JawaPos Radar

Nilai Budaya sebagai Benteng Jati Diri Bangsa

22/06/2018, 21:12 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Nilai Budaya sebagai Benteng Jati Diri Bangsa
Kepala Kantor Staf Presiden, Moeldoko. (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Nilai-nilai luhur budaya bangsa harus terus ditanamkan kepada generasi muda. Dengan demikian dapat menjadi pondasi kuat dalam menghadapi kuatnya arus dan pengaruh budaya luar yang dirasa tidak sesuai, serta dapat mencerabut jati diri bangsa.

"Anak-anak muda perlu dikenalkan kepada budaya-budaya lokal, sehingga tidak tercerabut identitasnya, identitas budayanya, sosialnya. Hal ini sangat penting," kata Kepala Kantor Staf Presiden, Moeldoko, Jumat (21/6).

Era globalisasi menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Dimana, segala norma dan etika yang menjadi kekuatan, tidak tergerus dengan kemajuan zaman. Justru sebaliknya, dapat tetap hidup ditengah arus global.

"Yang paling penting, agar dalam permainan global, nilai-nilai budaya lokalnya tidak tercerabut," tandasnya.

Dia mengatakan melestarikan seni dan budaya merupakan salah satu upaya untuk menjaga kesatuan bangsa. Dimana salah satu ciri terjadinya perang kebudayaan adalah munculnya upaya masif untuk menghilangkan keyakinan atau ideologi sebuah bangsa.

Oleh karenanya, untuk menghadapi ancaman itu, terutama dengan makin maraknya hoaks, berita palsu dan ujaran kebencian yang berkembang begitu garang, kita tak boleh limbung, was-was, atau skeptis. Sebaliknya, kita harus menjaga dan memperkuat keyakinan dan konsensus yang telah didirikan para ‘founding fathers’ bangsa ini.

"Melalui seni, kita sungguh amat berharap agar nilai-nilai luhur bangsa itu, terus terjaga," kata Moeldoko.

Pameran tersebut menampilkan 217 karya seni yang dikerjakan bersama dua seniman berbeda latar belakang selama enam bulan terakhir.

Moeldoko juga menunjukkan salah satu karya dalam ruang pameran, yakni sebuah payung tanpa kain, yang lebih menyerupai tongkat. "Karya itu menunjukkan pentingnya kita memiliki pegangan atau penuntun. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia perlu memiliki pegangan yang kuat," tegasnya.

Mantan Wakil Gubernur Lemhanas ini memaparkan, berbagai kebijakan pemerintahan Presiden Jokowi telah menjadi ‘payung’ dan tongkat penuntun bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Kebijakan BBM Satu Harga, misalnya. Itu adalah upaya hadirnya sebuah negara untuk melindungi masyarakatnya tanpa terkecuali," ungkapnya.

Kurator Agung Hujatnikajenong menjelaskan, sisi menarik kolaborasi Goenawan Mohamad dan Hanafi karena dua seniman itu tak hanya berpameran bersama, tapi mereka juga melebur, menghilangkan identitas masing-masing.

Sementara itu, Rektor Universitas Ibnu Chaldun Musni Umar mengamini pernyataan Moeldoko. Indonesia memang menghadapi situasi yang tidak mudah dalam masalah pengaruh budaya asing. Saat ini, kebudyaan melalui medsos dan media konvensional tidak bisa dibendung. "Saya kira tantangannya memang sulit, karena tidak ada pijakan bersama dari pemerintah pusat dan daerah dalam hal seni dan budaya," ujarnya saat dihubungi wartawan.

Ia menilai perlu dihidupkan kembali model kebijakan era orde baru seperti Garis Besar Haluan Negara (GBHN). "Saat ini kan mungkin kebijakan pemerintah pusat dan daerah banyak yang tidak sinkron, termasuk dalam hal budaya, padahal kebudayaan local adalah kebudayaan nasional," tuturnya.

(jpg/bin/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up