ihza Mahendra
Yusril Ihza Mahendra saat diwawancara awak media (Ridwan/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Pengacara Syafruddin Arsyad Temenggung, Yusril Ihza Mahendra menilai jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) gagal membuktikan kesalahan kliennya dalam perkara penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Yusril menganggap jaksa hanya mengulang yang tertera dalam dakwaan saat membacakan tuntutan Syafruddin.

"Hal prinsipil yang tidak diungkapkan oleh JPU dalam tuntutan adalah kapan tindak pidana itu terjadi dan seluruh saksi yang hadir di sidang mengatakan kerugian negara terjadi pada 2007," kata Yusril usai sidang tuntutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin, (3/9).

Selain itu, mentan Menkumham tersebut juga juga menilai, isi tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang didakwakan kepada kliennya tidak berdasar dan lemah. Menurut Yusril, JPU tidak berhasil membuktikan adanya fakta misrepresentasi dalam kasus SKL BLBI.

"Tidak seorang pun saksi yang melihat dan mengetahui bahwa Sjamsul Nursalim pernah menyatakan utang petambak adalah lancar dan juga tidak ada bukti surat, ahli dan keterangan terdakwa yang menguatkan tuntutan jaksa. Dengan demikian tuntutan jaksa tidak berdasar dan lemah," kata Yusril
usai menjalani tuntutan kliennya di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Senin (3/9).

Sebelumnya, jaksa KPK menuntut Syafruddin dihukum 15 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Menurut jaksa Syafruddin terbukti merugikan negara Rp 4,58 triliun dalam penerbitan SKL BLBI untuk pemegang saham pengendali Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) Sjamsul Nursalim. Syafruddin juga dianggap memperkaya Sjamsul lewat penerbitan SKL tersebut.

Jaksa menyatakan Syafruddin sebenarnya tahu Sjamsul melakukan misinterpretasi terhadap piutang petambak senilai Rp 4,8 triliun itu. Piutang tersebut menjadi salah satu aset BDNI yang diserahkan Sjamsul untuk membayar BLBI. Namun, Syafruddin tak melaporkannya dan menganggap piutang tersebut sebagai kredit lancar.

Namun, kata Yusril, kliennya telah menyerahkan seluruh tanggung jawab selaku Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada 2004. Termasuk penyerahan hak tagih Rp 4,8 triliun piutang petambak. "Setelah menyerahkan itu, berarti tanggung jawab SAT selesai," tuturnya.

Menurut Yusril jaksa juga gagal menjelaskan soal perubahan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Yusril menjelaskan sejak 2010, UU Tipikor mensyaratkan harus ada kerugian negara yang konkret dalam tindak pidana korupsi. Sebelumnya, menurut dia tindakan-tindakan yang berpotensi menimbulkan kerugian negara sudah bisa dijerat dengan UU Tipikor.

Yusril berpendapat, tindak pidana yang menjerat kliennya terjadi pada 2007 dan baru dituntut pada 2018. Namun, jaksa tidak menjelaskan aturan mana yang dikenakan pada Syafruddin. "Apabila terjadi perubahan hukum ketika peristiwa terjadi maka yang digunakan adalah aturan paling menguntungkan terdakwa," ujarnya.

Lebih lanjut Yusril menuturkan, keputusan Syafruddin juga sudah sesuai dengan Instruksi Presiden nomor 8 Tahun 2002 yang diteken mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Dalam Inpres itu, kata dia, presiden setuju memberikan SKL bagi obligor BLBI yang sudah membayar hutangnya. "Aturan itu dilaksanakan oleh SAT," pungkasnya.

(rdw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up