alexametrics
31 Pekerja Trans-Papua Dibantai KKB

Fahri Pertanyakan Keamanan dan Operasi Intelijen di Papua

4 Desember 2018, 16:19:17 WIB

JawaPos.com – Pembantaian 31 pekerja proyek trans-Papua oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) menjadi pukulan telak bagi pemerintah. Penembakan sadis itu terjadi ketika pekerja sedang membangun jembatan di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua.

“Ini pukulan telak. Pukulan yang luar biasa. Karena dalam keadaan kita sedang membangun di Papua tiba-tiba kejadian ini,” kata Fahri di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (4/12).

Politikus senior PKS itu pun meminta pemerintah langsung merespons kejadian itu. Aparat juga harus bisa mengungkap motif dari penyerangan KKB tersebut.

OPM
Anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) diduga menjadi dalang dari pembantain 31 pekerja proyek Trans Papua. (istimewa)

“Kenapa bisa ada kelompok bersenjata seperti ini datang menyergap orang lagi kerja, bagaimana sistem pengamanan kita selama ini? Bagaimana sistem operasi intelijen selama ini? Kenapa tidak bisa mendeteksi dan memantau adanya pergerakan orang bersenjata?” tuturnya.

Tak hanya itu, Fahri menyebut kejadian ini bisa jadi berimbas kepada perekonomian dan keamanan bangsa. Para investor jadi takut lantaran tidak ada perlindungan yang baik dari otoritas setempat.

“Orang tidak ada yang mau bekerja. Apalagi mau investasi karena tidak aman. Jadi pemerintah harus segera memberikan keterangan dan pemerintah harus segera mengambil tindakan yang memberikan penjelasan kepada publik bagaimana pemerintah menghadapi masalah ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, pembantaian mengenaskan terjadi Papua. Kali ini menimpa pekerja pembuat jembatan Kali Yigi-Kali Aurak. Diperkirakan korban yang dibantai oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) mencapai 31 orang.

Buntut dari kejadian ini, Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memutuskan untuk menghentikan sementara seluruh pembangunan Jalan Trans-Papua Segmen V. Proyek tersebut memanjang sepanjang 278 kilometer, yang membentang dari Wamena sampai Mumugu.

Pembantu Presiden Joko Widodo itu sendiri belum bisa menentukan situasi force majeure ini akan diberlakukan hingga kapan. Saat ini pihaknya masih menunggu rekomendasi dari TNI-Polri yang sudah mengirim pasukan ke lokasi kejadian.

“Kami menunggu arahan Pangdam dan Kapolda. Tadi, saya ketemu Panglima TNI bahwa dua jam lalu sudah dikirim pasukan untuk mengecek,” imbuhnya.

Sementara itu, Basuki bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sore nanti akan menuju langsung ke lokasi kejadian untuk melakukan peninjauan langsung.

“Nanti, malam beliau (Panglima, Red) Insya Allah saya juga ke Wamena. Kalau memang perlu kami evaluasi,” tandasnya.

Editor : Fersita Felicia Facette

Reporter : (ce1/aim/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads
Fahri Pertanyakan Keamanan dan Operasi Intelijen di Papua