Sofyan Basir 'Kesetrum' Dugaan Suap PLTU Riau-1

02/09/2018, 05:10 WIB | Editor: Estu Suryowati
Dirut PLN Sofyan Basir usai diperiksa KPK, Jumat (20/7). (Intan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu resmi menetapkan mantan Menteri Sosial (Mensos) Idrus Marham sebagai tersangka. Kader Golkar itu ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi suap PLTU Riau-1.

Selang beberapa hari kemudian, lembaga antirasuah memeriksa secara perdana Idrus. Usai diperiksa perdana, Idrus resmi ditahan selama 20 hari ke depan.

"IM ditahan 20 hari pertama di rutan cabang KPK di K-4," ungkap juru bicara KPK Febri Diansyah.

Penetapan tersangka dan penahanan Idrus yang cepat itu sontak mengejutkan publik. Hal itu mengingat posisi Idrus sebagai seorang mantan Mensos dan aktif di partai besar, Golkar.

Kendati demikian, bukan tanpa alasan proses penahanan Idrus berjalan begitu cepat. KPK mengakui selama ini mantan Sekjen Golkar itu memang selalu bersikap kooperatif.

Idrus selalu mematuhi proses hukum dengan selalu memenuhi panggilan pemeriksaan. Atas dasar itu, dengan kecukupan bukti maka KPK bergerak cepat.

"Kan sudah kami tetapkan sebagai tersangka. Berarti sudah ada minimal dua alat bukti yang cukup. Dan saya pikir, penahanan semakin cepat, semakin baik," beber Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata.

Lantas bagaimana dengan Sofyan Basir yang namanya turut mencuat usai penetapan tersangka Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih sebagai tersangka?

Nama Direktur Utama PT PLN (Persero) itu rupanya tak asing lagi di proyek PLTU Riau-1 ini. Kantornya sempat digeledah beberapa waktu lalu usai penetapan tersangka Eni.

"Hasil geledah, penyidik KPK membawa tiga koper dan empat kardus termasuk rekaman CCTV," imbuh Febri.

Setelah itu, nama Sofyan semakin santer akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus ini. "Setelah melakukan penggeledahan di 8 lokasi sejak Minggu dan Senin. Kamis dan Jumat (15-16 Juli), direncanakan pemeriksaan saksi Idrus Marham (Kamis) dan Sofyan Basir (Jumat)," jelas Febri.

Pada pemeriksaan perdana tanggal 20 Juli, Sofyan mengaku dicecar perihal tugas, fungsi dan kewajibannya sebagai seorang direktur utama. Bos PLN itu juga diminta menjelaskan proses penentuan konsorsium dalam proyek PLTU Riau-1.

"Begini, ada kebijakan yang dikeluarkan oleh PT kepada PJB. Ya, Memang itu ketentuannya. Penugasan," kata Sofyan.

Pada pemeriksaan kedua, Sofyan mangkir. Katanya, sedang ada tugas lain.

Sofyan kembali memenuhi panggilan KPK pada Selasa (7/8). Pemeriksaan kali ini berkaitan dengan pengetahuan Sofyan mengenai pertemuan dengan Eni, Johannes B Kotjo ataupun pihak lain.

Kini, KPK masih terus mendalami keterlibatan Sofyan. Mengenai statusnya akan dinaikkan menjadi tersangka, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata belum bisa memastikan.

"Tentu kami harus berdasar kecukupan alat bukti (untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka). Ketika belum ya kami nilai belum cukup alat bukti, hanya sebagai saksi" ungkapnya, di Pulan Ayer, Kepulauan Seribu.

Alex juga membenarkan adanya dana yang diduga mengalir pada Sofyan. Namun, keterangan itu baru dari satu saksi yakni Eni.

Sedangkan tersangka lain, Kotjo, belum memberikan keterangan apapun. Hingga kini, Sofyan belum memberikan respons ketika dikonfirmasi soal keterangan Eni.

Kini, kasus masih terus bergulir. KPK terus mengembangkan semua informasi dari para saksi. Perihal Sofyan terlibat atau tidak, hanya waktu yang menjawab.

(ipp/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi