alexametrics

Bamsoet Prihatin 80 Persen Alutsista di Indonesia Hasil Impor

21 Februari 2018, 19:16:56 WIB

JawaPos.com – Ketua DPR Bambang Soesatyo mendukung penuh berkembangnya industri pertahanan (Inhan) dalam negeri. Pasalnya, inhan bisa meningkatkan nilai tambah bagi bangsa Indonesia. Seperti dari sisi tenaga kerja dan perputaran ekonomi nasional.

“Kalau BUMN tidak mampu maka lebih baik diajak berembuk para pelaku inhan swasta agar bisa dikerjakan di dalam negeri,” kata politisi yang akrab disapa Bamsoet itu saat membuka acara Rapat Umum Anggota Luar Biasa Perhimpunan Industri Pertahanan Swasta Nasional (Pinhantanas) di Jakarta, Rabu (21/2).

Bamsoet juga menuturkan, kebutuhan pertahanan dan keamanan nasional tidak boleh bergantung pada industri dari luar negeri karena produsen lokal Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) terbukti lokal sudah mampu menghasilkan produk berkualitas.

Selain itu, politisi Golkar ini mengkritik perlakuan khusus yang diberikan kepada BUMN dalam pembuatan alutsista, namun kenyataannya sebagian besar tidak dibuat di dalam negeri.

“Saya dapat informasi, hampir 80 persen peralatan pertahanan impor namun sampai ke Indonesia hanya ganti merek. Kita tidak boleh membohongi diri sendiri,” ujarnya.

Karena itu, Bamsoet meminta Komisi I DPR untuk memperhatikan hal tersebut karena impor bisa dilakukan, kalau Indonesia ternyata tidak mampu memproduksi. Namun kenyataannya industri pertahanan lokal yang mampu bersaing.

Apalagi, lanjutnya, saat ini kekuatan militer Indonesia masuk dalam 14 besar di dunia dan diyakini bisa masuk 10 besar namun harus ditopang dengan dana yang besar.

“Anggaran pertahanan Indonesia tiap tahun terus meningkat, di APBN 2018 alokasinya senilai Rp 107 triliun, dan Rp 15 triliun dialokasikan untuk membeli alutsista,” katanya.

Sementara itu, Ketua Harian Pinhantanas, Mayjen (Purn) Jan Pieter Ate mengatakan, menurut Undang-Undang no.16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, ada dua pelaku utama Industri ini, yakni dari BUMN dan swasta.

Menurut Jan Pieter, keduanya bersatu padu memenuhi kebutuhan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) di Indonesia dan Pinhantanas bertindak sebagai payung bagi Badan Usaha Milik Swasta penyedia Alpalhankam.

“Ada 81 pelaku usaha swasta yang berkecimpung dalam pemenuhan kebutuhan Alpalhankam dalam negeri. Mulai dari pabrik pembuat kapal di Tanjung Priok, Pembuat radio komunikasi, sistem manajemen perang, hingga bom untuk pesawat tempur,” katanya.

Jan Pieter juga menegaskan, tujuan dari keberadaan Pinhantanas dan Industri Pertahanan Swasta Nasional adalah mempercepat penguasaan teknologi pertahanan keamanan. 

“Jadi pada akhirnya memperkecil gap teknologi hingga pertahanan kita tidak perlu lagi bergantung pada impor dari luar negeri,” pungkasnya.

Editor : Fersita Felicia Facette

Reporter : (ce1/gwn/JPC)

Bamsoet Prihatin 80 Persen Alutsista di Indonesia Hasil Impor