JawaPos.com - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berjalan dengan sangat baik. Berdasarkan hasil pemantauan Kementerian HAM bersama 20 kantor wilayah di berbagai provinsi, Pigai menyebut tingkat keberhasilan program ini mencapai 99,99 persen, sementara masalah yang muncul hanya sekitar 0,0017 persen.
“Kalau kita lihat hasil pantauan lapangan, penyelenggaraan MBG sejauh ini terlaksana dengan baik. Dari 34,31 juta orang penerima manfaat, deviasinya hanya 0,0017 persen. Artinya 99,99 persen pelaksanaan program ini berhasil,” kata Natalius Pigai saat menggelar konferensi pers di Gedung Kementerian HAM, Jakarta, Rabu (1/10).
Pigai menjelaskan, program MBG bukan sekadar kebijakan jangka pendek, melainkan strategi besar untuk menyiapkan generasi emas Indonesia menuju 2045. Ia menegaskan rakyat Indonesia harus sehat, kenyang, dan pintar sebagai syarat mutlak memenangkan persaingan global.
“Esensi dari program Makan Bergizi Gratis ini adalah menyiapkan bangsa Indonesia yang sehat, kenyang, dan pintar. Itu kebutuhan masa depan, bukan hanya untuk hari ini,” ucapnya.
Mantan Komisioner Komnas HAM itu juga menekankan, program serupa telah lama dijalankan di negara-negara maju. Ia menyebut Amerika Serikat, Jerman, Jepang, hingga India telah mengimplementasikan kebijakan makanan gratis sejak puluhan tahun lalu.
“Di Amerika, program ini sudah ada sejak 1942. Jerman, Jepang, bahkan India juga melaksanakan hal serupa. Maka wajar jika Indonesia hari ini ikut melaksanakan agar rakyatnya bisa sejajar dengan bangsa-bangsa besar dunia,” tutur Pigai.
Namun, Pigai tidak menampik adanya kendala teknis di lapangan, khususnya pada proses produksi, distribusi, hingga penyimpanan makanan. Ia menegaskan, masalah tersebut hanya terjadi di titik-titik tertentu.
“Pasti ada 1-2 problem dalam program sebesar ini. Tapi itu sifatnya sangat kecil, tidak merusak keseluruhan program. Bahkan di negara maju pun, program makan bergizi gratis tetap menghadapi kendala serupa,” ucapnya.
Pigai juga mengungkapkan sejumlah temuan positif dari tim Kementerian HAM di lapangan. Menurutnya, program MBG mendorong anak-anak lebih rajin hadir ke sekolah, meningkatkan konsentrasi belajar, hingga melatih budaya disiplin melalui kebiasaan antre dan menjaga kebersihan.
“Ada anak-anak yang walaupun kondisi fisiknya kurang sehat tetap datang ke sekolah demi bisa makan bersama. Artinya semangat belajar mereka tumbuh karena MBG,” ujar Pigai.
Selain itu, program ini dinilai berhasil membangun rasa solidaritas di kalangan siswa. Ia menilai, tidak ada lagi sekat antara anak dari keluarga mampu dengan anak keluarga ekonomi lemah, karena semua duduk bersama menikmati makanan yang sama.
“Kami menemukan adanya semangat kebersamaan yang tumbuh. Anak-anak dari berbagai latar belakang bisa makan dalam suasana setara, sama rata, tanpa perbedaan,” ungkap Pigai.
Lebih lanjut, Pigai menegaskan bahwa program MBG harus terus ditingkatkan kualitasnya agar manfaatnya semakin besar bagi generasi mendatang. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga keberlangsungan program ini.
“Program ini sudah terbukti berhasil 99,99 persen. Tinggal bagaimana kita memperkuat keterampilan, perekrutan tenaga terlatih, dan pemantapan sistem agar hasilnya maksimal untuk masa depan bangsa,” pungkasnya.