JawaPos Radar

Selain Kapal Selam, Ini Alutsista yang Dibutuhkan TNI AL

29/08/2017, 15:37 WIB | Editor: Ilham Safutra
Selain Kapal Selam, Ini Alutsista yang Dibutuhkan TNI AL
KRI Nagapasa - 403 (Dispenal for Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Sebagai negara kepulauan, Indonesia memang membutuhkan armada militer berbasis maritim. Kehadiran KRI Nagapasa-403 di Dermaga Kapal Selam Koarmatim, Ujung, Surabaya, pada Senin pagi (28/8), menjadi jawaban kesiapan TNI AL untuk menghadapi berbagai ancaman di laut yang akan muncul ke depannya.

Selain ancaman di perairan Laut Cina Selatan, Indonesia perlu memperhatikan ancaman non tradisional. Hal ini mengacu pada pemenuhan standar Minimum Essential Forces (MEF) untuk melindungi kedaulatan teritori Indonesia.

"Kita perlu memberikan perhatian kepada kejahatan transnasional seperti maritime piracy (pembajakan di tengah laut) dan ilegal fishing," jelas pengamat Militer dan Geopolitik Universitas Brawijaya Ni Komang Desy Arya Pinatih kepada JawaPos.com, Selasa (29/8).

Selain Kapal Selam, Ini Alutsista yang Dibutuhkan TNI AL
KRI Nagapasa - 403 (Dite Surendra/ Jawa Pos)

Analisis Desy, sapaan akrabnya, mengacu pada data yang tercatat di International Maritime Bureau. Pada 2018 terdapat 108 kasus pembajakan yang terjadi di perairan Indonesia.

Dalam konteks piracy, International Maritime Bureau mencatat pada 2016 terdapat 108 pembajakan di perairan Indonesia. Angka pembajakan di laut itu turun menjadi 49 kasus hingga awal tahun ini.

"Walaupun trennya menurun, namun maritime piracy masih menjadi ancaman nyata di perairan Indonesia," tambah akademisi lulusan pasca sarjana Universitas Indonesia tersebut.

Selain maritime piracy, ancaman kelautan Indonesia juga datang dari kejahatan ilegal fishing. Data yang dihimpun, gara-gara ilegal fishing, Indonesia merugi hingga USD 20 miliar per tahun.

Berkaca pada kedua ancaman itu, Desy melihat bahwa Indonesia perlu memiliki armada boat patroli. "Poinnya di sini adalah, Indonesia mungkin butuh kapal selam. Tapi jika merujuk pada ancaman yang sekarang sedang dihadapi Indonesia, akan lebih layak jika menambah armada boat patrol. Ini sesuai dengan kondisi perairan kita," sebut Desy.

Soal pemilihan Korea Selatan sebagai partner pengadaan kapal selam, Desy melihat hal itu dilakukan karena pertimbangan strategis. Selama ini Indonesia punya rekam jejak kemitraan strategis untuk pengadaan alutsista dengan beberapa negara, seperti Rusia, Brasil, dan Amerika Serikat.

Pangarmatim Laksda TNI Darwanto mengungkapkan, Korea Selatan dipilih karena pertimbangan biaya operasional yang lebih murah. "Selain itu teknologinya juga cocok dengan kebutuhan negara-negara asia," sebut Darwanto, Senin (28/9).

Logika tersebut bisa diterima dengan kondisi anggaran pertahanan Indonesia saat ini. Namun poin yang lebih penting, Indonesia tidak ingin mengulangi pengalaman buruk tidak punya mitra strategis saat diembargo oleh Amerika Serikat.

"Preferensi Indonesia sekarang kerja sama (di bidang militer) dengan banyak negara. Menjalin kemitraan strategis, khususnya industri militer tidak serta merta bahwa Indonesia menjalin aliansi dengan negara tersebut," ungkap perempuan asal Pulau Dewata tersebut.

(did/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up