alexametrics

Pendekatan Sosial-Kultural Wajib bagi Kami

Oleh Yudi Kristanto*
10 Desember 2018, 11:10:48 WIB

JawaPos.com – Visi membangun infrastruktur di Papua itu seragam. Pemerintah maupun kontraktor yang mengerjakan proyek di sana punya misi besar. Yakni, mewujudkan Papua yang lebih sejahtera.

PT Istaka Karya sebagai salah satu badan usaha milik negara (BUMN) mendapat amanat melaksanakan pembangunan infrastruktur di sana. Kami ingin masyarakat setempat bisa lebih dekat mengakses berbagai kebutuhan mereka.

Pendekatan Sosial-Kultural Wajib bagi Kami
Aparat TNI/Polri mengevakuasi korban kebiadaban KKSB di Papua. (Deny/Cenderawasih Pos/Jawa Pos Group)

PT Istaka Karya bukan kali pertama membangun infrastruktur di Papua. Belasan tahun lalu kami pernah membangun jalan di sana. Kami juga pernah membangun gedung pemerintah. Karena itu, kami sudah punya pengalaman melaksanakan pembangunan di Papua. Termasuk di antaranya gejolak atau konflik yang biasa terjadi. Potensi ancaman dan gangguan juga sudah masuk skema mitigasi kami.

Papua memang salah satu daerah yang berisiko tinggi. Karena itu, dalam setiap pekerjaan di Papua, kami selalu mendengarkan rekomendasi aparat keamanan. Baik TNI maupun Polri. Kami bekerja dan membangun di sana sesuai rekomendasi itu. Tentu tanpa melupakan aspek-aspek lain. Khususnya yang berhubungan langsung dengan masyarakat setempat. Itu menjadi perhatian kami.

Dalam proyek jalan trans-Papua, kami juga melakukan pendekatan sosial-kultural. Itu wajib dan mutlak. Sejak 2016 sampai 2019, kami punya kontrak membangun 14 jembatan di jalan trans-Papua. Di antara 14 jembatan itu, pembangunan 11 jembatan sudah berjalan. Rata-rata persentase pembangunan sudah mencapai 70 persen. Untuk tiga jembatan lain, memang belum ada progres. Sebab, pembangunan belum berjalan.

Karena pendekatan sosial-kultural penting bagi kami, seluruh pekerja proyek jalan trans-Papua sudah dibekali kewajiban untuk turut serta dalam setiap kegiatan masyarakat. Termasuk yang berkaitan dengan agenda adat seperti upacara bakar batu. Sebelum musibah di Distrik Yigi terjadi, ada pekerja kami yang ikut upacara bakar batu. Itu wujud komitmen kami sepanjang melaksanakan tugas di Papua.

Kami harus dekat dengan masyarakat. Dengan begitu, masyarakat memberikan dukungan. Terbukti, dari cerita pekerja yang selamat, kami mengetahui bahwa mereka dilindungi masyarakat setempat sehingga tidak dieksekusi. Pendekatan sosial-kultural itu kami laksanakan melalui banyak tokoh masyarakat. Juga kami laksanakan dengan melibatkan masyarakat setempat dalam pembangunan infrastruktur di Papua.

Di antara 14 proyek yang kami kerjakan, ada yang secara total digarap masyarakat setempat. Kami juga memastikan keterlibatan pekerja harian lepas yang berasal dari masyarakat setempat. Tidak benar jika ada yang menyebut kami tidak melibatkan masyarakat setempat. Sebab, dalam pembangunan jembatan di Nduga, ada warga setempat yang kami pekerjakan.

Musibah yang menimpa kami memang mengejutkan. Juga cukup berpengaruh terhadap kondisi psikologis kami. Sepanjang membangun Papua, baru kali ini kami kena musibah. Namun, semua itu tidak melunturkan semangat kami untuk membangun Papua. Pekan depan konsolidasi dengan Kementerian PUPR dan aparat keamanan akan kami lakukan. Kami memastikan persiapan untuk melanjutkan pembangunan. Demi Papua yang lebih sejahtera. 

*) Sekretaris Perusahaan PT Istaka Karya

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (syn/seperti disarikan dari wawancara/c11/oni)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Pendekatan Sosial-Kultural Wajib bagi Kami