alexametrics

Pelaku Pembantaian di Papua Diduga Kelompok Separatis Lama

Beberapa Bulan Lalu Memerkosa Guru
5 Desember 2018, 10:18:06 WIB

JawaPos.com – Kronologi insiden maut yang diduga menewaskan puluhan pekerja proyek di Kabupaten Nduga mulai tergambar. Aksi biadab itu diduga dilakukan kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) pimpinan Egianus Kogoya. Egianus berhasil menghasut warga setempat hingga akhirnya membunuh para pekerja dan menyerang pos TNI.

Gambaran tentang kejadian maut itu terungkap setelah TNI-Polri menemukan empat orang yang berhasil menyelamatkan diri dari kejaran KKSB pada Selasa (4/12) di Distrik Yigi. Empat orang itu adalah Marthinus Sampe, Jufrianto, Irawan, dan Jhon.

Dari pemantauan Cenderawasih Pos di lapangan, tiga korban yang mengalami luka tembak, yaitu Marthinus Sampe, Jufrianto, dan Irawan, dievakuasi dari Distrik Mbua ke Wamena dengan helikopter. Helikopter tersebut mendarat di Mako Batalyon Infanteri Raider 756/Wimane Sili sekitar pukul 18.30 WIT. Tiga korban yang terluka itu langsung dilarikan ke RSUD Wamena.

Pelaku Pembantaian di Papua Diduga Kelompok Separatis Lama
Anggota Brimob ikut dikerahkan ke Nduga untuk mengevakuasi warga yang menjadi sasaran para separatis. (Deny/Cenderawasih Pos/Jawa Pos Group)

“Empat orang ini adalah korban penembakan yang berhasil meloloskan diri saat terjadi penyerangan oleh KKSB,” terang Kabidhumas Polda Papua Kombespol A.M. Kamal.

Dia menerangkan, empat warga itu memilih menyelamatkan diri ke Mbua. Sebab, mereka tahu, Mbua merupakan jalur yang aman menuju Wamena.

Menurut keterangan korban yang selamat, sebuah pos TNI diserang KKSB. Akibatnya, seorang anggota TNI meninggal. Dari keterangan mereka, diketahui pula bahwa KKSB tersebut dipimpin Egianus Kogoya. Saat melakukan penyerangan, mereka dibantu sekitar 250 warga lokal.

Hingga kemarin sore (4/12), pasukan gabungan TNI-Polri berusaha menjangkau lokasi proyek jembatan trans-Papua di Distrik Yigi. Pasukan bergerak bersama-sama dari Wamena di Kabupaten Jayawijaya melalui jalur darat. Dibutuhkan waktu 8-12 jam untuk menjangkau Distrik Yigi.

“Tentu, pergerakan itu tidak mempertimbangkan kecepatan. Namun, kami pertimbangkan keamanan,” ujar Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi.

Tugas awal adalah memastikan seluruh informasi yang diterima TNI maupun Polri. Mereka perlu melakukan itu lantaran informasi tentang pembunuhan tersebut masih satu arah. Petugas tidak bisa mengonfirmasi ulang karena terkendala akses komunikasi. Sejauh ini, analisis dan identifikasi Kodam XVII/Cenderawasih merujuk pada informasi awal. Salah satunya soal pimpinan KKSB yang diduga menghabisi puluhan pekerja bangunan itu.

Menurut Aidi, para pelaku adalah kelompok lama yang selama ini berbasis di Nduga. Yakni, KKSB pimpinan Egianus Kogoya. Akhir Oktober lalu, mereka juga beraksi di Mapenduma, distrik yang bersebelahan dengan Distrik Yigi. Di Mapenduma, mereka menyandera dan memerkosa guru. ”Dia yang melakukan penganiayaan terhadap guru dan tenaga kerja,” ujarnya.

Walau belum bisa memastikan, Aidi menuturkan, tidak tertutup kemungkinan puluhan pekerja PT Istaka Karya dibunuh karena kelompok tersebut merasa terusik. Minggu (1/12) kelompok itu melaksanakan upacara peringatan hari kemerdekaan Papua Barat. Aktivitas tersebut lantas diabadikan pekerja yang membangun jembatan di sana. ”Sehingga mereka marah,” ungkap Aidi. Diduga, saat itulah pelaku memberondong para pekerja dengan tembakan.

Selain itu, lanjut Aidi, kelompok tersebut memang sudah lama tidak senang dengan upaya pemerintah dalam membangun Papua. Mereka khawatir pembangunan itu membuat masyarakat semakin percaya dan yakin untuk membela NKRI. Sebab, pelan-pelan pembangunan infrastruktur membuat masyarakat kian mudah beraktivitas. ”Makin banyak masyarakat yang pro-NKRI. Mereka merasa terhambat perjuangannya,” tuturnya.

