alexametrics

Demi Menjadi Poros Maritim Dunia, Militer Nasional Tatap Nanoteknologi

21 Juli 2019, 21:07:24 WIB

JawaPos.com – Cita-cita Indonesia menjadi poros maritim dunia harus ditunjang dengan pertahanan militer yang kuat dan punya visi. Tentu untuk bisa disegani di tataran regional serta global, maka butuh peningkatan teknologi yang lebih canggih lagi.

“Seperti yang pernah disampaikan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu bahwa tanpa visi, jangan pernah berpikir republik ini akan melaju dengan kecepatan tinggi,” demikian disampaikan pakar pertahanan nasional Connie Rahakundini Bakrie, di acara Inaugurasi kerja sama Pravitna Nanoteknologi Indonesia yang berlangsung di Ancol, Minggu (21/7) sore.

Diketahui, Pravitna Nanoteknologi Indonesia sendiri merupakan perusahaan yang berbasis di Kyiv, Ukraina. Perusahaan ini bergerak dalam bidang teknologi nano, yang mengontrol zat, material dan sistem pada skala nanometer, sehingga menghasilkan fungsi baru yang belum pernah ada.

Acara pada sore itu juga dihadiri oleh HE. Volodymir Pakhil selaku Duta Besar berkuasa penuh Ukraina di Indonesia, Petrus Freddy Cahyono sebagai CEO Pravitna Nanoteknologi Indonesia, serta Andhika Monoarfa dan Norman Joesoef mewakili pelaku Industri Pertahanan Swasta Nasional yang juga menjadi partner Pravitna Nanoteknologi Indonesia.

Connie juga menuturkan, dalam konteks pertahanan dan cita-cita Poros Maritim Dunia, ada beberapa hal yang harus ditekankan ke depannya. Mulai dari yakin pada kekuatan sendiri, percaya pada ruang, manusia, serta kemampuan yang dimiliki. Lalu, memahami fungsi tugas utama pertahanan keamanan negara dalam mewujudkan kepentingan nasional.

“Visi Poros Maritim Dunia dan Nawacita secara otomatis mewajibkan TNI untuk berkemampuan dan bersifat outward looking.” ujarnya.

Seluruh elemen bangsa harus memiliki kesadaran akan pembangunan dan gelar kekuatan postur pertahanan, alat peralatan pertahanan serta perkembangan teknologi pertahanan, di mana ke semua ini sangat terkait erat pada inovasi teknologi pertahanan.

Ini, lanjut Connie, menjadi ruang bagi pelaku teknologi pertahanan untuk masuk dan berkontribusi. Khususnya teknologi tinggi seperti yang dikembangkan oleh Pravitna Nanoteknologi Indonesia.

Ukuran 1 nanometer adalah 1 per satu miliar meter yang berarti 50.000 kali lebih kecil dari ukuran rambut manusia. Dengan teknologi ini kita dapat membuat zat menjadi ukuran yang sangat kecil, dan karena itu pula maka sifat dan fungsi zat tersebut bisa diubah sesuai dengan yang kita inginkan.

Beberapa hasil penerapan teknologi nano bisa dirasakan masyarakat dan berguna dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam bidang medis dan pengobatan, molekul dalam skala nano yang bersifat multifungsi berguna untuk mendeteksi kanker dan bisa menghantarkan obat langsung ke sel target.

Dalam sektor industri tekstil, penggunaan nano partikel akan membuat tekstil dan pakaian menjadi mudah untuk dibersihkan. Sementara itu, dalam bidang olahraga, nano partikel digunakan untuk membuat peralatan olahraga menjadi lebih kuat, lebih baik, dan berdaya guna tinggi.

“Penggunaan Nanoteknologi pada TNI-Polri nanti diharapkan bisa meningkatkan aspek perlindungan yang lebih tinggi dan memiliki daya tahan diri lebih baik. Sehingga itu mendukung kapasitas tentara dan polisi kita di masa depan sesuai visi Poros Maritim Dunia dan Nawacita,” pungkasnya.

Sementara itu, CEO Pravitna Nanoteknologi Indonesia Petrus Freddy Cahyono mengatakan, nanoteknologi dapat mengubah paradigma yang ada saat ini. Penerapan nanoteknologi di industri pertahanan bisa untuk mengganti beban berat baju pelindung prajurit menjadi bahan yang lebih ringan namun lebih kuat.

Pravitna sendiri, sambung Petrus, berpengalaman dalam industri nanoteknologi untuk Aerospace dan Marine Underwater, Mikrobiologi untuk manusia, peternakan, dan pertanian. Ia yakin, peresmian Pravitna Nanoteknologi Indonesia akan memacu pengembangan nanoteknologi yang sebelumnya sudah dijalankan di sektor pertanian, peternakan, serta industri pertahanan.

Editor : Dimas Ryandi



Close Ads