Alutsista Tua-Muda Harus Kerja Keras

Oleh Khairul Fahmi*

12/09/2018, 17:35 WIB | Editor: Ilham Safutra
()
Share this

JawaPos.com -  TNI-AL baru saja merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-73. Sayang, perayaan yang meriah meski tanpa kehadiran panglima TNI itu sedikit tercederai kabar duka.

Salah satu kapal milik mereka, yaitu KRI Rencong yang bernomor lambung 622, terbakar di perairan Sorong, Papua Barat.

Penyebab kecelakaan belum terang betul. Informasi yang beredar menyebutkan, mesin penggerak turbin mengalami overheating, lalu meledak. Untung, tak ada kerugian personel dalam musibah itu. Namun, kapal tak bisa diselamatkan.

Musibah tersebut tak ayal memantik pertanyaan klasik tentang alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dioperasikan oleh TNI-AL. Apakah alutsista yang sudah dioperasikan puluhan tahun masih layak untuk dipertahankan atau sejatinya perlu peremajaan?

Meski pertanyaan sederhana, menurut saya, jawabannya tak sederhana. Secara ideal, tentu saja jika pertanyaan itu diajukan kepada para petinggi TNI-AL, jawabannya bisa ditebak: butuh peremajaan. Masalahnya, kemampuan keuangan negara menuntut TNI-AL harus pintar-pintar mengelola prioritas. Kebutuhan begitu banyak, sementara uangnya terbatas.

KRI Rencong 622 adalah kapal buatan Korea Selatan yang berlayar sejak 1979. Hampir 40 tahun. Bersama saudara-saudaranya sekelas di Satuan Kapal Cepat, yaitu KRI Mandau, Keris, dan Badik, kapal cepat rudal (KCR) itu adalah salah satu andalan dan ujung tombak dalam penegakan keamanan laut. Ketika terbakar, KRI Rencong sedang melaksanakan tugas operasi di bawah kendali Gugus Keamanan Laut Komando Armada III.

Kembali ke masalah kebutuhan alutsista dan peremajaan, prioritas kemudian menuntut TNI-AL untuk membagi alokasi anggarannya secara proporsional. Mulai pengembangan organisasi dan satuan untuk menjawab tantangan dan ancaman terhadap kedaulatan dan keamanan laut kita; pemeliharaan dan peningkatan kemampuan satuan, termasuk juga personelnya; hingga kebutuhan alutsista baru maupun yang terkait dengan pemeliharaan, perawatan, dan gelar operasinya.

Artinya, tak mudah bagi TNI-AL merealisasi hal-hal yang telah disusun dalam rencana strategis (renstra) secara ideal. Peremajaan harus dilakukan secara bertahap dengan sangat cermat dan hati-hati.

Armada tua pun akhirnya masih harus difungsikan secara maksimal karena realisasi pengadaan alutsista baru tak berbanding lurus dengan perkembangan potensi gangguan dan ancaman. Apalagi, beberapa tahun terakhir pemerintah tengah berfokus mengamankan perairan dari aksi pencurian ikan oleh kapal-kapal asing, memberantas penyelundupan, dan mengatasi kerawanan di laut.

Nyaris tak ada kesempatan berleha-leha bagi armada-armada laut kita. Tak peduli tua atau muda, semua harus bekerja keras. Masalahnya kemudian, apakah itu sudah dibarengi dengan upaya pemeliharaan dan perawatan yang maksimal? Itulah yang harus dievaluasi pihak TNI-AL, termasuk juga menjawab apakah alokasi anggaran sudah cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Di sisi lain, kita tak bisa juga memungkiri rumor-rumor di lapangan bahwa praktik-praktik buruk belum benar-benar hilang. Anggaran yang tak seberapa itu masih mungkin terkoreksi lagi jika terjadi korupsi dan manipulasi mulai kelas teri hingga kakap.

Saran saya, selain melakukan investigasi yang saksama dan mendalam terkait dengan musibah yang menimpa KRI Rencong, TNI-AL perlu serius memastikan diri jauh dari peluang terjadinya praktik-praktik buruk birokrasi. Kecelakaan itu harus disikapi dengan serius. Bagaimanapun, itu akan mengakibatkan berkurangnya kesiapan operasional dan berdampak peningkatan beban kerja kapal-kapal lain, yang sebagian jelas berusia tak muda lagi.

Pemerintah juga harus diingatkan untuk mempertimbangkan porsi anggaran yang lebih proporsional dan disiplin pada prioritas. Jika tidak, cita-cita mulia memperkuat jati diri se­bagai negara maritim seperti yang tercantum sebagai program pertama Nawacita hanyalah omong kosong belaka.

Artinya, slogan "kerja kerja kerja" dalam upaya menunjukkan negara hadir melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara tak boleh mengabaikan ke­selamatan dan kondisi alutsista itu sendiri. Kita sedang ingin tegak berwibawa, bukan?

*) Direktur Institute for Security and Strategic Studies (ISESS)

(*/c11/agm)

Berita Terkait

Rekomendasi