Bukan hanya pekerja yang membangun infrastruktur, aparat TNI-Polri juga kerap menjadi sasaran. Bahkan, tidak sedikit yang kehilangan nyawa. Senjata api yang dimiliki KKSB kebanyakan diperoleh dari merampas senjata petugas.

Senjata api itu pula yang diduga kuat digunakan menyerang pekerja PT Istaka Karya. Senin malam (3/12) mereka juga menyerbu pos Batalyon Infanteri (Yonif) 755/Yalet. Menurut Wakapendam XVII/Cenderawasih Letkol Infanteri Dax Sianturi, pos itu berada di wilayah Distrik Mbua, distrik yang juga berdekatan dengan Distrik Yigi.

Dax menyampaikan, personel TNI-Polri yang bertolak dari Wamena tiba di pos Yonif 755/Yalet sekitar pukul 14.00 kemarin. ”Didapat informasi, pos Yonif 755/Yalet di Distrik Mbua juga diserang KKSB kemarin malam (Senin) sekitar pukul 18.30,” ujarnya.

Akibat serangan itu, seorang prajurit TNI meninggal. Seorang lainnya terluka. Setelah mendapat laporan tersebut, personel TNI-Polri menyisir Distrik Mbua. Mereka juga beristirahat di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Distrik Yigi. ”Jarak dari Distrik Mbua ke Distrik Yigi masih sekitar 10 kilometer,” jelas Dax. Tentu saja, medannya tidak mudah ditempuh.

Di Distrik Mbua, personel gabungan itu mengevakuasi 12 warga sipil. Sampai kemarin, jumlah korban penembakan oleh KKSB di Papua belum bisa dipastikan. Menurut informasi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), korban mencapai 31 orang. Sementara itu, PT Istaka Karya mencatat, ada 28 karyawan di lokasi.

Sekretaris PT Istaka Karya Yudi Kristanto saat ditemui di kantornya menyampaikan, nama 28 orang tersebut belum bisa dipastikan. ”Jumlah 31 itu masih simpang siur. Kami masih akan pastikan ke aparat,” ujarnya.

Dia menceritakan, terakhir kontak terjadi pada Minggu pagi (2/12). Saat itu, para pekerja menginformasikan bahwa pekerjaan proyek akan dimulai. Di antara 28 orang itu, ada yang tinggal di base camp. Namun, ada pula yang berada di lokasi proyek karena jaraknya tidak terlalu jauh. ”Komunikasi dilakukan di base camp. Menginfokan perkembangan proyek karena di lokasi susah sinyal,” terangnya.

Kemudian, esoknya, PT Istaka Karya mendapat kabar bahwa terjadi hilang kontak dengan para pekerja di lokasi proyek.

Sebagai wujud belasungkawa, mulai kemarin sampai seminggu mendatang seluruh karyawan PT Istaka Karya mengenakan pita hitam.

Evakuasi Terhalang Kabut

Evakuasi terhadap warga yang menjadi korban penembakan KKSB di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, belum bisa dilakukan kemarin. Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group) melaporkan, tim evakuasi gabungan TNI-Polri yang berangkat sejak kemarin pagi dari Wamena belum dapat menjangkau Distrik Yigi. Danrem 172/ PWY Kolonel Inf Yonathan Binsar Sianipar mengatakan, tim evakuasi belum bisa melanjutkan perjalanan ke Yigi karena kabut tebal.

“Anggota rencananya bermalam di Mbua dan besok pagi (pagi ini, Red) baru melanjutkan perjalanan,” ungkap Binsar kepada wartawan di posko evakuasi di Makodim 1702/Jayawijaya kemarin.

Tim juga akan mengevakuasi anggota TNI yang gugur dalam penyerangan pos TNI di Mbua. Binsar menyatakan, kelompok yang diduga melakukan penembakan sangat mungkin siap menghadang tim gabungan. “Mungkin kami akan sedikit lama untuk masuk Yigi. Namun, kekuatan kami cukup besar, sekitar 250 personel yang diterjunkan,” tandasnya.

Perjalanan tim evakuasi dari Wamena ke Distrik Mbua sempat mendapat gangguan dari KKSB. Menurut Binsar, tim evakuasi sempat ditembaki anggota KKSB. Namun, dengan bantuan anggota yang menggunakan helikopter, pos TNI di Mbua dapat kembali direbut dan KKSB melarikan diri meninggalkan pos tersebut.

Kapolres Jayawijaya AKBP Jan Bernard Reba mengungkapkan, korban penembakan diperkirakan masih ditahan KKSB di Distrik Yal. “Kami juga mendapat informasi bahwa KKSB ini sudah bergabung dengan masyarakat di Mbua dan Mugi. Sehingga perlu hati-hati dalam penindakan,” tuturnya. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (bay/far/idr/nis/syn/jo/el/nat/c5/c9/oni)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Pelaku Pembantaian di Papua Diduga Kelompok Separatis Lama