alexametrics

Tito Pastikan Tak Ada Faksi di Tubuh Polri

25 Januari 2019, 15:35:47 WIB

JawaPos.com – Kemarin (24/1) Polri menggelar serah terima jabatan (sertijab) sejumlah pati. Namun, yang menjadi sorotan adalah mutasi terhadap Komjen Arief Sulistyanto dari jabatan Kabareskrim menjadi kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat). Kapolri Jenderal Tito Karnavian menampik terjadinya faksi atau perpecahan dalam Polri lantaran mutasi itu.

Dalam sertijab tersebut, secara resmi Arief Sulistyanto menjabat Kalemdikat. Lalu, Irjen Idham Aziz resmi menjadi Kabareskrim kendati belum naik pangkat menjadi komjen. Lalu, jabatan Kapolda Metro Jaya yang ditinggalkan Idham resmi diemban Irjen Gatot Eddy Pramono.

Selain Kapolda Metro Jaya, empat jabatan Kapolda lainnya diisi pejabat baru. Pati Densus 88 Antiteror Polri Irjen Hamidin ditunjuk sebagai Kapolda Sulawesi Selatan. Dia menggantikan Irjen Umar Septono yang dimutasi menjadi Wairwasum Polri.

Tito Pastikan Tak Ada Faksi di Tubuh Polri
Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan tidak ada faksi di internal Polri. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Selanjutnya, Wakapolda Jawa Barat Brigjen Supratman diangkat dalam jabatan baru sebagai Kapolda Bengkulu. Dia menggantikan Brigjen Coki Manurung yang dimutasi menjadi Widyaiswara Utama Sespim Lemdiklat Polri. Karopsi SSDM Polri Brigjen Suroto ditunjuk sebagai Kapolda Maluku Utara. Dia menggantikan posisi Brigjen M. Naufal Yahya yang dimutasi menjadi Waketbid­kermadianmas STIK Lemdiklat Polri.

Kemudian, Wakapolda Kalimantan Timur Brigjen Lukman Wahyu Harianto diangkat menjadi Kapolda Sulawesi Tengah. Dia menggantikan Brigjen Ermi Widyatno yang dipindah menjadi Karobinopsnal Baharkam Polri.

Tito Karnavian menyatakan, perlu ditekankan bahwa pergantian pejabat di Polri itu tidak ada kaitannya dengan faksi-faksi dan friksi di internal. “Polri tetap solid,” tegasnya. Dia menambahkan, dalam suatu organisasi biasa terjadi perbedaan. Bahkan, dalam satu keluarga pasti terjadi perbedaan. Namun, perbedaan itu tidak menimbulkan dampak destruktif. “Justru memperkuat kebijakan melalui mekanisme check and balances. Perbedaan adalah demokrasi,” ujarnya.

Dia berharap, dalam organisasi, apa pun perbedaan yang terjadi justru bisa memperkaya dalam rangka mengambil keputusan terbaik bagi bangsa dan negara. “Saya juga meminta eksternal Polri untuk tidak berasumsi sendiri,” urainya. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (idr/c10/fim)

Tito Pastikan Tak Ada Faksi di Tubuh Polri